HiburanSosok

Membaca Chairil Anwar

KOTA SERANG, biem.co — Nama Chairil Anwar di kancah perpuisian tentu sudah tidak asing lagi bagi kita. Meski sudah banyak penyair-penyair baru yang bermunculan, karya-karyanya tak pernah lekang oleh zaman. Chairil merupakan salah satu pelopor puisi modern pada saat itu, sehingga tak heran, puisinya masih sering dibawakan dan kerap menjadi percontohan.

Seorang Hasan Aspahani, yang juga dikenal sebagai penyair dan wartawan, mengajak kita “Membaca Chairil” lewat buku biografi tentang Chairil yang ia tulis. Hasan sedikit-banyak menceritakan bagaimana proses kreatif yang dilakukan selama menulis buku tersebut, dalam acara Kawah Literasi Rumah Dunia, kemarin.

Peraih penghargaan penulis terbaik pada sayembara buku puisi sampena tersebut menyampaikan bahwa dirinya menemukan beberapa fakta tentang Chairil. Pada tahun 1937, Chairil pernah ditangkap oleh Belanda karena membaca novel Layar Terkembang karya Sultan Takdir Alisjahbana dengan sangat nyaring. Ia pun mengirim surat kepada Jassin tentang keinginannya menjadi seorang sastrawan sewaktu dirinya berumur 15 tahun. Surat itu juga tertulis di bukunya yang berjudul Aku Ini Binatang Jalang. Bagian-bagian tersebut-lah yang kemudian Hasan tafsirkan sebagai jawaban dari alasan keinginan Chairil menjadi seorang sastrawan.

“Lewat pengalaman Chairil yang luar biasa ini, kita bisa tahu bahwa karya sastra ternyata ditakuti oleh penguasa,” pungkasnya. (HH)

Editor : Andri Firmansyah

Related Articles

Berikan Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *