InspirasiResensi

Resensi Novel “Padang Bulan” Andrea Hirata: Mengungkapkan Rasa Kecintaan dan Kehumorisan

....ia menempatkan diri pada satu titik waktu di depannya.

 

Judul Buku : Padang Bulan
Penulis : Andrea Hirata
Penerbit : Bentang Pustaka
Cetakan : XI, Februari 2017
Tebal : xvi + 309 Halaman
ISBN : 978-602-8811-09-5

Mengungkapkan Rasa Kecintaan dan Kehumorisan
Oleh : M Ivan Aulia Rokhman

biem.co — Novel ini mengisahkan tentang Enong, gadis kecil yang pada usia ke 14 harus kehilangan sosok seorang ayah dan mengembang tugas anak pertama yang begitu berat. Enong harus meninggalkan sekolahnya demi sekolah adik-adiknya dan mengambil pekerjaan hina. Yakni seorang pendulang timah. Pekerjaan yang hanya setingkat lebih tinggi dari seekor kerbau pembajak.

Dipertemukan oleh nasib. Aku suatu hari berjumpa dengan Enong di kantor pos. Berbagai warna dan kisah di buku Padang Bulan berkisah Enong dan Andrea Hirata itu sendiri. enong begitu berminat pada bahasa Inggris, dan Andrea Hirata sedang digenggam cemburu karena kekasihnya, Aling, sedang dibawa lari oleh lelaki gagah perkasa bernama Zinar.

Akhir dari cerita ini, berakhir bahagia. Enong akhirnya mendalami bahasa inggris di sebuah kursus yang tidak ketinggalan zaman . Selain itu, aling ternyata tidak akan menikah dengan Zinar. Kabar itu hanyalah kesalahpahaman yang dibuat oleh detektif kontet bernama M. Nur. Cerita bermula ketika Syalimah (ibu Enong) sedang diberikan kejutan oleh Zamzami suaminya. Kejutan itu adalah sebuah sepeda yang sebenarnya diminta oleh Syalimah empat tahun lalu. Bahkan Syalimah sendiri sudah lupa dengan permintaan itu. Tapi begitulah. Cerita ini kian romantis karena Zamzami masih ingat betul keinginan istrinya itu.

Namun nasib bercerita lain. Zamzami tertimpa longsor dengan posisi terlentang. Tentang tidak ada seorang pun pendulang yang selamat jika tertimpa longsor dalam posisi itu. Maka Zamzami tidak mendapat pengecualian. Di hari pemberian itu, Zamzami meninggal.

Jadilah Enong, anak pertama mereka harus mengadu nasib ke Tanjong Pandang demi menghidupi kembali keluarganya menggantikan posisi ayahnya. Namun dia masa kecil. Tidak seorang pun yakin dengan dirinya. Maka dia pulang dengan tangan kosong tanpa mendapat pekerjaan.

Pembaca baru menikmati kisah perjuangan cinta yang dilakukan Ikal untuk A Ling yaitu pada mozaik kesepuluh. Kisah tentang perjuangan cinta yang terkesan konyal dan naif dilakukan tokoh Ikal untuk A Ling. Dimulai dari perjuangan Ikal untuk mempersiapkan hari ulang tahun A Ling dengan mendatangkan beribu-ribu punai di pekarangan rumahnya dengan bantuan seekor burung pekatik yang dipinjamnya dari seorang pemburu. Ide meminjam pekatik ini datang dari Detektif M. Noor. Perayaan ulang tahun A Ling pun menjadi terasa spesial. Ikal merasa senang karena dapat memberikan kebahagiaan untuk A Ling. Pada mozaik ini ada bagian yang sangat menyentuh tentang ulang tahun yang disampaikan Ikal di halaman 69.

“Bagiku, seorang yang menunggu hari ulang tahun tak ubahnya ia menempatkan diri pada satu titik waktu di depannya, dan ia berdiri di sana menunggu waktu menyudulnya, dan semua itu, burung punai itu, ulang tahun itu, memberiku sebuah inspirasi”.

Kisah berikutnya yang tergelar dalam novel ini adalah kabar bahwa A Ling akan menikah seorang Tionghoa yang bernama Zinar. Dia adalah pemuda yang tampan pemilik toko di Tanjung Pandang. Kabar tersebut tentu membuat tokoh Ikal sakit hati dan berusaha membalaskan sakit hatinya pada Zinar yang telah merebut hati A Ling. Dengan detektif M. Noor dan Jose Rizal, burung merpati milik Detektif M. Noor, Ikal pun berjanji untuk membalas sakit hatinya pada Zinar. Melalui perlombaan yang telah ditunggu pada peringatan hari tujuh belasan pun sengaja dilakukan. Sayangnya semua berbagai perlombaan ini Ikal tidak mampu mengalahkan Zinar.

Dan masih banyak lagi cerita yang akan dikemas melalui novel ini. Hikmah yang dapat dipetik yaitu Kerja keras yang dilakukan Enong mengajarkan kita bahwa meskipun dalam keterbatasan semangat belajar dan kerja keras tetap menyala. Perjuangan cinta yang dilakukan Ikal pun memberikan semangat bahwa segala yang kita cita-citakan harus benar-benar diperjuangkan serta menjaga toleransi.


Biodata Penulis:

M. Ivan Aulia Rokhman, Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Dr Soetomo Surabaya. Lahir di Jember, 21 April 1996.
Lelaki berkebutuhan khusus ini meraih anugerah “Resensi / Kritik Karya Terpuji” pada Pena Awards FLP Sedunia. Saat ini menjabat di Devisi Kaderisasi FLP Surabaya dan Anggota UKKI Unitomo.
Nomor Telp/WA : 083854809292
Email : [email protected]
Facebook : M Ivan Aulia Rokhman
Alamat Korespondensi : Jalan Klampis Ngasem VI/06-B, Sukolilo, Surabaya, Jawa Timur, 60117

 

Editor : Jalaludin Ega

Related Articles

Berikan Komentar