ResensiReview

Resensi Buku: Sabtu Bersama Bapak

Judul Buku: Sabtu Bersama Bapak

Penulis: Adhitya Mulya

Penerbit: Gagas Media

Tebal: 278 halaman

Terbit: Cetakan keempatbelas, 2015

 

Menghabiskan Sabtu Bareng Bapak, Apa Enaknya?

Menyimak judulnya, seperti tak ada kesan istimewa dari buku bersampul biru setebal 278 halaman ini. Untungnya gambar kover dengan huruf pada judul yang dominan serta ilustrasi kotak CD dengan empat wajah, plus nama penulis dengan warna kuning neon, cukup menarik perhatian. Apalagi nama penulis Adhitya Mulya, sangat familiar. Buku pertamanya berjudul Jomblo, menghebohkan dunia perbukuan Indonesai dan menjadi salah satu buku terlaris saat itu. Disusul dengan difilmkan dengan judul yang sama.

Setelah sepuluh tahun kemunculan Jomblo, buku kelima Adhitya Mulya ini  menjadi sesuatu yang menyegarkan. Seperti yang dijelaskan penulis di lembar Hatur Nuhun. “Cerita ini ditulis selama 2 tahun tapi dibuat sekama 36 tahun. Cerita ini dibuat selama saya menjadi seorang anak dari sebuah keluarga-dan menjadi seorang bapak dari sebuah keluarga.”

Cerita diawali dari kisah Bapak dan Mama yang menyiapkan video rekaman. Sang bapak yang menderita kanker divonis memiliki hidup cuma setahun lagi. Agar kedua anaknya yakni Satya dan Cakra atau Saka tetap imbang meski hidup tanpa Bapak, Sang Bapak memutuskan membuat rekaman berisi petuah dan nasihat hidup yang selalu diputar setiap Sabtu bagi kedua anaknya yang masih berusia SD.

Sekilas, kisah ini mengingatkan tentang Anjeli yang mendapatkan surat dari mendiang ibunya setiap kali merayakan ulang tahun. Bedanya, Anjeli diberi kesempatan untuk membaca surat sang ibu hingga usia 8 tahun. Namun untuk cerita ini, sang anak mendapatkan kesempatan mendengarkan rekaman video sang bapak yang bisa diputar setiap Sabtu, dengan materi berbeda. Hal ini terus berlanjut sampai sang anak kuliah bahkan ada video yang diputar saat sang anak hendak melangsungkan pernikahan. Bayangkan, berapa banyak video yang disiapkan sang bapak?

Kehadiran video rekaman mendiang sang Bapak ini sangat berpengaruh pada Satya dan Cakra dalam menyikapi hidup. Sang anak pun merasa Bapak mereka masih hidup dan menemani mereka tumbuh menjadi dewasa.

Apa yang Menarik?

Pesan yang disampaikan sang Bapak melalui video rekaman, menjadi bekal sang anak dalam menjalani hidup. Beberapa di antaranya dikisahkan pada halaman 48 mengenai soft skill. Simak apa yang diungkapkan tokoh Krisna, anak magang di perusahaan tempat Cakra bekerja. “….Saya melihat Bapak itu dekat kepada bawahan-bawahan. Dan dengan dekat, saya melihat mereka lebih mengerti perintah-perintah Bapak. Dan menjalankannya. Itu soft skill yang penting, Pak. Itu semua yang membawa karier maju, bukan karena pintar. Pintar belum tentu sukses. Lihat Bill Gates kuliah aja DO. Tapi jaid juga.”

Penggalan kisah ini mengantarkan Cakra bercerita tentang petuah Bapak melalui video rekaman. Cuplikan adegan dalam video rekaman, digambarkan dengan ilustrasi berbeda, yakni pinggiran halaman dengan ornamen film negatif atau lazim disebuit klise. Di sinilah, kerap kali alur bergerak mundur.

Hal menarik lain ada di halaman 80. “Mendiang Bapak telah mengajarkan pada anak-anaknya dalam sebuah posting, bahwa meminta maaf ketika salah adalah wujud dari banyak hal. Wujud dari sadar bahwa seseorang cukup mawas diri bahwa dia salah. Wujud dari kemenangan dia melawan arogansi. Wujud dari penghargaan dia kepada orang yang dimintakan maaf. Tidak meminta maaf membuat seseorang terlihat bodoh dan arogan. Saya tidak mau istrinya berpikir dia punya suami seperti itu.”

Penggalan kisah ini saat Satya merasa menjadi Bapak yang selalu marah-marah dan mengerikan di mata istri dan ketiga anaknya. Saat sang istri meminta Satya untuk tak pulang dari kapal tempatnya bekerja, Satya mulai berpikir, apakah ia telah menjadi bapak yang baik seperti yang diajarkan Bapak melalui video yang ia tonton setiap Sabtu?

Jodoh dan Parenting

Gaya penulisan novel ini memang unik. Sangat konyol dan lepas saat menjabarkan kisah Saka atau Cakra yang mencari jodoh. Sebalinya, saat menjelaskan kisah Satya menjadi sangat formil. Di sinilah beragam pengetahuan tentang parenting dijabarkan.

Pada kisah Cakra ada hal yang tak boleh dilewatkan tentang jodoh. Simak halaman 177. “Kalau kita ditolak kerja, kita mikir bahwa pendidikan kita gak cukup baik untuk perusahaan itu. Atau kualifikasi kita gak cukup untuk perusahaan itu. Hanya satu aspek yang dari kita yang gak cukup bagus. Pendidikan. Lainnya, kita masih bisa bangga kepada diri kita.”

Namun bagaimana bila seseorang ditolak cintanya? Ini ada di halaman 178. “Ketika ditolak seseorang, itu pusing. Soalnya orang cari jodoh itu kang ngeliat the whole package. Agamanya, kelakuanya, values yang dipegang, pendidikannya, materilnya. Ketika ditolak yang terasa adalah this whole package… gak cukup.”

Itu adalah curhatan Saka kepada mamahnya saat mengungkapkan rasa pesimisnya setelah menyatakan cinta kepada Ayu. Hmm bagi para lelaki, ini adalah hal yang sangat membebani pikiran bukan?

Ending cerita sepertinya tak perlu dijabarkan di sini bukan? Sungguh, mengetahui sebuah ending dari cerita yang menarik, akan merusak rasa keingintahuan untuk menjajaki lembar demi lembar novel ini. Biarkan saja imajinasi terhanyut pada setiap kata pada novel yang mudah dicerna ini. Dan temukan banyak makna. Maka tidak heran, jika beragam kisah yang ada di sini, menggambarkan ini sama seperti yang pernah Anda alami pada kehidupan nyata. (*)  


Resensi oleh Hilal Ahmad. Penulis adalah salah satu pewarta di Kota Serang, Banten.

Editor : Muhammad Iqwa Mu'tashim Billah
Tags
Lihat selengkapnya

Artikel Terkait

Berikan Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *