InspirasiOpini

Faris Naufal Ramadhan: Penyair dan Panggungnya

Oleh Faris Naufal Ramadhan

Memanggungkan puisi adalah salah satu caranya, mengingat budaya masyarakat Indonesia justru adalah budaya tutur bukannya budaya tulis. Berkomunikasi secara langsung memiliki kekuatan yang lebih akurat untuk menyampaikan makna pada puisi. Tapi memanggungkan puisi tidak sesederhana menghadirkan puisi di panggung begitu saja. Butuh kemampuan, keseriusan untuk berlatih, dan kematangan pengalaman. Berikut saya ingin berbagi pengalaman yang bagi saya paling menarik dalam petualangan saya memanggungkan puisi. Tentu saya tidak hanya akan menceritakan mengenai panggung-panggung konvensional yang sudah sering terekam di media, tapi pula panggung-panggung sederhana yang mendadak saya hadirkan dengan bantuan beberapa kawan.

Saya akan mulai dari pengalaman saya ketika bertemu dengan kawan-kawan aktivis dan pegiat sosial. Selain kajian dan berdiskusi yang tentunya sudah menjadi makanan sehari-hari, pada satu momen saya ditantang salah satu kawan untuk membacakan puisi di sela-sela aksi atau demo yang mereka gelar di pinggir jalan raya yang terletak persis di depan balaikota dan gedung dewan yang berhimpitan, tempat walikota dan anggota sedang duduk manis dalam salah satu ruangan pada gedung tersebut.

Saya menggunakan toa agar jarak jangkauan suara dapat lebih jauh. Hasilnya lumayan melelahkan. Saya melakukan teriakan sampai hampir serak agar terdengar tidak hanya oleh massa aksi namun juga oleh para pengendara yang seliweran di jalan. Beberapa dari pengendara memperlambat laju kendaraan sambil terheran-heran memerhatikan. Bahkan salah satu pengendara motor ada yang ikut mendikte salah satu kata pada puisi yang saya bacakan. Sedang massa aksi yang biasa menyaksikan orasi, khusyuk berusaha menangkap setiap kata yang saya lafalkan. Apakah cara seperti ini efektif? Mungkin kisah Widji Thukul menjadi jawaban konkretnya.

Selanjutnya adalah kegiatan yang paling rutin saya lakukan, memanggungkan puisi di kedai kopi. Ada tantangan tersendiri ketika kita mencoba menghadirkan pembacaan puisi di sebuah kedai kopi. Kalau kedai itu ramai, maka kendalanya adalah suara kita akan kalah dengan gema suara orang-orang yang saling berbincang, lalu apa yang kita lakukan tidak diperhatikan. Kalau kedai itu sepi dan tenang, maka pengunjung yang biasanya menggunakan suasana itu untuk membaca atau menulis akan merasa terganggu konsentrasinya dengan kehadiran kita.

Maka solusinya kita harus berkoordinasi dengan pengelola kedai kopi untuk mengadakan satu sesi khusus pembacaan puisi. Memosisikan tata ruang yang memungkinkan bagi pengunjung untuk menikmati penampilan puisi, dengan alat yang diperlukan seperti mic dan sound yang cukup, juga tata panggung yang menarik. Kegiatan ini apabila rutin dilakukan dengan konsep yang matang, selain akan menarik perhatian orang-orang untuk berkunjung, juga dapat mengkampanyekan semangat berpuisi dengan cara yang halus. Tak jarang setelah saya tampil, pengunjung lain mengajukan diri untuk tampil membacakan puisinya sendiri atau puisi penyair lain yang ia idolakan.

Lalu yang beberapa bulan belakangan maraton saya lakukan, memanggungkan puisi pada seminar-seminar mahasiswa. Bagi saya, yang menjadi tantangan adalah menyesuaikan puisi agar masih sejalan dengan seminar yang berlangsung. Karena apabila puisi yang dibacakan tidak menjadi kesatuan dengan yang dibahas dalam seminar, maka peserta akan begitu saja melupakan apa yang saya sampaikan dalam puisi. Namun apabila puisi yang kita bacakan akurat, maka suasana seminar akan semakin panas oleh peserta yang terbakar semangatnya setelah menyaksikan pembacaan puisi yang kita tampilkan. Oleh karena itu ketika mendapatkan undangan dari panitia untuk mengisi pembacaan puisi dalam seminar, yang paling awal saya tanyakan adalah mengenai apa tema yang dibahas dan siapa yang menjadi pemateri, agar saya dapat menebak arah jalannya seminar.

