CerpenInspirasi

Cerbung Kholi Abas: Pesan Cinta Dandelion (Bagian 1)

Cerita Bersambung Kholi Abas

 

Maukah Kau Mendengar Ceritaku?

Di siang hari menuju senja, aku berjalan pulang. Pulang ke sebuah rumah. Rumah yang sangat nyaman dan aku sukai. Rumah sederhana model bangunan Belanda dengan banyak jendela terbuka. Rumah yang damai dan teduh, lagi sunyi. Pohon-pohon rindang mengapit kedua sisinya, dan aku nyaman berlama-lama di bawahnya. Halaman yang luas, persis keinginanku. Rumah idaman masa depanku. Ada satu hal yang indah lagi—yang perlu kuceritakan, rumah ini dekat dengan pantai. Sangat dekat. Bahkan debur ombak bisa dengan jelas kudengar setiap saat. Semilir angin pantainya pun sangat khas terasa.

 

Di suatu petang, aku tengah duduk di bawah pohon rindang di teras rumah. Mengamati sebuah buku yang takluk di tanganku. Entah buku apa, yang jelas aku sangat menikmatinya. Sambil mendengar debur ombak dan merasakan lembutnya angin, aku begitu hanyut dalam buaian kata-kata di buku itu. Aku merasa ada tatapan lain yang tengah memandangiku. Dari sudut yang lain di dalam rumah, kutemukan sosok dirimu tengah mengamatiku. Kamu, si pemilik mata tajam dan berwajah teduh, mengamatiku dengan senyuman khasmu.

 

Kaos putih polos yang kau kenakan membuat wajahmu terlihat lebih cerah. Senyummu masih bertahan ketika kau melihatku tertegun polos melihat ke arahmu.

 

“Kamu ngapain masih di situ, Li? Sini, ayo masuk ke rumah kita, udah mau magrib!”

 

Aku masih belum mengerti.

 

Rumah kita? Rumah siapa yang ia maksud. Terus, kenapa si pemilik mata tajam itu ada di sini? Di rumah yang dia bilang ini rumah kita?

 

Aku semakin sesak memikirkannya. Sebelum semuanya perlahan memudar dan gelap, sayup suara yang kukenal merambat halus.

 

“Li… Lion… bangun, Nak!” suara lembut itu menyadarkanku.

 

Yah, menyadarkanku dari sebuah mimpi.

 

“Kamu mimpi apa, Nak? Sampai keringetan gini sih, badanmu juga panas lagi.”

 

Aku tak bisa menjawab. Hanya tatapan mata yang sudah dipenuhi buliran bening yang bisa aku perlihatkan.

 

“Ibu… Dani, Bu. Dani…” aku terisak dalam pelukannya.

 

“Sudah ibu duga, yang bisa buat kamu kayak gini itu cuma Dani. Sabar, Nak, ikhlaskan,” Ibu semakin mendekapku erat. Aku terus terisak dan tenggelam dalam pelukannya.

 

Malam itu pun berlalu. Bulan telah kembali ke peraduannya. Tapi, rupanya matahari belum mau menunjukkan sinarnya.

 

***

 

Pagi ini mendung. Awan hitam tepat bergantung di atas langit kotaku. Kota Baja yang terkenal panas seantero Banten itu kini mendung. Mungkinkah akan turun hujan? Ah, haruskah sepagi ini? Kenapa harus hujan di saat seperti ini?

 

Hmmm, lihat saja, aku rasa tak akan turun hujan. Seperti biasanya, kota ini hanya dilalui awan hitam namun tak pernah menurunkan hujan. Tapi, dugaanku kali ini salah. Bulir-bulir air itu perlahan turun dan membasahi tanah yang kering. Menyapa dedaunan yang rupanya sudah sangat rindu dengannya. Hujan menyapu debu-debu yang tebal melapisi pagar rumah.

 

Ya, ternyata pagi ini hujan. Awalnya hanya berupa rintikan kecil, dan sekarang deras.

 

Huft… aku menghela napas panjang melihat tetesan air hujan dari sudut jendela kamarku. Dulu, setiap hujan datang aku selalu menyukainya. Bahkan aku sering menantikannya, layaknya tanah tandus yang merindukan hujan. Tapi, entah sejak kapan aku tak menyukainya. Aku tak suka jika hujan turun, karena itu akan membawaku kembali kepada kenangan-kenangan yang tak bisa aku ulang. Itu membuatku sakit.

 

Baiklah, daripada aku terus mengutuk hujan yang jelas itu adalah anugerah, lebih baik aku cari cara untuk bisa berdamai dengan hati ini. Aku susuri sederetan buku di rak kecilku. Kucari buku bersampul flanel biru itu. Rak bagian atas berisi buku dengan deretan judul para nama wanita luar biasa, Khodijah, Aisyah, Fatimah. Disusul buku-buku tentang pergerakan di rak kedua, kemudian buku-buku karangan Salim A Fillah yang begitu apik mengemas kisah para sahabat Nabi. Di rak kedua terbawah lengkap dengan novel-novel penuh hikmah seperti Hujan, Rindu, Pulang, buah karya Tere Liye. Tepat di rak paling bawah, koleksi album foto dan buku-buku bersejarah tentangku bertengger. History of me aku namakan rak terbawah itu, dan akhirnya kutemukan buku bersampul flanel biru dengan tulisan “All about you, Dandelion”.

 

Kubuka lembaran yang masih polos, dan aku mulai menuliskan kata demi kata untukmu. Tulisan ini, surat yang entah akan terbaca olehmu atau tidak. Tapi tak apa, setidaknya aku sudah menyapamu lewat tulisan ini.

 

Bismillaah…

Hai Dan, apa kabarmu? Lama, ya, kita tak saling sapa. Boleh kukatakan ini, Dan? Aku merindukanmu, sangat rindu. Ternyata benar kata Dylan, rindu itu berat. Apakah kamu baik-baik saja di sana? Aku harap kamu selalu dalam perlindungan-Nya. Kamu tahu, Dan? Aku di sini baik-baik saja. Tidak, Dan, aku bohong. Aku selalu mengatakan itu padamu ketika kau menanyakan keadaanku dulu. Tapi sesungguhnya aku tidak baik-baik saja di sini. Aku sakit, terlebih sejak kaupergi. Aku selalu ingat pesanmu dulu ketika kautahu aku berbohong, “Jangan katakan kamu baik-baik saja jika memang kamu sedang tidak baik, Liontin.” Aaah… kenapa aku masih sangat mengingat jelas semua tentangmu, Dan?

 

Dani, maukah kamu mendengar ceritaku? Bukankah kamu selalu antusias kalau aku bercerita? Bukankah kamu sering memintaku menceritakan segala hal, tentang apa pun itu? Kini, tanpa kaupinta, izinkan aku bercerita, ya, Dan. Bercerita tentang bagaimana aku pertama kali mengenalmu. Kau tahu, sosokmu itu sangat terkenal di kalangan kami kaum hawa. Siapa sih yang tak tau Dani Muhamad Firdaus, ketua organisasi ternama di kampus rakyat ini? Aku tak tahu persis kapan tepatnya pertama kali aku mendengar namamu, yang pasti itu di semester dua. Ketika aku memutuskan untuk bergabung dalam organisasi kemanusiaan, aku tahu kalau ketuanya adalah kamu. Tapi, seperti adanya diriku, cuek, aku tak terlalu peduli saat itu. Itu pertama kalinya aku mengenal namamu.

