Irvan HqKolom

Catatan Irvan Hq: Gemblong Bakar

biem.co – Tren foto yang diupload di media sosial selalu kekinian seiring dengan waktu dan peristiwa yang terjadi saat itu. Di sekitaran Provinsi Banten misalnya, ada dua trending foto di media sosial yang cukup unik dan menarik perhatian saya, yang pertama pada bulan puasa Ramadhan yang lalu, banyak ditemukan foto kegiatan buka bersama dengan bancakan di atas daun pisang, dan menginjak hari kedua lebaran foto makanan tradisional Gemblong baik itu yang dibakar maupun yang digoreng banyak menghiasi media sosial.

Bukan ketupat dengan opor ayam atau sayur angeun lada yang membuat saya selalu bersemangat untuk bertemu dengan moment lebaran, tetapi ada tradisi memakan gemblong bakar yang disantap bersama semur daging yang jarang ditemukan selain pada hari lebaran. Gemblong adalah makanan yang terbuat dari ketan yang dimasak dengan santan kemudian dibentuk bulat panjang seperti lempengan tebal di atas daun pisang. Buat saya gemblong yang dibakar lebih terasa nikmatnya, kalau sudah disajikan saya bisa menghabiskannya tanpa sisa.

Rasa hangat adalah salah satu alasan yang membuat saya tidak bisa melupakan tradisi makan gemblong bakar yang dicocol dengan semur daging itu. Yang pertama adalah dari cara pengolahannya, gemblong baru dibakar ketika hendak disajikan sehingga masih terasa hangat saat disantap. Yang kedua adalah waktu memakan gemblong itu sebelum atau sepulang sholat ied dimana semua anggota keluarga berkumpul dan baru saja saling bermaafan sehingga ada kehangatan yang muncul diantara kami saat menikmati gemblong bakar itu. 

Manusia tidak pernah lepas dari kesalahan, baik itu yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Kesalahan adalah sesuatu yang wajar di saat kita hidup bermasyarakat, baik dengan anggota keluarga, saudara, tetangga, handai taulan, kawan ataupun rekan kerja. Namun ketika kita bisa menyikapi kesalahan tersebut dengan saling memaafkan, itulah yang luar biasa. Allah SWT bahkan menyuruh kita menjadi orang yang pemaaf (Al A’raf : 199), karena dari proses saling memaafkan itu akan memunculkan suasana yang harmonis penuh cinta dan kasih sayang. 

Kehangatan inilah yang mungkin dirindukan oleh hampir setiap orang di penghujung bulan ramadhan, semua seperti ingin kembali ke tanah kelahiran masing-masing, ingin berada ditengah orang-orang yang kita sayangi, kehangatan suasana yang penuh cinta dan kasih sayang ini dapat mengendurkan urat-urat syaraf yang kencang setelah sekian lama menghadapi kerasnya gelombang kehidupan. Apalagi kalau kampung halaman tempat kita pulang suasananya masih menyenangkan dan jauh dari kontaminasi, penduduknya ramah, udaranya segar, airnya yang dingin dan pemandangannya yang masih hijau. Sehingga jangan heran seberat apapun perjalanan ke kampung halaman, prosesi mudik selalu ditempuh oleh hampir semua orang yang berlebaran. 

Di sebagian besar masyarakat Indonesia, selain mudik, Idul Fitri juga ditandai dengan sesuatu yang baru, mulai dari sepatu baru, pakaian baru, motor baru, mobil baru, bahkan isi rumah seperti kursi tamu, kulkas, TV dan sebagainya diganti oleh yang baru. Tidak heran bila menjelang Idul Fitri uang yang mengalir dari Jakarta dan sekitarnya ke daerah bisa lebih dari seratus triliun rupiah. Salah satu pemicu budaya konsumtif ini tentu saja disebabkan oleh adanya kewajiban perusahaan memberikan tunjangan hari raya (THR) kepada setiap karyawannya. 

Seperti halnya mudik ke kampung halaman sebagai representatif dari kerinduan untuk kembali ke tempat asal usul dimana kita pertama kali dilahirkan, Idul Fitri juga berarti kembali ke fitrah atau kembali ke awal kejadian. Setelah melaksanakan ibadah puasa Ramadhan selama satu bulan diharapkan kita semua kembali seperti awal kejadian, dimana pada awal kejadian semua manusia mengakui bahwa Allah SWT adalah satu-satunya Tuhan (Al A’raf : 172). Setelah sekian lama dalam perjalanan hidup kita melupakan Allah dan melakukan salah dan dosa, Ramadhan bila dijalankan dengan sungguh-sungguh akan merubah kita menjadi manusia baru, seperti ulat yang bermetamorfosis menjadi kupu-kupu dengan bentuk yang baru, yang indah, yang mempunyai semangat yang baru, tekad yang baru, keinginan baru untuk membangun kembali pengabdian kita hanya kepada Allah semata. 

Dosa merupakan catatan keburukan di sisi Allah yang telah dilakukan manusia karena mereka tidak menjalankan perintah atau melanggar larangan Allah dan Rasul-Nya. Dosa kepada Allah dapat terhapus dengan jalan bertaubat dan kepada sesama manusia dapat terhapus dengan silaturrahim. Ketekunan kita menjalankan puasa hanya untuk mencari ridho Allah niscaya akan mengikis dosa-dosa yang sudah kita lakukan. Momentum Hari Raya Idul Fitri menyempurnakan kita untuk menghapus dosa kita kepada sesama manusia dengan cara bersilaturrahmi saling memaafkan satu sama lain, dengan bersilaturrahim berarti kita menyambung kasih sayang baik kepada suami istri, kedua orang tua, anak, keluarga, kerabat, tetangga, teman dan relasi. Dengan memaafkan, tidak ada lagi kebencian dalam diri kita, dan Allah akan membukakan pintu surga bagi orang-orang yang memaafkan (Ali Imran : 134). 

Dengan demikian, keistimewaan Ramadhan dan Idul Fitri tahun ini ditentukan oleh diri kita masing-masing, apakah akan sama dengan tahun-tahun sebelumnya, atau kita sendiri yang membuatnya berbeda dengan tetap beribadah sekencang dan serajin ibadah di bulan Ramadhan, dan memaksimalkan Idul Fitri dengan bersilaturahmi, meminta maaf, memberi maaf dan menjadi seorang pemaaf, jangan biarkan kedengkian dan kebencian membakar jiwa kita yang telah putih bersih menjadi hitam di sana sini, seperti gemblong bakar yang siap disantap hanya untuk memuaskan selera dan mengisi perut hingga kenyang. Selamat Hari Raya Idul Fitri, Semoga amal ibadah kita diterima Allah dan kita kembali ke fitrah serta meraih kemenangan melawan hawa nafsu. *** 


Irvan Hqadalah CEO biem.co dan Ketua Umum Banten Muda Community. Di sela waktu padatnya bekerja di sebuah perusahaan, Irvan menyempatkan diri membuat tulisan ringan sebagai catatan dari berbagai persoalan sosial kehidupan yang terjadi di sekelilingnya. 

Editor : Muhammad Iqwa Mu'tashim Billah
Tags
Lihat selengkapnya

Artikel Terkait

Berikan Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *