CerpenInspirasi

Cerpen Gus Noy: Sebuah Pesanan Gambar Bangunan

Oleh Gus Noy

 

Pagi itu terasa sangat indah setelah saya menerima telpon dari seorang calon pengguna jasa saya sebagai arsitek mandiri. Sambil menikmati nasi kuning berlauk ikan bumbu pedas, masih terngiang-ngiang obrolan barusan, sekitar pukul 09.00.

 

“Apakah saya bicara dengan Mas Oji?”

“Ya, saya sendiri. Bapak siapa, ya?”

“Aku Demun. Mas membuka jasa menggambar bangunan sekaligus mengurus IMB-kah?”

“Bapak mendapat nomor saya dari siapa?”

“Dari kawan. Dari kartu nama Mas Oji.”

“Baiklah. Apa yang bisa saya bantu?”

“Ini, aku mau bangun sebuah rumah sekaligus ada minimarket. Luasnya sepuluh kali dua puluh meter persegi. Atau, di mana kita bisa ngobrol langsung?”

 

Kemudian Pak Demun menyebutkan suatu tempat pertemuan sore nanti. Saya sepakati saja karena dia calon konsumen pertama alias calon penglaris, dan, kata orang, konsumen adalah raja.

 

Indahnya pagi dibarengi dengan pesanan pertama pasca-PHK yang saya terima sejak krisis tambang dan migas. Suara bass Pak Demun terdengar lebih merdu daripada burung-burung koleksi tetangga saya, Ipul, yang bersenandung saban fajar menyingsing.

 

Di-PHK memang tidak enak. Gaji bulanan terhenti. Sebutan pengangguran berijazah D-3 menambah tidak enak. Memang, status honorer alias karyawan outsourching selalu berada di ujung tanduk, terlebih ketika saya mendengar beberapa rekan saya lainnya pun mengalami nasib yang sama, meskipun sudah menjadi karyawan tetap.           

 

Daripada malu pada para tetangga saya di Samarinda, akhirnya pindah ke Balikpapan berbekal tabungan, dan laptop baru (laptop lama milik perusahaan, dan sudah saya kembalikan). Saya mencoba mengubah nasib sembari berharap adanya peruntungan baru.   

 

Satu bulan pertama sama sekali tidak ada pekerjaan. Saya sudah menitipkan beberapa kartu nama saya pada Ipul, anak sulung pemilik indekosan saya. Berikutnya dua bulan. Kondisi tabungan saya mulai sekarat.

 

Sementara saya belum juga mendapat panggilan kerja atau, minimal, tes wawancara, dari beberapa perusahaan yang telah lebih 3 bulan saya kirimi lamaran melalui internet kantor (sebelum di-PHK, saya sudah mendapat bocoran info bahwa saya termasuk target PHK). Beberapa kali saya ke warnet, belum juga ada kabar dari perusahaan-perusahan itu.

***

Setelah menerima telpon dari Pak Demun, mandi, dan sarapan nasi kuning berbumbu ikan pedas di sebuah warung dekat indekosan, saya akan memulai nasib baru. Tujuan hari ini adalah ke kantor urusan perizinan, yang alamatnya saya peroleh dari Ipul.

 

Sekitar pukul 10.30 saya tiba di kantor urusan perizinan yang terletak di daerah Martadinata. Di sana saya menanyakan syarat-syarat mengajukan Izin Mendirikan Bangunan. Oleh seorang petugasnya, saya diberikan sepotong kertas berisi syarat-syarat mengajukan permohonan IMB, formulir, dan contoh gambar yang menjadi kelengkapan utamanya.

 

“Berapa lamanya proses pengurusan izin, Bu?”

“Sekitar dua sampai tiga bulan, Mas.”

“Terima kasih atas bantuannya, Bu.”

 

Saya pun berlalu dengan senyum simpul. Nasib baik rupanya sedang berpihak pada saya. Dalam hati saya menyebut nama Pak Demun dan mengucapkan terima kasih telah menjadi penglaris untuk saya. Juga kepada petugas di kantor perizinan yang ramah, dan mau memberi informasi.

 

Di sepanjang jalan pulang saya tidak berhenti mengucap syukur dengan suara yang teredam oleh helm berkaca gelap. Semoga Balikpapan benar-benar menjadi tempat yang tepat untuk perbaikan nasib saya. Kota yang bersih, dan pelanggan tetap Piala Adipura. Kota Internasioan yang layak aman-nyaman huni. Kota yang jauh lebih hebat daripada Samarinda. Semoga saya bisa segera berbagi rezeki lagi dengan keluarga di Samarinda.

 

Sekitar pukul 11.20 saya sudah kembali di indekosan. Di beranda terlihat Ipul sedang memandikan burung-burungnya. Dia memang rajin merawat peliharaannya, yang sering diikutkan dalam lomba burung.

 

“Bagaimana, Mas Oji? Ketemu, nggak, kantornya?”

“Wah, terima kasih lho. Ini baru dari sana,” jawab saya sembari menunjukkan ransel. “Tadi saya diberi syarat-syarat, formulir, dan contohnya.”

“Semoga sukses, Mas.”

“Nanti Mas Ipul saya beri persenan. Masih ingat waktu saya beri beberapa kartu nama saya, ‘kan?”

“Terima kasih sebelumnya, Mas!”

 “Semoga burung Mas juga sukses, juara tingkat Kaltim.”

“Wah, Mas Oji ini pengolokan, sekalinya. Tingkat Balikpapan saja belum pernah.”

“Ya, semoga kesuksesan diawali dari Balikpapan Beriman, Mas Ipul.”

“Terima kasih doanya, Mas Oji. Kita mulai dari Balikpapan.”

“Nanti sore saya mau ketemu calon penglaris saya. Doakan saja, ya, Mas?”

“Di mana?”

***

Pukul 17.15 saya dan Pak Demun bertemu di sebuah warung kopi. Dia baru pulang dari tempat kerja, rupanya. Terlihat dari seragam kerjanya.

 

Sebelumnya, sewaktu di kos, saya menghubungi Pak Demun. Saya meminta dia membawa fotokopi KTP sebanyak dua rangkap, fotokopi bukti penguasaan tanah sebanyak dua rangkap, fotokopi bukti pelunasan PBB tahun terakhir, dan sebuah map berwarna apa saja. Kesemuanya merupakan berkas yang disyaratkan, kecuali gambar bangunan yang menjadi tugas saya.           

 

“Ini Mas Oji. Coba diperiksa dulu,” katanya sembari menyodorkan map biru.

“Oke. Tunggu sebentar, ya, Pak.” Saya terima, dan segera membukanya.   

 

Fotokopi KTP, ada. Fotokopi surat bukti penguasaan tanah, ada, dan dalam bentuk segelan. Luas lahannya 15 x 20 m2. Tapi, fotokopi bukti lunas PBB-nya, tidak ada.

 

“Pak, fotokopi PBB-nya kok nggak ada?”           

“Belum keluar, Mas.”           

“Waduh, bagaimana, ya?”           

“Tanahmya aku beli sebulan lalu. ‘Kan, ada tanggalnya di segelannya, Mas? Nanti Mas beri tahu saja ke perizinan, PBB belum keluar. Mereka pasti maklum karena memang belum keluar.”

 

Segera saya melihat surat segel tanahnya. Ya, benar, tertera tanggalnya. Bahkan, belum genap satu bulan.

 

“Oh, iya, ya. Maaf, Pak. Maklum, ini baru pertama saya kerjakan.”

“Kira-kira berapa lama jadinya?”

“Maksimal tiga bulan, Pak.”

“Bisakah dipercepat? Maklumlah, Mas, biar cepat jadi tempat usaha.”

“Nggak tahu, Pak. Saya baru kali ini mengurus IMB.”           

“Soal biayanya, berapa?”           

“Sepuluh kali duapuluh kali limabelas ribu rupiah, Pak.”           

“Tiga ribu, totalnya, Mas. Aku bayar DP-nya berapa?”           

“Duapuluh lima persen, Pak. Soalnya, nanti saya harus mencetaknya di kertas A2. Dan lain-lain sebagai tanda komitmen awal. Bapak juga harus tanda tangan di bagian kolom pemilik, kayak yang di contoh IMB.”           

“Duapuluh lima persen.” Pak Demun menghitung dengan pikirannya. Saya pun menghitungnya.           

“Tujuh ratus limapuluh ribu, Pak.”     

***

Pulang dari ketemuan dengan Pak Demun saya langsung mencari Ipul. Tidak susah karena indekosan saya berdampingan dengan rumah orangtua Ipul. Dia sedang menonton balap MotoGP di ruang keluarga. Orangtuanya tidak kelihatan. Mungkin pergi ke hajatan tetangga, yang terdengar cukup nyaring nyanyian dangdut dari si biduanita dan musik elektonnya selepas magrib.           