Selain itu yang menjadi pengalaman paling menarik bagi saya adalah ketika berkesempatan memanggungkan puisi di forum warga. Yang paling pertama saya cari tahu adalah siapa yang akan menyaksikan pembacaan puisi saya, karena berbeda kalangan maka berbeda pula puisi yang mesti kita bacakan. Sekali waktu saya pernah membacakan puisi di forum warga di mana yang menyaksikan adalah para remaja. Ketika saya membacakan puisi, ada beberapa gadis yang tersenyum manis.

Betul saja selesai saya membacakan puisi, mereka langsung mengerubungi untuk meyakinkan saya betapa mereka sangat tertarik dengan puisi dan diakhiri dengan perebutan siapa yang paling pertama dapat jatah foto berdua. Selesai itu, mereka menuntut saya untuk segera berkunjung kembali untuk mengajarkan mereka membacakan puisi atau sekadar foto bersama lagi.

Pada kesempatan berbeda, saya pernah memanggungkan puisi di forum warga di mana yang menghadiri acara kali ini adalah bocah-bocah kecil yang mungkin masih menempuh sekolah dasar. Yang membuat saya kaget adalah ketika nama saya dipanggil, para bocah langsung ikut maju ke depan dan mengambil posisi melingkar persis di hadapan saya tanpa ada jarak. Saya yang kala itu membacakan puisi berjudul “Ibu” karangan D. Zawawi Imron jadi geleng kepala karena begitu saya mengucapkan judul, sontak para bocah menyahut “cieee”. Dan langsung saja saya berinisiatif untuk membacakan puisi secara interaktif.

Ketika sampai pada larik yang mengucapkan “ronta kenakalanku” saya menatap salah satu bocah laki-laki yang paling berisik. Dasar bocah yang tak kehabisan akal untuk balik mengerjai, ketika saya mengucapkan larik “langit biru”, si bocah tadi langsung menyahut “mas, langitnya hitam”. Kejadian lucu itu ditutup dengan para bocah berlomba merebut buku puisi yang saya pegang untuk bergantian saling membacakan. Mereka terlihat sangat antusias menunjukkan bahwa bakatnya soal membaca puisi tak kalah dengan saya.

Yang tidak kalah menarik adalah ketika forum warga yang saya hadiri diisi oleh para ibu-ibu di desa. Pada puisi pertama, saya membacakan dengan pelan dan khusyuk untuk menciptakan suasana haru. Namun yang saya temukan adalah raut wajah ibu-ibu yang menahan tawa sambil menyenggol teman di sebelahnya untuk diam. Walhasil saya berkesimpulan bahwa sesungguhnya ibu-ibu tersebut tidak terlalu paham dengan kata-kata yang saya ucapkan. Sontak saya berinisiatif untuk membacakan puisi kedua dengan teatrikal yang atraktif.

Begitu saya melantangkan judul, salah seorang ibu hampir terloncat dari tempat duduknya sambil mengelus dada yang disambut gelak tawa ibu-ibu yang lain. Mereka terlihat sangat terhibur dengan gerakan teatrikal yang saya lakukan terbukti dengan tepuk tangan riuh mereka bahkan ketika puisi yang saya baca baru sampai pertengahan bagian. Saya mengakhiri puisi dengan melemparkan kertas dari puisi yang saya bacakan, mereka kembali terkaget dan memberikan tepuk tangan yang lebih bergemuruh lagi. Ketika saya berada di jalan pulang menuju kota, saya mendapat kabar dari panitia kalau ibu-ibu tadi menanyakan keberadaan saya dan mereka meminta saya untuk mengajarkan anak-anaknya membaca puisi.

KOLABORASI

Masyarakat penikmat pertunjukkan hari ini menuntut sesuatu yang lebih dari sekadar pembacaan puisi secara tunggal. Melihat penampilan seorang penyair pada kali pertama tentu akan sangat menarik. Tapi melihat penampilan itu berkali-kali dengan gaya dan cara yang sama tentu malah membosankan jadinya. Pada kesempatan inilah diperlukan eksplorasi penampilan seorang penyair untuk menciptakan cara-cara baru dalam menghadirkan puisi di panggung. Saya beruntung beberapa kali berkesempatan membacakan puisi dengan cara berkolaborasi dengan kawan-kawan lain.

Tentu sudah biasa apabila kolaborasi itu dilakukan oleh sesama pembaca puisi, tapi yang menjadi menarik adalah ketika kolaborasi yang diciptakan menghadirkan unsur selain puisi. Salah satu yang menjadi favorit penonton adalah kolaborasi puisi dengan iringan musik. Bahkan ketika saya diundang, panitia sering kali khusus meminta agar pembacaan puisi saya diiringi musik. Saya tidak sembarangan memilih teman untuk mengiringi saya, biasanya saya menyempatkan waktu khusus untuk latihan memadukan antara pembacaan dengan musik yang mengiringi.

