ResensiReview

Resensi: Jalan Puisi Sang Pelari

Judul buku: Pelajaran Berlari (kumpulan sajak)

Penulis: Didik Siswantono

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia

Cetakan pertama: September, 2015

xx + 100, hlm; 14 cm x 21 cm

 

biem.co – Ada sebuah ungkapan menarik—jika Anda mengiginkan ketenangan dan ingin berpaling dari gebalaunya hidup, maka pulang lah ke jalan batin, sebuah tempat di mana, pada suatu masa Anda pernah berdiam dan merasa bahagia berada di dalamnya. Di sanalah, Anda akan mendengar suara merdu masa lalu, suara kebahagiaan di masa anak-anak—hidup merdeka tanpa merasa terkekang oleh sebuah peraturan-peraturan, etika. Ya, ialah suara yang bersumber dari kebeningan batin yang merdeka!

 

Memasuki kehidupan masa lalu, atau setidaknya menoleh pada sebuah jalan di mana kita pernah melaluinya, bukan berarti kita akan menjadi cengeng dan anti terhadap sebuah zaman yang dengan gagah perkasa menguak segala pintu rahasia, sehingga menjadikan kita nyaris tidak memiliki ruang privasi. Tidak. Akan tetapi dengan melihat masa lalu kita akan menjadi tahu, dan kemudian membuat perhitungan demi menghadapi masa-masa yang akan kita hadapi nanti.

 

Memang, terkadang kita nyaris tak punya kesempatan untuk sekadar duduk bersandar, mengheningkan cipta dan rasa, baik dalam pikiran maupun dalam perasaan. Kita hidup di sebuah zaman di mana pikiran dan perasaan jarang terlibat dalam sebuah tindakan, demikian kata Toni Morrison dalam novelnya, Love. Bahkan, sambung penyair Octavio Paz, sudah cukup lama kita mengabaikan “suara lain” suara yang bersumber dari ke dalaman intuisi, yang tak lain adalah puisi.

 

Dengan mendengarkan suara lain itulah, lanjut, Paz, niscaya kita akan bersua dengan diri sendiri, diri yang selama ini terjebak dan tak dikenali bahkan oleh diri sendiri. Hanya di jalan puisi itulah segala hiruk-pikuk yang terjadi di luar pagar rumah kita akan berhasil diredam. Dan sebaliknya, suara-suara itu bisa kita jadikan sesuatu yang lebih berarti, setidak-tidaknya buat diri sendiri.

 

Lalu apa hubungannya keheningan dan kemerduqn suara masa lalu dengan buku kumpulan puisi Pelajaran Berlari, karya Didik Siswantono?

 

Sudah tentu berkait erat, mengingat latar belakang sang penulis, Didik Siswantono, setiap saat selalu berjibaku dengan angka-angka, dengan rutinitas sebagaimana terungkap dalam satu bait puisinya: Pelajaran Melipat Waktu, kita manusia berbaju rapi, ditakdirkan berkejaran dalam// angka. Terus berlarian melipat waktu memaci pagi yang// hujan, menunggangi petang menjali malam tanpa bintang.

 

Marilah sejenak kita membayangkan malam tanpa bintang, sebuah ungkapan yang teramat sederhana, namun justru dalam kesederhanaan itulah tersirat pesan agar kita tak terjebak dalam keriuhan dan rutinitas sehingga kita tak bisa menikmati sulur cahaya kehidupan dan atau memandangi riap bintang dalam pekatnya malam.

 

Beruntung, penyair Didik Siswantono, yang dalam sehari-harinya tak bisa berpaling dari kewajibannya sebagai bangkir yang senantiasa —berkejaran dengan angka— tidak mau terjebak dan senantiasa menyediakan waktu untuk sekedar mendengar suara puisi yang bersumber dari kedalaman batin. Ketika malam tiba, angka-angka, rutinitas, dan kepenatan pikiran pun sejenak ia tanggalkan di dinding kesunyian berpintu kerinduan, bertingkap keheningan. Didik, laiknya seorang pendekar yang baru saja bertolak dari medan perang, segera menikmati hangatnya suasana rumah sebelum akhirnya memasuki ruang puitik dan mendengarkan "suara lain" dari kebeningan mata bening, mata kerinduan:

Butiran beningmu mengalir di tanganku

lalu kubuat membasuh mata basahku

yang terlanjur digenangi rindu

(dikutip dari Sajak Rindu Sepanjang Malam)

 

Didik Siswantono sangat menikmati betul dan menyimak dengan saksama "suara lain" yang mungkin hanya ia dapatkan ketika dini hari menjelang. Ketika kesibukannya sebagai karyawan di sebuah bank, tak lagi kuasa merebut segala yang dimilikinya sebagai manusia yang lahir dan hidup di tengah-tengah lingkungan yang pada: sebuah pagi;// terjebak di antara pria-pria berdasi// menuhankan sebuah semoga// yang tak kunjung tiba. (Sajak Kaum Berdasi).

 

Membaca puisi-puisi Didik Siswantono, yang tak terbebani oleh "bahasa bersayap", kita dengan mudah bisa memahami dan menyelaminya, metafor yang sedemikian tenang meriak di telaga puisi-puisinya membuat kita semakin yakin, dan sulit kita membayangkan kata/kalimat puisi akan terungkap dari anggota de pe er, dari orang-orang yang selama ini berjibaku dengan angka dan untung rugi.

 

Namun tidak demikian dengan Didik Siswantono, setidak-tidaknya seperti narasi dalam puisi-puisinya. Membaca puisi-puisinya yang terhimpun dalam buku Pelajaran Berlari, kita tak hanya disuguhi kebersahajaan dan peggunaan bahasa yang sederhana, tapi juga ia mengingatkan bahwa hidup adalah pelajaran berlari tanpa henti. // kadang berhenti, mengatur hati, // lalu berlari lagi, dan berlari lagi.// sampai mati. (Pelajaran Hari ini).

 

***

 

Buku kumpulan puisi Pelajaran Berlari, yang dibagi menjadi tiga bagian, Sajak Rindu Sepanjang Malam, Pada Sebuah Perpisahan, dan Pelajaran Berlari, penyair Didik Siswantono seakan merentangkan benang pengikat antara masa lalu, Sajak Rindiu Sepanjang Malam, masa kini, Pada Sebuah Perpisahan, dan selanjutnya masa yang akan datang, masa di mana setiap kita tak mungkin bisa menghindar kecuali menghadapinya.

 

Alangkah beruntungnya kita yang senantiasa berpulang dan menjadikan masa lalu sebagai tempat bersandar bagi batin letih dan puisi yang tak enggan memberi. [*]


Resensi ditulis oleh Mahwi Air Tawar

Editor :
Tags
Lihat selengkapnya

Artikel Terkait

Berikan Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *