InspirasiOpini

Udi Samanhudi: Menulis untuk Publikasi Ilmiah

Oleh Udi Samanhudi

Menulis untuk publikasi ilmiah merupakan bagian integral dari kegiatan penelitian yang lazim dilakukan terutama oleh para akademisi. Selain menjadi salah satu syarat wajib untuk kenaikan pangkat, kegiatan menuliskan hasil penelitian untuk dipublikasikan pada jurnal-jurnal ilmiah baik bersekala nasional maupun internasional juga merupakan wahana strategis bagi para akademisi dalam membangun citra diri mereka sebagai pakar pada bidang tertentu sekaligus penguat identitas profesional dalam dunia akademia.

Sayangnya, menulis untuk publikasi pada jurnal-jurnal bereputasi internasional terutama bagi para akademisi pemula tantangannya tidak sesederhana yang dimaui dan merupakan sebuah proses yang rumit. Salah satu kendala utama yang lazim dihadapi oleh para akademisi Indonesia yang ingin mempublikasikan artikel penelitian pada jurnal  bereputasi internasional adalah bahasa Inggris ilmiah (scientific English) yang sedikit banyak mengharuskan para penulis bersinggungan dengan kosa kata teknis dalam bahasa Inggris sesuai bidang keilmuan masing-masing.

Masalah lain berkait erat dengan minimnya pengetahuan seputar konvensi penulisan untuk jurnal ilmiah termasuk di dalamnya adalah organisasi atau susunan penulisan pada setiap bagian artikel yang ditulis seperti abstrak, pendahuluan, kajian pustaka, metodologi, temuan dan simpulan yang umumnya memiliki struktur penulisan yang berbeda antar disiplin ilmu.

Kendala yang juga tidak kalah penting adalah keterampilan para akademisi muda dalam mengekepresikan analisis kritis pada artikel jurnal yang ditulis sehingga lazim ditemukan tulisan artikel jurnal yang cenderung deskriptif tanpa sentuhan argumentasi yang kuat dari penulisnya. Tulisan yang  cenderung deskriptif dan analisis yang lemah yang diajukan untuk dipublikasikan pada jurnal bersekala internasional biasanya menjadi alasan kuat untuk para reviewer menolak tulisan tersebut.

Apa yang perlu dilakukan agar mampu untuk publikasi pada jurnal-jurnal bereputasi internasional? Selain terus memperbaiki penguasaan dan keterampilan bahasa Inggris ilmiah (scientific English), para akademisi khusunya akademisi pemula perlu untuk terus memperbaiki keterampilan menulis melalui beragam cara seperti modeling dari artikel yang telah lolos dipublikasikan pada jurnal yang ditagetkan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mempelajari bagaimana setiap bagian dalam jurnal artikel ditulis dari abstrak sampai dengan bagian kesimpulan. Hal yang juga tidak kalah penting untuk dilakukan adalah mempelajari ketentuan yang dibuat di setiap jurnal yang hendak dituju. Dengan cara ini, kita akan mengikuti aturan main yang berlaku pada jurnal yang kita tuju baik dalam hal penulisan setiap bagian pada artikel jurnal, huruf yang digunakan, jumlah kata, teknik pengutipan, penulisan referensi, dsb.

Tips yang juga menarik dan telah banyak dikemukakan para akademisi senior yang telah berpengalaman dalam publikasi ilmiah pada jurnal jurnal bereputasi internasional adalah memperhatikan bagian pada jurnal yang biasanya dilihat pertama kali oleh para reviewer yaitu judul dan abstrak. Judul yang singkat, padat, dan menarik biasanya menjadi cara ampuh untuk menarik para reviewer melanjutkan membaca artikel jurnal yang kita ajukan diantara ratusan bahkan ribuan artikel serupa yang ditulis oleh para akademisi dan peneliti lainnya di dunia.

Selain judul, abstrak yang memberikan gambaran utuh isi tulisan dan ditulis dengan singkat namun padat akan juga memungkinkan tulisan yang kita ajukan untuk diterima. Abstrak yang baik adalah abstrak yang menyajikan secara kritis dan dengan jelas masalah yang dikaji serta menunjukan pada pembaca mengapa masalah yang disajikan dalam tulisan yang kita ajukan menarik. Abstrak akan menjadi semakin menarik manakala solusi  atas permasalahan yang dikaji ditawarkan dan dijabarkan serta dipaparkan dengan jelas bahwa solusi tersebut efektif dalam menjawab permasalahan yang menjadi kajian.

Last but not least, tulisan yang menyajikan topik yang mengandung unsur kebaruan (novelty) dalam bidang kita masing-masing  adalah satu dari sekian alasan kuat untuk reviewer menerima tulisan kita untuk dipublikaskan baik dengan maupun tanpa revisi. Untuk kasus kedua (diterima dengan revisi) reviewer biasanya akan memberikan masukan (feedback) pada bagian yang dirasa perlu untuk ditambah atau dikurangi. Revisi juga biasanya diberikan oleh reviewer pada aspek kebahasaan terutama penulisan kalimat yang tidak jelas dan penggunaan kosa kata atau frasa yang dianggap kurang mewakili maksud penulis.

Bagaimana jika tulisan kita ditolak? Pelajari alasan reviewer mengapa menolak tulisan yang kita ajukan lalu kemudian coba perbaiki sesuai dengan feedback yang diberikan. Alasan utama sebuah tulisan ditolak biasanya  disebabkan oleh kurang jelasnya konteks penelitian dan alasan mengapa penelitian yang disajikan dalam tulisan kita penting. Akhirnya, perlu diingat bahwa tidak ada rumus jitu dalam hal menulis untuk publikasi ilmiah kecuali terus berlatih. Sebuah tulisan yang berhasil dipublikasikan disebuah jurnal bereputasi internasional bisa jadi merupakan tulisan yang sebelumnya gagal berkali-kali karena ditolak oleh tim reviewer. So, just keep writing!


Udi Samanhudi adalah Akademisi Untirta, Awardee Beasiswa LPDP program Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) Kemenkeu RI dan saat ini tengah menempuh studi doktoral dalam bidang Teaching of English for Speakers of Other Languages and Applied Linguistics, Queen’s University of Belfast, United Kingdom.


Rubrik ini diasuh oleh Fikri Habibi.

Editor : Muhammad Iqwa Mu'tashim Billah
Tags
Lihat selengkapnya

Artikel Terkait

Berikan Komentar

Lihat Juga

Close