Sang pengiring pun khusus menciptakan komposisi baru yang sesuai dengan puisi guna menciptakan suasana yang diharapkan secara mendalam. Dan hasilnya, antara pembacaan puisi dengan musik yang mengiringi dapat saling mengambil perannya dalam menciptakan penampilan yang memukau. Saya sering sengaja memberikan sejenak waktu pada sela-sela pembacaan puisi agar penonton dapat menghayati iringan musik yang dilantunkan.

Yang memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi adalah ketika saya berkolaborasi dengan kawan-kawan teater dan tari. Latihan berhari-hari kami wajibkan untuk menampilkan suguhan pertunjukkan yang maksimal. Dibutuhkan pengertian satu sama lain untuk tidak serakah dalam mengambil peran, agar pertunjukkan dapat berjalan dengan padu. Antara pembaca puisi, aktor, dan penari harus menampilkan satu tema yang linear agar penonton dapat menikmati dan bukannya malah kebingungan memaknai pertunjukkan.

Saya harus benar-benar mengerti tempo yang digiring oleh kawan-kawan agar penonton tidak merasakan patah ketika kami berganti giliran. Mempertontonkan sebuah pertunjukkan lintas bidang tanpa terkesan gado-gado membutuhkan kepekaan untuk saling menghidupkan suasana. Saya pribadi harus benar-benar menjaga mood dan meredam ego ketika para aktor dan penari mengiringi pembacaan puisi saya dengan perannya masing-masing. Mungkin ini menjadi hal baru bagi masyarakat penikmat pertunjukkan, namun eksperimen ini rasanya wajib dikembangkan agar puisi dapat beradaptasi di berbagai panggung yang tersedia. Makin banyak panggung dapat memberikan ruang bagi puisi adalah kabar baik bagi masa depan sastra.

Yang terakhir ingin saya tawarkan adalah memanggungkan puisi di depan kamera. Tentu bukan hanya mendokumentasikan pembacaan puisi di depan umum dalam bentuk video, tapi juga benar-benar menciptakan video khusus untuk menyuguhkan pembacaan puisi layaknya sebuah film. Hal ini perlu dilakukan karena hari ini masyarakat mulai menuntut keindahan secara visual dalam menikmati kesenian. Pula perkembangan teknologi mulai mengalihkan panggung-panggung konvensional pada panggung-panggung digital.

Dengan berbagai ruang yang terbuka lebar terutama lewat media sosial, seharusnya menjadi peluang yang dapat dimanfaatkan guna menyebarkan puisi secara lebih luas dan dikemas lebih kreatif. Tantangan bagi penyair adalah ketika di depan kamera, mereka tidak dapat menatap penontonnya secara langsung, mereka tidak dapat menyerap energi dari penonton yang menyaksikan. Mereka harus mampu menciptakan suasana pembacaan puisi yang hidup lewat komunikasi dengan penonton di balik kamera. Hal ini membutuhkan selain kefokusan sang penyair, juga kemahiran si pembuat video. Maka penyair dalam menyajikan puisinya juga perlu berkolaborasi dengan tim kreatif pembuat video.

Apabila cara ini berhasil, maka penyair menawarkan harapan baru untuk membasahi dunia puisi agar tak kunjung kering dari akrobatik kreativitas.

Selamat berkarya!


Faris Naufal Ramadhan, pemuda kelahiran Serang, 5 Februari 1997. Mengenal dunia sastra sejak Sekolah Dasar. Semasa SMA, aktif menekuni jurnalistik lewat rubrik pelajar GENEREKONS di Majalah Kebudayaan Ruang Rekonstruksi, Banten. Ia juga sempat aktif dalam kegiatan sastra di Teras Budaya yang diasuh oleh Komunitas Rahim, Cilegon dan kini sebagai salah satu pengurus Lentera Sastra Indonesia, atau yang lebih dikenal dengan nama Lentera Internasional. Ia lebih sering melahirkan karya berupa puisi dan cerpen. Puisi dan cerpennya beberapa kali terbit di media cetak maupun elektronik. Ikut terlibat dalam beberapa antologi puisi dan cerpen nasional. Kini kuliah di Universitas Brawijaya, Malang. Di kota yang sama, di tengah rutinitas perkuliahannya, ia bergiat di Komunitas Kalimetro, yang bergerak di bidang literasi, seni dan kebudayaan.


Rubrik ini diasuh oleh Fikri Habibi

Editor : Muhammad Iqwa Mu'tashim Billah
Tags
Lihat selengkapnya

Artikel Terkait

Berikan Komentar