Fatah SulaimanKolom

Ini Esensi Hari Pahlawan Nasional di Mata Fatah Sulaiman, Kamu Harus Tahu!

biem.coSahabat  biem, hari ini tepat 10 November, sebagai bangsa Indonesia kita diingatkan kembali akan sebuah hari yang bersejarah, yaitu Hari Pahlawan Nasional. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pahlawan adalah orang yang berjuang dengan gagah berani dalam membela kebenaran. Dapat kita simpulkan, bahwa menjadi pahlawan adalah hal yang memungkinkan bagi setiap orang, tanpa harus mengenal latar belakang sosial, siapapun dapat menjadi seorang pahlawan. Namun, apa sebenarnya esensi Hari Pahlawan Nasional?

Nah, untuk membahas tema tersebut secara komprehensif, biem.co berhasil mewawancarai Dr. Fatah Sulaiman, salah satu tokoh pendidikan Banten yang sudah tidak asing lagi di mata anak-anak muda Banten. 

 Pria kelahiran 1968 itu, dikenal sebagai pria energik, cerdas, dan peduli terhadap pembangunan sumber daya manusia di Banten, khususnya anak muda di Banten. Dengan latar belakang pendidikan dari universitas ternama di Indonesia serta segudang pengalaman dan jabatan strategis yang beliau emban telah banyak memberikan sumbangsih nyata bagi Banten. Yuk, kita simak wawancara biem.co dengan beliau!

 

biem.co: Sebagaimana kita ketahui bahwa 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan Nasional. Nah, apa esensi kepahlawanan bagi bapak?

 

Dr. Fatah Sulaiman: Secara substansi, esensi kepahlawanan di era pembangunan saat ini dan di era perjuangan kemerdekaan dulu sama saja. Pahlawan adalah sosok manusia pejuang yang memiliki integritas, loyalitas dan pengabdian tanpa batas bagi bangsa dan negara, memberikan kontribusi nyata bagi kemaslahatan umat manusia sesuai dengan kapasitas dan peran yang dimiliki.

 

biem.co: Lalu, bagaimana seharusnya anak muda mengisi kemerdekaan?

 

Dr. Fatah Sulaiman: Banyak teladan yang telah ditunjukkan dan dibuktikan oleh para pahlawan bangsa kita yang dapat dijadikan figur oleh para pemuda kita saat ini, terlepas sosok pahlawan tersebut juga memiliki kelemahan sebagai manusia biasa, teladan baik itu bisa kita ambil, misalnya dari proklamator kita Soekarno-Hatta. Mereka adalah sosok pejuang yang lebih mengedepankan kepentingan masyarakat dan bangsa di atas kepentingannya sendiri, nasionalismenya tidak dapat diragukan, kepercayaan diri untuk menjadi bangsa yang merdeka dan mandiri dibuktikan dengan ketulusan dan kesederhanaan kehidupannya demi perjuangan membangun bangsa, pantang menyerah, visioner, berdedikasi tinggi dan selalu optimis dalam perjuangan, dan masih banyak keteladan dari pahlawan bangsa lainnya yang dapat dijadikan panutan oleh para pemuda saat ini, seperti kegigihan Jendral Sudirman, keteguhan prinsip KH. Hasyim Asyar’i, termasuk kiprah BJ Habibie, dan tokoh lain yang memiliki jiwa kepahlawanan.

 

biem.co: Apa pesan yang dapat bapak berikan terkait bagaimana kita meneladani para pahlawan?

 

Dr. Fatah Sulaiman: Di era pascareformasi ini, kompleksitas permasalahan dan tantangan perjuangan untuk membangun bangsa juga semakin besar, maka tentu saja jiwa dan sikap kepahlawan yang dimiliki oleh para pendahulu pejuang dan pendiri bangsa ini juga harus terpatri dalam jiwa dan semangat generasi muda kini, tumbuhkan terus semangat berjuang dan pantang menyerah untuk menjadi generasi unggul Indonesia yang siap mengabdi dengan kompetensi yang dimiliki, kejujuran dan ahlak yang mulia, menujukkan kepada dunia bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar dan bermartabat dalam mewujudkan pembangunan dan menghormati nilai-nilai kemanusiaan.

 

biem.co: Kita sering mendengar jargon “Indonesia adalah bangsa yang besar”. Menurut bapak di mana letak kebesaran Indonesia sebagai bangsa dan apa yang harus anak-anak muda lakukan untuk menjaga kebesaran bangsanya pada dunia?

 

Dr. Fatah Sulaiman: Generasi muda Indonesia yang memiliki sifat dan sikap kepahlawanan seperti yang dicontohkan para pejuang pendahulu, yang memiliki jati diri bangsa Indonesia dan memiliki pemahaman agama serta implementasi dalam kehidupan, berahlakul karimah, memiliki sifat jujur dan pantang menyerah, optimis menghadapi tantangan zaman serta memiliki, integritas, loyalitas dan pengabdian tanpa batas bagi kepentingan bangsa dan negara serta kemaslahatan umat manusia sesuai dengan kapasitas, kompetensi dan peran yang dimiliki, sangat potensial menjadikan negeri Indonesia menjadi bangsa yang disegani, bermartabat, dan menjadi rujukan peradaban baru manusia yang hidup berdampingan di antara bangsa-bangsa lain di dunia.

 

biem.co: Kita tidak bisa lepas dari budaya asing yang datang melalui arus globalisasi. Sebagai tokoh yang banyak mengenal budaya asing, menurut bapak, budaya asing seperti apa yang dapat merusak identitas nasionalisme kita? Apa saran bapak bagi anak-anak muda dalam mengantisipasi gempuran globalisasi agar tidak terbawa arus negatifnya?

 

Dr. Fatah SulaimanSebagai anak muda yang hidup di era kemerdekaan dan era persaingan global tentu saja harus mewaspadai masuknya nilai-nilai dan kultur dari berbagai belahan dunia, yang tidak sesuai dengan nilai-nilai, kultur, norma, agama yang hidup di negeri kita tercinta Indonesia, misalnya nilai dan kultur pergaulan dan seks bebas, minuman keras, permainan judi, hedonisme, yang di beberapa negara dianggap biasa, hal ini sangat bertentangan dengan kultur dan norma kita. Untuk menghadapi hal ini, perlu memperkokoh diri dengan memperkuat nilai-nilai jati diri bangsa dan pemahaman nilai-nilai agama yang dianut.

 

biem.co: Terima kasih banyak, Pak, atas saran-sarannya. Semoga anak muda, khususnya di Banten dapat melaksanakan saran yang telah bapak sampaikan. Terus berkarya dan berbagi inspirasi, ya, Pak. biem.co selalu siap mendukung. (ega/esih)

Editor : Esih Yuliasari

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button