InspirasiOpini

Udi Samanhudi: Kedai Kopi dan Praktek Literasi

Bagaimana dengan kedai kopi di sekitar kita?

biem.co — Sudah mampir ke kota-kota mana saja di Indonesia? Atau, kota-kota di negara-negara lain minimal di seputaran Asia? Pasti sudah ya. Atau, kalaupun belum, masih banyak waktu di depan sana untuk bisa berkeliling Indonesia, bahkan mungkin dunia.

Jika kita cermati, dihampir setiap kota baik di Indonesia maupun di negara-negara lainnya, tradisi ‘mangkal’ di kedai-kedai kopi sangat mudah untuk ditemui baik dari kalangan eksekutif, akademik maupun masyarakat umum, tua maupun muda. Di Jakarta, misalnya, kedai kopi menjadi salah satu ruang baru bagi para eksekutif muda sampai mahasiswa untuk melakukan berbagai jenis kegiatan yang salah satunya adalah baca tulis.

Dengan alasan kenyamanan, tanpa disadari praktek literasi semakin lazim kita temukan di kedai-kedai kopi. Sembari menyeruput nikmatnya rasa kopi hasil petik dan olah dari perut bumi pertiwi, kedai kopi telah menjadi salah satu ruang terbaik untuk kegiatan membaca berbagai jenis buku yang disukai, menulis tugas kuliah sampai diskusi–diskusi santai dan ilmiah berbagai isu yang tengah mewacana di media maupun di tengah-tengah masyarakat. Praktek literasi semacam ini pun menunjukan keluasan dan kompleksitas, maknanya sebagai sebuah keterampilan yang mensyaratkan kemampuan membaca kata dan dunia (from word to the world).

Seperti halnya di Jakarta, di kota-kota di Inggris Raya seperti di Belfast, kedai kopi telah menjadi salah satu ruang terbaik untuk menempa diri dalam kegiatan membaca dan menulis sebagai dua keterampilan dasar dalam sebuah entitas bernama literasi. Dengan statusnya sebagai salah satu kota pendidikan terbaik di UK, Belfast menawarkan banyak kedai kopi yang berpadu padan dengan tata letak buku-buku inspiratif yang terderet rapi di dinding kedai. Bahkan, sebuah kedai kopi bernuansa klasik ala Eropa sengaja dihadirkan dalam sebuah toko buku untuk menunjukkan betapa kedai kopi berperan penting dalam sebuah praktek literasi. Alhasil, selain perpustakaan kampus yang penuh sesak dengan para pencari ilmu, kedai kopi pun menjadi tempat yang eksotis dan laris manis untuk dirujuk warga yang hendak menggali ilmu baik melalui kegiatan baca tulis maupun berdiskusi akan banyak hal dari yang ringan dan sepele sampai urusan yang beraroma khas akademik.

Tidak hanya pemuda dan mahasiswa, orang tua dengan usia di atas 50 bahkan 60 tahun pun, lengkap dengan coat musim dingin yang berkelas dan topi khas ala-ala warga UK, masih dapat dengan mudah ditemukan di kedai kopi di kota Belfast. Mereka berdiskusi dan ngobrol santai seputar kehidupan yang justru kadang juga terdengar sangat akademik dan minim ‘gosip’. Yang tak kalah menarik, perangkat elektronik semacam laptop dan gawai juga masih menemani kegiatan literasi mereka di usia yang nyaris akan sampai pada puncaknya, approaching an edge.

Beberapa bulan belakangan, sebuah kedai kopi ternama di Inggris mengadakan acara tahunan yang mereka sebut ‘Reading Week’. Para orang tua, anak-anak, dan guru diundang untuk menikmati kopi dan jenis minuman lain secara cuma-cuma dan sepuasnya. Pihak kedai kopi ini kemudian meminta guru dan orang tua untuk berbaur mengajarkan anak-anak yang hadir membaca dan menulis serta berdiskusi sederhana isu-isu yang dekat dengan dunia mereka seperti lingkungan sekitar dan binatang. Tujuan kegiatan ini sederhana saja, yaitu membiasakan anak-anak dengan kegiatan membaca dan menulis agar mereka mencintai dua kegiatan yang ditengarai sebagai keterampilan dasar dalam praktek ber-literasi.  Tujuan lain yang lebih besar adalah memberi dukungan terhadap gerakan literasi yang tengah digaungkan oleh pemerintah UK yang juga ternyata mulai khawatir dengan mulai melorotnya tingkat literasi para warga negaranya.

Inilah bentuk realitas yang menunjukkan integritas dan kohesivitas suatu masyarakat dengan pemerintahnya. Sebuah kedai kopi bermetamorfosa menjadi ruang peningkatan sekaligus penggerak kegiatan literasi. Nampak jelas bahwa kegiatan peningkatan literasi kemudian tidak semata menjadi bisnis dan tanggung jawab mereka yang bergerak dalam dunia pendidikan. Masyarakat umum termasuk di dalamnya para pebisnis seperti yang dicontohkan oleh salah satu pemilik kedai kopi ternama UK yang saya jabarkan di atas adalah contoh bagaimana kedai kopi yang kadung sudah dijadikan altar literasi ini benar-benar terlibat aktif dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia bangsanya.

Lalu bagimana dengan kedai kopi di sekitar kita? Mengingat perannya yang juga semakin penting dalam praktek literasi, tidak salah jika harapan akan semakin maraknya kegiatan yang berorientasi pada peningkatan keterampilan literasi seperti membaca, menulis dan berwacana kritis lisan maupun tertulis juga dilakukan oleh para pemilik kedai kopi di Indonesia. Dengan cara ini, peran masyarakat akan semakin jelas dalam membantu pemerintah menarik Indonesia dari posisi 60 negara dengan tingkat literasi terendah dan mendongkrak minat baca manusia Indonesia yang sangat memprihatinkan yaitu di angka 0. 001% . Artinya, dari seribu orang Indonesia, hanya satu orang yang memiliki minat baca yang baik seperti yang dilaporkan oleh UNESCO. Ini tentu amat menyesakkan!


Udi Samanhudi adalah Akademisi Untirta, Awardee Beasiswa LPDP program Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) Kemenkeu RI dan saat ini tengah menempuh studi doktoral dalam bidang Teaching of English for Speakers of Other Languages and Applied Linguistics, Queen’s University of Belfast, United Kingdom.


Rubrik ini diasuh oleh Fikri Habibi.

Editor : Andri Firmansyah

Related Articles

Berikan Komentar