 

“Oh, iya, Mas, di depan kamar Mas sudah menunggu kawan Mas. Baru sekitar sepuluh menit.”           

“Terima kasih, Mas Ipul. Ini ada persenan untuk Mas Ipul. Sesuai janji saya. Tapi setengahnya dulu, ya?”           

“Waduh, merepotkan sekali.”           

“Ah, Mas, ‘kan, sudah membantu saya jadi marketing bayangan?”           

“Ha-ha-ha… Marketing bayangan! Terima kasih lho, Mas Oji. Senang berbisnis dengan Mas Oji.” Dia menerima pemberian saya sebesar Rp150.000,00 dengan wajah berbinar-binar. Lalu dia mencium uang itu.           

“Lumayan untuk beli kurungan baru, dan jangkrik, Mas.”           

“Ya, semoga cita-cita Mas Ipul kesampaian.”           

“Diawali dari Balikpapan Beriman!” kata kami serentak.           

“Saya langsung permisi. Nggak enak, ditunggu agak lama.”           

“Silakan, Mas Oji. Aku juga mau neruskan nonton. Mumpung baru kelas 250cc.”       

 

Saya bergegas menuju kamar. Dari koridor kos-kosan tampak seorang kawan saya yang sedang mengutak-atik gadget. Sarwan, rupanya. Kami pernah sekomunitas di Samarinda.           

 

“Sori, Bro, baru ketemuan dengan konsumen pertama.”           

Pantesan, dihubungi, nggak diangkat.”

“Oh, mungkin lagi di perjalanan pulang. Aku nggak pernah menerima telpon kalau lagi di perjalanan. Khawatir bahaya. Bisa repot kalau lagi sial, ‘kan?” ujar saya sembari membuka pintu kamar.           

 

Begitu pintu terbuka, saya memersilakan dia masuk. Kondisi kamar kos saya yang berukuran 3 x 3 m2 masih belum ada perabotan, selain kasur bisa di lantai, sebuah lemari plastik, dan meja tulis.           

 

“Dalam rangka apa ke Balikpapan?”           

“Solidaritas kawan-kawan. Ada rencana demo.”           

“Demo apa?”           

“Itu lho, pembukaan Kawasan Industri Kariangau. Teluk Balikpapan bisa terkena dampak akibat hutan-hutan sekitarnya ditebangi, dan dampak terakhirnya justru berbalik ke warga Balikpapan sendiri.”           

“Kapan demonya?”           

“Dua hari lagi. Kami harus rapat koordinasi dulu. Aku numpang di kosmu, ya, Ji?”

“Silakan, Bro!”

***

 

 

Empat hari saya baru bisa menyelesaikan gambar, mencetaknya, dan ditandatangani oleh Pak Demun pada sore harinya. Kepadanya saya katakan bahwa besok pagi saya akan mengurusnya ke kantor perizinan.           

 

Selanjutnya, sekitar pukul 10.00 saya sudah berada di kantor perizinan. Kondisi saya masih agak mengantuk. Mata merah, dan kantung mata membengkak. Saya mendapat nomor antrean ke-5.

 

Keberadaan Sarwan di kamar saya cukup menyita waktu. Ngobrol ke sana-sini, dan menemaninya bertemu kawan-kawan di Balikpapan. Setelah itu, pagi-pagi saya antar ke sebuah biro perjalanan di Kilometer Dua. Tidak lupa saya beri dia sedikit uang untuk tambahan bekal sebagai solidaritas dan berbagi rezeki.

 

“Nomor antrean kosong-kosong lima, di loket C.” Suara interpreter menggugah saya. Itu nomor giliran saya.

 

Saya beranjak dari kursi besi, khusus para antrean, menuju petugas yang sedang sibuk menyusun dan memeriksa map-map di mejanya. Setelah memberikan nomor antrean untuk dimasukkan ke tusukan baja daftar antrean, saya menyerahkan map dan gambar bangunan.

 

 “Sudah lengkap, Mas?” tanyanya sembari membuka map, dan memeriksa berkas-berkas.

“Sudah, Bu.”

“Lho, ini nggak ada fotokopi bukti pembayaran PBB tahun terakhir.”

Saya pun menjelaskan seperti apa yang disampaikan oleh Pak Demun. Dalam hati saya berharap, petugas sudi memaklumi, dan proses perizinan bisa dimulai dengan lancar.