 

Di kisah berikutnya, tepatnya di malam hari yang dingin di bawah naungan rusunawa, aku kembali mendengar namamu. Waktu itu, aku dan ketiga kawanku tengah menunggu beberapa orang yang belum datang untuk latihan teater. Rupanya hujan malam itu membuat latihan kami harus tertunda. Latihan batal, tapi aku tak bisa pulang ke asrama. Aku terjebak hujan di asrama rusunawa ini. Asrama 3 yang terletak di ujung kompleks asrama ini akan cukup membuatku basah kuyup jika harus menerobos hujan. Hmmh… salahku sendiri, sudah tahu tinggal di kota hujan tapi payung pun aku tak punya. Bukan, lebih tepatnya tak mau punya karena sudah sering kali hilang di lobi asrama. Akhirnya, aku pun terjebak dalam obrolan para gadis. Awalnya aku hanya diam, sibuk dengan ponselku. Malas untuk nimbrung di obrolan mereka. Tapi, aku harus berbicara ketika pertanyaan demi pertanyaan Yamanef memaksaku untuk menjawab.

 

“Li, kamu tahu Dani?”

 

“Dani? Ketua kita itu?” tanyaku singkat.

 

“Iya, Li….” jawab Yaman terlihat sumringah.

 

Lagi-lagi aku hanya diam, mendengar Yaman melanjutkan ceritanya tentang Dani tanpa kupinta.

 

“Dani itu cool banget, yah, bener-bener dingin tapi…. Soalnya dia misterius banget. Udah gitu dia jalannya nunduk terus, jaga pandangan banget, deh. Hehehe.”

 

Aku masih diam, fokus dengan hujan yang tak kunjung reda.

 

“Tapi Li, cowok kayak dia mah banyak yang suka kayaknya. Soalnya aku sering denger nama dia disebut-sebut di kalangan akhwat lain. Denger-denger, sih, banyak yang naksir. Wajar aja, sih, udah saleh, jaga pandangan, pinter, cakep, ketua organisasi ternama lagi. Beuh… idola bangetlah itu, mah.”

 

Aku masih tak menggubrisnya, kapan hujan ini akan berhenti? Aku ingin pulang, dan terselamatkan dari obrolan gak guna ini.

 

“Kalau kamu gimana, Li?” tanya Yaman mengagetkanku.

 

 “Hah, apan? Gimana apanya, Man?” jawabku gelagapan.

 

“Yaa… gimana, kamu tertarik juga nggak sama Dani?”

 

Hish… pertanyaan macam apa ini?

 

“Enggak, tahu orangnya yang mana aja enggak. Lagian gue nggka suka sama cowok yang terlalu terkenal,” jawabku ketus.

 

“Liontin… jadi kamu belum tahu yang mana Dani? Deuh… aku udah cerita panjang banget ternyata kamu nggak tahu orang yang di-obrolin. Heuuuh… nanti, deh, pas week end kan kita ada olahraga bareng tuh seorganisasi, nanti aku tunjukin, ya.”

 

Akhirnya obrolan malam itu berakhir dengan meredanya hujan yang deras. Itu kedua kalinya aku mendengar namamu.

 

Tepat di Minggu pagi, saat matahari belum juga menunjukkan dirinya, aku dan teman-teman seorganisasi sudah berkumpul di lapangan sepakbola belakang tempat gym. Waktu itu langit masih sangat gelap, tepat 15 menit setelah azan subuh, kami sudah harus berkumpul di tempat itu. Huaaah… masih terlalu pagi memang, tapi itu sudah menjadi aturan di organisasi ini. Pemanasan pun dimulai, kami mulai merapikan barisan. Salah seorang senior yang berada di depan menyuruh sang ketua untuk memimpin senam. Lagi-lagi, aku tak perduli dan tak mau tau.

 

Tiba-tiba dari belakang Yaman mencubitku, “Li, itu yang namanya Dani. Itu yang lagi mimpin senam di depan,” bisiknya halus.

 

Aku hanya menoleh sedikit untuk melihat bagaimana rupanya Dani itu. Tapi, pagi yang masih gelap itu membuatku tak bisa melihatnya dengan jelas. Hanya sketsa tubuhnya yang aku lihat, kepalanya cepak bahkan bisa dibilang plontos. Badannya kurus dan tidak terlalu tinggi untuk ukuran laki-laki. Untuk kesekian kali, aku masih tak perduli bagaimana kamu dan siapa kamu, Dani. Itulah kali ketiga aku mendengar namamu dan pertama kalinya kulihat wujudmu walau tak jelas.

 

Itu ceritaku bagaimana mengenalmu, Dan, lalu bagaimana kau pertama kali mengenalku? Pertemuan-pertemuan kita selanjutnya di berbagai kegiatan organisasi, akhirnya membuatku tahu yang mana dirimu, Dan. Tapi, saat itu aku masih tak peduli denganmu. Aku tak pernah tahu tentangmu sebelumnya. Aku bahkan tak pernah mau tahu. Lalu, kapan aku mulai perduli tentangmu? Ingin tahu tentang dirimu? Lebih tepatnya, kapan aku mulai menyukaimu? Pastinya, bukan pada pandangan pertama seperti kebanyakan cerita FTV. Bukan juga saat pertama kali aku mengenal namamu. Kaumau tahu, Dan, bagaimana cara Allah menumbuhkan rasa itu kepadaku? Untuk yang pertama kalinya, akan aku ceritakan, tapi bukan sekarang. Aku rasa ceritaku hari ini cukup, ini sudah bisa mengobati kerinduanku padamu.

 

***

Dari sudut ruangan yang dingin, Liontin.

 

Huffft… aku menghela napas panjang lagi. Membenahi posisi duduk sembari menarik selimut. Udara pagi ini dingin, terasa sangat dingin sampai-sampai membuat napasku agak sesak. Aku merasakan ruangan memutar lagi. Badanku bergetar, buliran keringat keluar dari keningku. Oh tidak, vertigoku sepertinya kembali menyapa. Kututup buku biruku dan berusaha menyandarkan bahu ke dinding. Aku coba memejamkan mata, dan sekali lagi kutarik napas dalam-dalam. Waktu terus berlalu, tapi putaran ini masih tak kunjung reda. Bahkan semakin cepat. Allah, aku terus berusaha tetap tenang. Aku raba meja riasku, mencoba menemukan Betaserc dan akhirya kumenemukannya. Segera kutelan tablet Betaserc dan coba merebahkan tubuhku. Aku jadi teringat tentang nasihatmu dulu. Kamu paling tidak suka jika aku terlalu bergantung pada obat dan dokter. Katamu, obat itu hanya akan menambah deretan bahan Kimia yang tertimbun dalam tubuh. Dokter juga tidak bisa menyembuhkan, toh, dia akan bertanya tentang sakit apa yang kita rasakan. Cobalah obati dengan makanan, buah dan sayur serta pola istirahat yang benar. Hmm… lucu jika diingat lagi. Aku tersenyum kecil jika mengingat tentangmu.

 

Dan, memikirkanmu sesaat saja sudah membuatku seperti ini. Kamu jahat, Dan! Pergi begitu saja setelah rasa ini sempurna tertanam di hatiku. Kini, aku harus meneteskan air mata lagi karenamu. Esok, akan kuceritakan tentang bagaiamana aku mulai menyukaimu, Dan. Allah, aku merindukannya. Dia si pemilik mata tajam dan berwajah teduh.

Bersambung


Kholi Abas adalah nama pena dari Kholiyah. Kelahiran 18 Oktober 1993 ini gemar menulis. Cerita-ceritanya terangkum dalam antologi Gilalova 2, Gilalova 3, dan Toga di Tepi Jendela. Cerpen-cerpennya pernah dimuat di koran Radar Banten. Saat ini bergiat di lembaga kemanusiaan Dompet Dhuafa cabang Banten. 

Editor :
Tags
Lihat selengkapnya

Artikel Terkait

Berikan Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *