CerpenInspirasi

Cerpen Alfian Putra Abdi: Gadis Pemburu Ketenangan

Oleh Alfian Putra Abdi

biem.co – SETELAH semalaman saling berbalas pesan di dunia maya hingga berbagi link video konyol dari Youtube. Sekarang kami beralih ke dunia nyata. Bersama sejenak menegasikan jadwal kuliah pagi untuk menapak bukit di Bogor.

 Anjani rela bolos matakuliah dan melewatkan kuis. Dia cukup santai, seperti dua hal itu bukan hal penting baginya. Masih ada esok hari untuk kuliah, katanya. Belum tentu besok hari kita bisa ke bukit ini, lanjutnya. Ucapannya janggal dan aku tidak paham dengan maksudnya.

Sementara aku, cukup meninggalkan matakuliah utama. Wajah dosen itu selalu membayangi pikiran dan ketakutan untuk mengulang tahun depan pun datang berbarengan. Hampir saja aku akan turun di Stasiun Cilebut lalu kembali ke kampus, jika tidak segera Anjani menggenggam erat tanganku. Setidaknya aku menjadi tenang.

Langkah kaki Anjani begitu mantap menanjaki Bukit Anteng, tidak takut tergelincir, mungkin tapak sneakers nya terbuat dari karet terbaik. Geraknya lihai nan ringan seakan daypack gembul yang digendongnya itu tak ada. Aku harus mengatur nafas dan meniti kaki, padahal sudah memakai sepatu tracking pinjaman seorang teman yang Mapala.

Butuh dua kali pemberhentian untuk Anjani supaya bisa sampai di puncak bukit. Bukan karena dia lelah, melainkan karena nafasku yang tersengal-sengal. Jujur saja pikiranku sudah melayang-layang dan pandangan berbayang. Namun aku malu mengakuinya, apalagi dihadapan perempuan.

Sesampainya di atas puncak, semua beban yang aku rasakan mendadak sirna. Benar kata Anjani, dari atas sini dunia bisa terlihat boroknya. Ada seorang prajurit tentara yang sedang berbaris digampar sinar mentari, tukang becak yang menyelinap sunyi di dalam tunggangannya, pegawai kantoran yang mengulur jam makan siangnya demi percakapan seputar bosnya, ibu-ibu penjual limun yang malas membeli buah dan menggantikannya dengan penambah rasa buah botolan, perawan yang sedang dikangkangi pacarnya di petak kontrakan, pegawai pemerintahan yang diam-diam masuk panti pijat di jam kerja, dan suami yang malah sibuk bermain judi bola demi terbebas dari rewelan sang istri di rumah.

Aku duduk di samping Anjani yang sedang memilah lagu untuk diputar. Tiga kaleng bir berada di sekitarnya, dengan ditemani berkantong-kantong makanan ringan, dan ganja. Lumayan banyak bawaannya, seperti dipersiapkan untuk waktu yang panjang. Sementara aku hanya membawa satu bungkus rokok putih dan satu liter air mineral kemasan. Tapi aku yakin Anjani tidak akan menghabiskan bekal bawaannya sendiri.

Setiap kali penatnya datang bergerumul dalam kepala, Anjani selalu ke tempat ini, dengan bekal yang hampir sama. Ada kalanya dia datang tanpa bir yang digantikan ciu, kadang tanpa ganja dan terpaksa menghisap tembakau sintetis, semua terjadi dikala tak punya cukup uang.

Alkohol dan ganja sudah menjadi keharusan setiap kali ke tempat ini baginya. Tanpa dua substansi tersebut dirinya tidak akan mendapat apa yang dicarinya di sini. Sebab bengong di atas bukit dengan hanya mendengarkan gesekan dedaunan dan desiran angin, tidak mampu memberikan ketenangan yang cukup lama untuknya.

Anjani suka Bob Marley, lagu pria gimbal itu yang sedang kami dengar sekarang. Baginya Marley menginspirasinya memburu ketenangan. Perihal pemburuannya itu juga yang membuat Anjani rela menempuh jarak Depok-Bogor demi sampai ke bukit ini.

Bukit Anteng memang cocok untuk mencari ketenangan. Dari stasiun kereta, perlu naik satu kali angkot lagi. Lalu turun di pom bensin, kemudian berjalan kaki menyusuri sawah, kebun pisang, pohon bambu, hingga menyebrang sungai kecil. Setelahnya kita perlu menanjak ke atas, melewati barisan pohon karet dan pinus untuk sampai di atas bukitnya. Jelas sudah tempat ini cocok untuk Anjani. Jarang sekali atau malah hampir tidak ada orang sama sekali di bukit ini.Kecuali kalau mereka semua senekad Anjani untuk berada di sini.

 

 

Sebelum tempat ini menjadi sering dikunjunginya, Anjani lebih dulu memburu ketenangan dengan beragam cara. Mulai dari menyibukan diri dengan bekerja dan mendapatkan uang, berbelanja, keluar-masuk restoran favoritnya, nonton festival musik; konser band mancanegara, pergi ke Pusat Jakarta untuk dugem, pesta sabu; ganja; alkohol, melakakun seks dengan berbagai gaya dan fetish dengan pacarnya, termasuk liburan ke luar negeri. Namun ketenangannya hanya bertahan sebentar. Gelisah dalam hidupnya kembali merasuk dan mengakibatkan murung.

Ketika kau tanya apakah bukit ini akan mampu memberi ketenangan yang lebih lama. Anjani enggan memastikannya, namun diberharap demikian. “Aku sudah hampir kehabisan cara untuk menenangkan diri,” keluhnya.

“Mungkin kamu harus kembali pada ajaran agama,” saranku. Aku merasa ketidaktenangan tersebut karena Anjani selalu melakukan hal yang tidak Tuhan sukai, sehingga hidupnya dirundung gelisah. Sedikit tidak enak ketika mengatakannya, tapi aku pikir perlu melakukannya.

Anjani tertawa. Dihisapnya kembali ganja yang telah dibakar lalu disemburnya langit cerah Bogor dengan asap itu. “Kamu anaknya pragmatis yaa,” ujarnya sambil menatapku dengan senyumnya yang khas. “Bagiku untuk mencapai ketenangan. Aku perlu terbebas dari materialistik dulu.”

Aku ingin berkata, kembalilah pada ajaran agama dan tuhanmu, namun aku takut kali ini merusak suasana. “Temanku selalu cecok dengan ibunya, karena dia seorang pengangguran. Ketika temanku mendapat pekerjaan dan gaji, hubungan mereka membaik,” ujarku.

“Tetanggaku yang kaya raya, pernah mengancam tetanggaku yang lainnya karena tidak kunjung membayar utangnya,” timpal Anjani.

Ada jeda di antara kami, hanya suara angin yang sesekali menghantam pucuk pinus. “Kamu tidak akan kembali pragmatis, bukan ?” tanya Anjani, memecah keheningan kami.

“Kenapa tidak ? Toh, Tuhan bukan benda.”

Sial, Anjani malah terpingkal-pingkal mendengarnya. Seakan-akan aku menyuruhnya menikmati jamur sapi di dalam kantor polisi.

Anjani melempar tatapannya dan seakan mendorongku. “Aku tidak akan melakukan sesuatu yang tidak akan pernah membawa ketenangan.”

Aku terkejut mendengarnya. Pantas saja kalau selama ini Anjani selalu dihinggapi kegelisahan. Dan bergerak serampangan demi ketenangan. Padahal, sumber dari segala ada didekatnya.

“Jika kamu masih kekeh. Bagiku justru sebaliknya. Aku harus mendapatkan ketenangan lebih dulu, baru beragama,” lanjutnya.

“Lalu mau sampai kapan lagi kamu memburu ketenangan itu ?”

Lagi dan lagi, Anjani tertawa mendengar ucapanku. Mungkin efek ganjanya telah bekerja.

“Entahlah. Aku hanya bisa meminta pada Tuhan, untuk segera diizinkan mendapatkan ketenangan itu.”

“Kamu berdoa ?! Pada Tuhan ?!”

“Bukankah Dia tempatnya kita meminta ?”

Aku melihat matahari menampikan dirinya di balik awan. Pinus masih bergemuruh karena angin. Kaleng bir yang kosong tergeletak di sekitar kami. Asap rokokku terbang menjabat langit. Aku dan Anjani menyambutnya dengan menyanyikan potongan lirik “Redemption Song”. Asap ganjanya menyusul asap rokokku.

Aku menjadi canggung didekatnya.

***

Aku menjadi sensitif dengan bunyi ringtone telepon pintarku belakangan ini. Berharap pesan itu darinya.

Setelah perjalanan pertama di Bukit Anteng. Aku dan Anjani kembali beberapa hari kemudian. O ya, langkah kakiku sudah bisa mengimbanginya. Bahkan kami berhasil mencapai bukit tanpa satupun pemberhentian. Aku membawa banyak makanan ringan dan termasuk bir, tanpa ganja, karena aku tidak berani membelinya. Anjani masih membawa dayback gembulnya. Dia hanya membaca dua potong roti isi, satu untuknya dan satu lagi untukku. Tidak ada ganja ketika itu, pun dia tidak menyentuh birku sama sekali, walaupun telah berkali-kali aku tawarkan. Kami membicarakan apapun tanpa musik yang mengiringi kami, kecuali gemuruh pinus seperti biasa.

Anjani lenyap tanpa bekas, kecuali satu ucapannya yang sangat menempel dibenakku. Aku sudah mulai kembali ketergantungan pada semua ini, katanya. Aku tidak berhasil menemukannya di kampus, kosan, rumah, tempat favoritnya, bahkan di atas bukit ini. 


Alfian Putra Abdi lahir di Jakarta, 16 Oktober 1992. Sulung tiga bersaudara yang lahir tanpa kemauannya di Jakarta pada 16 Oktober 1992, namun memiliki kemaluan sebagai pria. Lagi-lagi tanpa kemauannya sendiri diberi nama Alfian Putra Abdi -sesuatu yang ia syukuri daripada tidak memiliki nama sama sekali.

Sempat menumpang duduk di FISIP UPN “Veteran” Jakarta, kemudian mendirikan lemarikotazine.info, secara sadar mengasah ilmu jurnalistik di LPM Aspirasi dan terakhir membidani kolaga.net. Menyukai tempeh dan kretek, penikmat bir dan kopi amatir sekaligus paling buruk. Pengemban jargon #hidupadalahnongkrong.

Memiliki cita-cita yang besar: hidup di hari tua hanya dengan bercengkerama bersama keluarga juga sahabat, mendengarkan musik, membaca, menulis, dan (yang terpenting) tanpa himpitan utang bank.


Rubrik ini diasuh oleh M. Rois Rinaldi.


Berita Terkait :

Cerpen Nessa Dinata: Rahasia Toples-toples Istriku
Cerpen Wahyu Rusnanto: Pohon Gantung
Sajak-sajak Yadi Riadi

Editor : Esih Yuliasari

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *