Sajak-sajak M. Rois Rinaldi

Sabtu, 21 Januari 2017 - 07:46 WIB
Dibaca: 8690 Pembaca

Reporter: Kiriman Pembaca
Editor: Muhammad Iqwa Mu'tashim Billah
Share with:
ads
Sajak-sajak M. Rois Rinaldi

PARA PEDAGANG

Bukan. Bukan agama. Peperangan
datang  dari pasar-pasar. Agama
hanya minyak. Para pedagang
menyalakan api.  Bukan. Bukan batas
negara. Batas negara  menjaga nyawa.
Di pasar nyawa hanya benda murah
dalam etalase. Kematian
sumber keuntungan dan permusahan
adalah jalan yang harus diciptakan
—menuju kedigjayaan pasar-
pasar itu.

Bukan. Pedagang bukan yang  tampak
di permukaan. Mereka hanya pesuruh.
Para pedagang  sembunyi di balik
kostum dan topeng. Tetapi
mereka tidak pernah jauh dari penderitaan
manusia. Mereka selalu hadir di tengah
kebingungan membawa angin
perdamaian sambil mengajari siapa saja
mengongkang senjata.

Datang. Mereka selalu datang. Mengingatkan
harga tanah.Harga samodra. Harga udara.
Mereka membuat benua-benua bertemu
dalam ketegangan. Mereka selalu berbisik
tentang ras para petarung dan suku-
suku abadi di bumi.

Ketika korban bertumbangan, tidak ada
satu pun manusia dapat menghentikan.
Mereka menanam kata persahabatan
di sepanjang pemakaman. Bendera putih
berkibaran di antara isak dan pekik. 

Viral! Viral!

Negeri-negeri telah dihubungkan
dengan  potongan tangan dan kepala.
Duka dikemas dalam sejuta iklan. 

Indonesia, 2016

 

SETELAH BENDERA ITU DIKIBARKAN

Sekarang Anda menyanyikan lagu kebangsaan
di negeri kami. Kami tidak mengenali lagu itu, tapi
Anda memaksa kami menyanyikannya.
Mulut kami terbata-bata mengikuti mulut Anda.
Ayah kami yang patah giginya Anda paksa juga.
Kami hanya berdaham ketika melihat ludah
di kopyah ayah. Kami yang tidak lagi punya hati
kepada hari-hari upacara  dijadikan
seremonial. Jiwa kami tidak ada harga. Tubuh
kami hanya patung hias. Dalam rencana-rencana
tersulubung,  kami tidak boleh teriak.
Karena kami menanggung hutang kepada Anda.
Tetapi bagaimana kami dapat mengembalikan
yang tidak pernah kami ambil?

Kami bicara kepada Anda dengan bahasa sandi.
Kami kehilangan suara dan tenaga
tidak berguna. Karena bendera Anda telah dikibarkan
lagu-lagu kami tinggal ratapan lelaki
yang selalu menangis di nada-nada minor.
Anak-anak memang masih merangkai bunga
tapi bunga-bunga itu masa depan
yang mudah gugur dalam permainan tangan.
Mereka tidak melihat kenyataan.
Kenyataan hanya ada di televisi.
Hanya dalam streaming yang Anda ciptakan
dari halusinasi peradaban tanpa haluan.
Anda hadirkan nama-nama pahlawan kami
sebagai masa lalu; cita-cita moyang sebagai
makhluk purba; dan setiap hal di hari ini juga
selanjutnya adalah milik Anda.

Kami beratus juta jiwa hanya buruh murah;
hanya petani yang kalah dalam perebutan tanah;
hanya nelayan yang terusir dari setiap laut;
hanya pegawai sipil kelas rendah; hanya petugas
partai yang diangkangi pemilik modal. Kami
beratus juta jiwa yang selalu diam ketika Anda
meratakan gunung kami. Anda rengggut
sawah kebun kami. Kami yang tidak lagi punya
pantai hidup di tanah-tanah landai.
Kami masih di sini karena angan-angan
tentang kemuliaan hidup dalam kemerdekaan
atau tidak untuk apapun.

Kepada anak cucu, kami menanggung dosa.
Karena warisan bagi mereka bukan tanah daulat
tapi ketidakberdayaan. Kelak mereka takkan tiba
di kubur kami. Tanah bagi kubur kami
tidak ada. Kubur kami ada di angin.
Jerit penyesalan kami menjadi mitos pada malam-
malam hampa di antara rengek bayi-bayi lapar
di rumah-rumah yang sepi kasih sayang.
Kami dalam setiap ingatan berwajah jelek
dan menjengkelkan. Selain itu tidak ada.
Karena sejarah Anda yang punya. Tulisan-tulisan
kami di dinding  gampang usang, sedangkan
jutaan hektar kertas yang Anda cetak
terus dibentangkan.

Nyanyikanlah. Nyanyikan lagu kebangsaan itu.
Di bawah bendera Anda kami patung hias.
Beratus juta jiwa kami terkungkung dalam tubuh
bertumbangan.

Indonesia, 2016

 

P L E D O I

Tenang.
Aku tidak di sini. Kepentingan di mataku
mati.

Duduklah
di singgasanamu. Duduk manis.
Kekuasaan

tidak menghinakanku. Tidak memuliakanku. 
Aku tidak dalam belenggumu.
Tubuh yang kau rajam ini

rangka. Aku terlepas dari kehendak
dan ketakutan.
Akulah

yang mengungkungmu. Kematianku
yang begitu kau damba
tidak akan membuatmu bebas.  Tidak

ada jalan bagimu
untuk berjarak dariku.
Kemana pun

kau berlari, aku arah yang mengantarmu
kepada kenyataan  yang bergerak
di antara masa lalu dan masa depan.

Hari ini bagimu
hanya ada aku.
Tidak peduli, kini, musim apa,

semua yang tumbuh di kepalamu
gugur seketika. Tinggal aku

yang hidup di sana.
Aku yang mengakar
dan menjalar!

Kau telanjangi aku, tapi hidup ini lebih telanjang.
Dalam telanjang begini jubah agungmu
tampak sungguh lucu. Aku tidak kedinginan.

Kau yang menggigil. 
Tidak. Di tanganmu aku tidak tersiksa.
Kaulah

yang tersiksa. Kesakitan-kesakitanku
mengganggu waktu tidurmu.
Menghilangkan
napsu makan.
Aku yang ingin kau kuasai,
telah menguasaimu.
Ketika
kau mengakhiri hari ini dengan darahku
kau budak
dalam kemerdekaanku!

Banten, 2014

 

AKULAH TAI

Akulah tai,
berselancar memenuhi spiteng.

Meski bau
aku kalis dari dosa.

Terjun
bebas dari dubur manusia.

Plung!

Kramatwatu, 2015


Muhammad Rois Rinaldi dilahirkan di Kramatwatu-Serang, 8 Mei 1988.  Semenjak Sekolah Dasar (SD) ia menekuni dunia perpanggungan sastra, sejak tahun 1998. Ia lebih banyak menulis puisi dan esai, sesekali menulis cerita pendek.  Karya-karyanya dimuat di berbagai media Nasional dan Internasional. Ia juga telah menerbitkan karya-karyanya dalam bentuk buku, di antaranya Terlepas  (Pustaka Senja, 2015), Sastracyber,  Makna dan Tanda (Esastra Enterprise, 2015), Noor Aisya: Karya & Kiprahnya (Pustaka Senja, 2015), Sang Kalamorgana (Sembilan Mutiara Publishing, 2013), dan Sepasang Angsa (Abatasta Publishing, 2012).

Dalam kurun waktu 17 tahun ia meraih puluhan penghargaan di bidang sastra. Puisinya, Nun Serumpun, menjadi puisi terbaik dalam malam Anugerah Puisi Dunia yang diselenggarakan oleh Nusantara Melayu Raya di Badan Pustaka dan Bahasa Malaysia, ia menerima Anugerah Puisi Dunia 2014.  Bukunya Sastracyber: Makna dan Tanda menjadi buku terbaik di Malaysia dalam kurun 10 tahun dalam malam HesCom 2015. Selain itu, dua tahun berturut-turut ia memenangi lomba menulis puisi tiga negara yang diselenggarakan oleh PBKS, 2011 & 2012.  Ia juga  memecahkan rekor sebagai penyair Asean pertama yang tiga tahun berturut-turut menerima Anugerah Utama Penyair Asean (E-Sastera Malaysia 2014, 2015, dan 2016).  Pada HesCom 2013 di Bali,  ia dinobatkan sebagai tokoh Sastra Indonesia.

Presiden Lentera Internasional dan pendiri Rumah Baca Bintang Al-Ikhlas Banten ini dipercaya oleh Gabungan Komunitas Sastra Asean (Gaksa) sebagai CEO Gaksa. selain itu ia dipercaya sebagai Direktur Kajian dan Pengembangan Puisi517. Rois dapat dihubungi melalui email rois.rinaldi.muhammad@gmail.com.

TOPIK → #Puisi 
Komentar Pembaca

Recommendation

Terkini

Sebanyak 107 Calon PPK se-Kota Serang Segera Jalani Tes

Bagi calon PPK yang sebelumnya pernah menjabat sebagai anggota PPK saat Pilkada Banten 2017, seru Fierly, peni...

Read more


Bupati Serang Pesimis Interchange Bisa Dioperasikan Tahun Ini

Pemkab Serang belum lama ini telah mengevaluasi tim penyelesaiaan interchange terkait komitmen perusahaan.

Read more


Hiburan

Hadapi Valencia, Sevilla Harus Mendominasi

Dari posisi klasemen Sevilla menduduki peringkat ke-5 dengan raihan 16 point. Sementara selisih dua point dari...

Read more


Taman Potret, Tempat Wisata Asyik untuk Narsis di Kota Tangerang

Tidak ketinggalan di taman ini terdapat fasilitas wifi gratis yang dapat sobat manfaatkan untuk berbagai kegiatan.

Read more


Tutorial

Tutorial Cara Edit Gambar Dengan Mudah Lewat Handphone

Kali ini kami akan membagikan cara untuk tidak perlu repot lagi mengedit dengan aplikasi di laptop atau komput...

Read more


Resep Bubur Sop, Makanan Khas Labuan Banten

Seperti namanya, bubur Labuan menggunakan sayuran sebagaimana membuat sayur sop.

Read more


Inspirasi

Wahyu Fahmi, Pembuat Konten Vidgram Komedi Dakwah

Wahuy_, berkarya saja terlebih dahulu urusan di-repost akun instagram yang popular atau tayangan televisi itu ...

Read more


Ahmad Yani: Dialog Identitas Ala Anies Baswedan

Anies sangat menyadarkan kita, dengan kata pribuminya telah kembali menempatkan pribumi sebagai identitas yang...

Read more


Review

Cari Kafe yang Nyaman dan Instagramable? Dadu Playroom Jawabannya

Kafe ini terletak di jalan Ahmad Yani No. 70, Cilegon.

Read more


Resensi Film: Pengabdi Setan 2017 “Ibu Datang Lagi”

Kematian sang ibu menjadi awal dari kejadian menyeramkan yang ada di dalam rumah.

Read more


Kolom

Lingga Yoni di Logo UIN SMH Banten

Entah kenapa, pikiran saya tak mau diam, saya merasa UIN Banten bisa memiliki visual logo yang lebih estetis d...

Read more


Catatan Irvan Hq: Menyepelekan yang Sepele

Banyak sikap kita yang menyepelekan hal-hal yang sepele, padahal berdampak besar pada kerugian yang tidak bisa...

Read more


biem

biem.co Partner Paling Tepat untuk Bisnis Anda

biem.co adalah partner paling tepat untuk membantu bisnis Anda.

Read more


Hari Jadi biem.co ke-2

Dalam sambutannya, CEO biem.co, Irvan Hq, memberi pesan kepada anak muda agar berani bermimpi dan berani mewuj...

Read more


top