“Wah, nggak bisa begini, Mas. Tetap harus ada fotokopi bukti pembayaran PBB-nya.”

“Waduh, bagaimana, ya, Bu?”

“Ya, tetap nggak bisa, Mas.”

 

Seketika saya lemas di kursi itu. Jawaban petugas tadi seperti mencabut seluruh tulang dan otot. Apalagi beberapa pasang mata mengarah pada saya dan petugas itu.

 

“Mas, coba hubungi lagi orang yang minta Mas uruskan IMB-nya ini.” Suara petugas itu lumayan lembut, dan seakan mengembalikan beberapa tulang dan otot saya.

“Baiklah, Bu.”

 

Dengan kondisi masih agak lemas saya beranjak dari kursi. Saya melangkah gontai ke luar ruangan yang ber-AC itu.

Ternyata urusan perizinan begini di Balikpapan memang harus lengkap persyaratannya, pikir saya.

Tulalit! Tulalit!

Suara panggilan dari ponsel saya membuat saya kaget, dan terasa tulang-otot langsung lengkap dalam tubuh saya. Saya ambil ponsel dari saku kaus kerah. Dari Ipul, rupanya.

 

“Iya, Mas Ipul?”

“Mas, jangan pulang dulu. Tadi ada beberapa orang datang.”

“Lho, ada apa?”

“Mereka mencari Mas Sarwan. Tampangnya ganas-ganas!”

 

Aduh, ada apa lagi, gumam saya. Sarwan bikin masalah apa di Balikpapan ini. Atau masalahnya malah sejak dari Samarinda sana. Aduh, Sarwan, Sarwan! 

***

Di Taman Bekapai saya duduk menghadap air mancur bersimbol api. Lampu-lampu menambah keindahannya tetapi saya tidak bisa menikmati sebagaimana para pengunjung lainnya. Sementara suara anak-anak begitu ramai, berlarian mengelilingi lingkaran kolamnya.           

 

Saya sedang mengalami galau tingkat Kotamadya Balikpapan. Saya tidak tahu, kepada siapa saya harus mencurahkan keluh-kesah ini. Kalau saya sampaikan kepada keluarga saya di Samarinda, saya khawatir dampaknya terhadap pikiran dan perasaan orangtua.           

 

Ah, sungguh berat cobaan hidup ini, gumam saya sembari menghadap air mancur.

 

Pasalnya, barusan saya menelpon Pak Demun, dan menanyakan perihal bukti pembayaran PBB. Saya tidak mendapatkan jawaban yang berprospek baik.             

 

“Ya, sudah. Kalau begitu, Mas kembalikan uangku.”

“Beri waktu, ya, Pak?”

“Setengah bulan setelah ini, Mas.” Pak Demun langsung memutuskan pembicaraan.

 

Seketika gendang telinga saya seolah ditendang oleh palu tukang batu. Seketika saya tidak ingin mendengar lagi suara Pak Demun. Seketika saya tidak berhasrat ketemuan dengannya.

 

Baru pertama mencoba, saya sudah harus mengalami semua ini. Belum lama mencoba perbaikan nasib dengan hijrah ke Balikpapan, persoalan pun datang bertubi-tubi. Dari kegagalan mengurus IMB, uang diminta kembali, bayang-bayang ketidakmampuan mengembalikan sesuai dengan batas waktu, dan bagaimana nanti kalau Pak Demun mengutus kawan-kawannya ke kos saya apabila saya gagal mengembalikan uangnya.

 

Belum lagi berurusan dengan orang-orang yang sedang mencari Sarwan. Orang-orang yang tampak ganas, kata Ipul. Tidak jelas apa duduk perkaranya, bisa jadi saya kena dampaknya.

 

Tulalit! Tulalit! Ini panggilan Mas Ipul, pikir saya.

“Iya, Mas?”

“Mas lagi di mana?”

“Bekapai.”

“Aku ke situ sebentar. Mas jangan ke mana-mana.”

Tut! Sambungan terputus.

 

Saya tidak bisa berpikir lebih karena tengah mangalami kelelahan berpikir. Perlahan-lahan saya menyandar dengan mengandalkan sebatang pohon di belakang saya. Tiba-tiba ponsel saya jatuh. Saya tidak jadi menyandar tetapi membungkuk untuk mengambilnya. Lalu kembali hendak menyandar.           

 

Pandangan saya seolah tidak berfungsi dengan semestinya. Air mancur di depan saya seolah sebuah animasi yang tidak berisi. Ramai derai canda anak-anak di sekitar saya seakan keriuhan nun entah di mana.

 

Saya tidak tahu harus berbuat apa. Saya tidak tahu harus bagaimana. Saya tidak tahu apa yang akan menimpa saya, dan nasib sedang berpihak kepada siapa. Jalan pikiran saya benar-benar buntu. Entah ke mana atau di mana ujungnya. Gelap menguasai pandangan saya. Senyap pun menyergap tanpa permisi.

 

Entah berapa menit saya terpejam, dan bergumul dengan kesenyapan di telinga. Tetapi saya segera tergugah ketika…

 

“Mas Oji!”

 

Saya membuka mata, dan telinga. Ipul berada di hadapan saya. Telapak kanannya hinggap di pundak saya.

 

“Eh, Mas Ipul.”

“Mas kenapa di sini? Kok sampai begini?”

 

Maka berceritalah saya tentang apa yang saya alami. Saya mencoba merincikan persoalannya tetapi sengaja tidak menyebutkan nama Pak Demun. Tidak lupa segala kekhawatiran saya pada kejadian-kejadian berikutnya. Ipul, yang sudah duduk di samping saya, mendengar secara saksama. Biarlah tercurah segala galau yang menghalau harapan saya.

 

“Proyek IMB Mas yang batal itu lokasinya di mana, sih?”

“Dekat parit yang sedang ada jalan barunya.”

“Wah, aku sering mencari kroto sampai ke sana, Mas. Terakhir, kemarin. Aku kenal orang-orang dekat situ gara-gara kroto. Kartu nama Mas Oji juga aku berikan ke orang-orang sana.”

“Ya, di situlah lokasinya, Mas Ipul.”

“Kalau tidak keliru, belum lama ini ada ribut-ribut. Satpol PP hendak menggusur sebuah rumah yang baru dibangun. Katanya, sih, nggak ada IMB-nya. Kata yang punya lahan, IMB-nya sedang diurus. Satpol PP tidak mau tahu kalau belum ada bukti surat IMB-nya. Seingatku, nama yang punya lahan itu adalah Demun. Beberapa kali disebutkan oleh orang-orang Satpol PP.”

 

Pak Demun? Saya pura-pura tidak bereaksi secara terbuka. Hanya saja dalam kepala saya seolah tampak Pak Demun sedang tertawa terbahak-bahak.

 

“Nama pemilik tanah itu siapa, Mas Oji?”

“Bu Jenab, Mas. Tapi, kok sampai segitunya, ya, Mas Ipul?”

“Balikpapan memang ketat, Mas. Bahkan, waktu itu aku dengar, kata Satpol PP, lokasinya proyek Mas itu masih dalam lingkungan hutan kota. Mana mungkin hutan kota bisa seenaknya dikavling-kavling.”

“Oh, segitu banget, ya?”

“Atau, coba kita tengok lewat internet deh supaya jelas, dan bisa Mas pahami. Di Taman Bekapai ini ada fasilitas wifi gratis, Mas. Coba kita tengok di laptop Mas Oji.”

 

Seketika mata dan telinga terbuka lebar, seluruh lemas lenyap, dan terasa debar dada saya meningkat. Saya mencari ransel yang berisi laptop saya. Tadi saya letakkan di samping saya.

 

Ipul bangkit, dan ikut mencari. Mungkin jatuh. Saya melongok ke bawah tempat duduk dari besi ini. Ipul pun berjongkok, dan meraba-raba. Hanya remang, dan menyentuh bunga-bunga. Lalu Ipul menyalakan lampu ponselnya. Sama sekali tidak terlihat keberadaan ransel saya.

 

Malam itu juga ransel berisi laptop saya sama sekali tidak kami temukan!

*******

Panggung Renung – Balikpapan, 2016


Gus Noy, tepatnya Agustinus Wahyono, lahir-puber di Kampung Sri Pemandang Atas, Sungailiat, Bangka (Babel), bersekolah menengah atas dan kuliah di Yogyakarta, dan kini menetap di Kelurahan Mekarsari, Balikpapan (Kaltim). Anggota Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Cabang Balikpapan yang juga pembuat karikatur pesanan ini sudah mengeluarkan buku berbeda genre, yaitu kumpulan cerpen, puisi, esai, gombal, dan kartun.


Rubrik ini diasuh oleh M. Rois Rinaldi.

Editor : Muhammad Iqwa Mu'tashim Billah
Tags
Lihat selengkapnya

Artikel Terkait

Berikan Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *