Boyke PribadiKolom

Kolom Boyke Pribadi: Kader, Kedeur, dan Keuder

 

biem.co – Salah satu tugas yang diberikan Sang Maha Pencipta dan diemban oleh manusia adalah sebagai pemimpin di bumi. Atas alasan itulah, manusia sebagaimana mahluk hidup lainnya, diberikan kemampuan bereproduksi untuk melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan tersebut.

 

Kata 'pemimpin' dalam paragraf di atas bermakna umum dan berlaku bagi siapa pun. Tidak harus menjadi pemimpin negara atau pemimpin organisasi besar, karena kata pemimpin dapat disematkan kepada seseorang dalam komunitas terkecil, keluarga, misalnya. Dalam bahsa Melayu dikenal istilah 'beranak-pinak' untuk menggambarkan pertumbuhan keluarga, sejak dari keluarga kecil antara suami istri dengan anak, hingga keluarga besar yang melibatkan cucu, cicit, keponakan, dan lain sebagainya.

 

Jika dalam urusan rumah tangga generasi penerus itu dinamakan anak, cucu, cicit, maka dalam kehidupan organisasi, penerusnya akan dikenal dengan sebutan kader. Sekalipun memiliki makna yang tidak sama dengan anak ataupun keturunan, namun ada beberapa filosofi yang mirip.

 

Kader berasal dari kata cadre yang dalam bahasa Yunani memiliki arti bingkai. Sedangkan dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) kader didefinisikan sebagai salah satunya sebagai orang yg diharapkan akan memegang peran yangg penting dalam pemerintahan, partai, dan sebagainya. Sehingga bila dikaitkan dari bahasa asli dan maksud dalam bahasa Indonesia, kader dapat dipahami sebagai seseorang yang dapat membingkai kelanjutan organisasi. Itulah sebabnya seorang kader selalu diharapkan akan tumbuh berkembang dalam organisasi dan kelak diharapkan menjadi orang penting atau penentu dalam organisasi tersebut.

 

Sehingga, seolah telah menjadi hukum alam bahwa manusia menginginkan adanya generasi selanjutnya yang akan meneruskan gagasan, keinginan, dan harapan yang harus diraih dalam kehidupannya di dunia. Sementara, seiring perubahan waktu, selalu lahir gagasan baru yang bisa menggilas gagasan-gasasan lama yang telah dicanangkan oleh pendiri organisasi tersebut. Itulah sebabnya dalam teori organisasi modern diperkenalkan istilah 'visi' untuk sebuah gagasan besar yang butuh waktu untuk pencapaiannya. Bahkan ada seorang ahli yang menyatakan bahwa seharusnya visi memiliki jangkauan yang jauh ke depan, sehingga tidak mudah dicapai, dan ketika visi tersebut dicapai maka berhentilah tugas organisasi yang dibentuk atau organisasi tersebut harus melahirkan visi baru sebagai arah gerak yang akan dilakukan.

 

Selama proses pencapaian tahapan visi yang dicanangkan, mungkin membutuhkan beberapa periode kepemimpinan atau kepengurusan sebuah organisasi, sehingga dibutuhkanlah proses pengaderan yang bertujuan melahirkan personal yang dapat meneruskan perjalanan organisasi dalam mencapai tujuannya. Dalam konteks ini, dibutuhkan pihak yang mau menyediakan tangan, punggung, dan bahunya untuk mengangkat dan mendorong seseorang agar tampil ke panggung sebagai bintang baru dalam organisasi.

 

Namun, persoalannya, hari ini justru banyak terjadi ke-kedeur-an atau kebingungan dalam berbagai proses regenerasi kepemimpinan organisasi. Sang pemimpin yang masih betah sebagai pemimpin sehingga lupa waktu bahwa telah tiba saatnya untuk melakukan regenerasi, dan sang kader yang tidak sabar sehingga terlalu bernafsu mendorong bahkan mendongkel pimpinannya karena sangat bernafsu dengan kursi pimpinan organisasi.

 

Guna mengatasi itulah, perlunya ada seseorang atau sebuah organsisasi yang berperan menyediakan panggung guna memunculkan orang-orang yang memiliki bakat atau potensi tanpa harus antre dalam proses pengaderan karena seseorang atau organisasi tersebut memang tidak memiliki ambisi atau keinginan untuk tampil sebagai bintang yang dilihat orang. Dia bekerja hanya menunaikan pesan agama bahwa sebaik baik manusia adalah yang berguna dan bermanfaat bagi orang lain dan lingkungannya, sehingga visi yang dituju adalah melahirkan sebanyak mungkin aktor atau bintang baru yang baik dalam lapangan kehidupan. Dia percaya bahwa kebahagian hidup akan dicapai bila berhasil menempatkan banyak bintang baru dalam panggung tersebut.

 

Dalam hal ini, saya pribadi melihat bahwa Banten Muda dapat mengambil peran sebagai mana kisah ‘Tenzing Norgay’ yang saya baca dari buku Atribute karya Jammil Azzaini. Di sana dikisahkan seorang Tenzing yang menjadi pemandu atau pembuka jalan bagi Sir Edmund Hillary yang dikenal sebagai orang pertama yang menaklukan puncak Everest. Ketika ditanya oleh wartawan, "Mengapa bukan Anda yang disebut sebagai orang pertama karena tentunya sebagai pemandu dia berjalan di depan?"

 

Tenzing menjawab, “Karena itu adalah impian Edmund Hillary, bukan impian saya. Impian saya hanyalah berhasil membantu dan mengantarkan dia meraih impiannya.”

 

Artinya, Banten Muda, selama ini berperan mewujudkan impian banyak generasi muda, karena mereka memang bermimpi untuk menjadi sesuatu. Dapat dilihat dari beberapa pelatihan yang dilakukan oleh Banten Muda agar para pelajar memiliki suatu keahlian dan keterampilan. Karena dengan pengetahuan, keahlian, dan keterampilan yang mereka miliki, anak-anak muda tidak akan keuder (takut) menghadapi apa pun. Saya pernah melihat seorang anak muda yang berkata bahwa dia akan menghadiri sebuah acara kepemudaan di luar negeri dan akan berangkat sendirian mewakili Indonesia. Saya menatap bola matanya dan tidak sedikitpun ada ketakutan atau kekhawatiran dalam dirinya untuk berkunjung ke sebuah negara atau tera incognita (dataran asing) yang sama sekali belum pernah ia injak. Justru, saya  sangat jelas melihat keberanian, harapan, serta semangat yang menyala untuk menaklukkan masa depannya. [*]


biem

Boyke Pribadi, akademisi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Banten. Tulisan-tulisannya tersebar di berbagai media di Banten. 

Editor :

Related Articles

Berikan Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *