KolomRois Rinaldi

Muhammad Rois Rinaldi: Tuhan Hanya Ada di Slip Gaji

Oleh Muhammad Rois Rinaldi

biem.co – Beberapa tahun lalu, sudah lama sekali, saya pernah begitu sinis kepada slip gaji. Kesinisan itu bermula ketika saya dibuat jengah oleh dunia kerja yang, menurut saya, aneh. Dunia profesional yang tidak profesional, karena terlalu banyak orang yang berlomba-lomba saling menjatuhkan dengan berbagai cara yang, lagi-lagi menurut saya, melampaui batas kewarasan akal manusia, semisal memfitnah, cari muka, dan semacamnya. Seakan-akan orang yang bersangkutan tidak percaya bahwa dirinya punya “nilai” tanpa harus melakukan tindakan-tindakan yang berlebihan. Saya mulanya berusaha memahami (kalau memang harus bicara tentang pemahaman) tidak sedikit para pekerja melakukan tindakan-tindakan semacam itu agar mendapatkan promosi jabatan, dan tentu saja kenaikan gaji yang berlipat-lipat. Sederhananya, tuntutan hidup. Tetapi semakin lama perut saya sering mual dan kepala saya sering pening sebelah karena terlalu sering berhdap-hadapan dengan orang-orang yang kurang akal dan tidak percaya diri itu. Saya tidak sanggup jika harus menahan rasa mual dan denyutan di kepala lebih lama lagi, jadi saya memutuskan untuk mengundurkan dri.

Sebagai staf yang berada langsung di bawah atasan tertinggi di kantor, surat pengunduran diri saya antarkan langsung kepadanya. Saya sangat yakin surat pengunduran diri saya tidak akan ditolak, karena saya mengerti betapa lelahnya memiliki bawahan yang terlalu sulit diatur dan sering protes seperti saya ini. Meski di sisi lain, ia akan kesulitan mencari pengganti saya. Dalam hal ini saya tidak sedang mendemonstrasikan kepercayaan diri, hanya sedang mengungkapkan kenyataan. Mencari orang yang bisa bikin konsep, proposal, peta pelaksanaan program, sekaligus mengawal pelaksanaan program tidaklah mudah. Ada orang mampu menjadi konseptor, tapi lemah ketika diposisikan sebagai motor. Ada yang potensial sebagai motor tapi sering kedodoran ketika memosisikan diri sebagai konseptor. Saya dalam hal ini, sudah terbiasa berada di dua posisi tersebut. Tetapi rupanya atasan saya cukup lihai juga mendramatisir pengunduran diri saya. Ia menunjukkan respon yang seakan-akan tidak rela, tapi dari berbagai laporan yang saya terima dan dari beberapa perdebatan panjang antara saya dengan atasan saya baik di rapat-rapat resmi maupun keseharian di kantor, saya meyakini sudah lama ia mengharapkan saya lenyap dari pandang matanya.

“Kalau kamu keluar dari sini,” atasan saya berusaha betul untuk tetap tampak bijak. “Kamu mau makan apa? Orang-orang di luaran banyak yang susah makan karena mereka tidak punya pekerjaan. Kamu sudah enak-enak kerja di sini tanpa pernah sekalipun mengajukan lamaran, malah mengundurkan diri.”

“Gusti Allah hanya ada di dalam slip gaji, Pak?” seloroh saya berusaha mengendurkan ketegangan. “Posisi saya sudah banyak yang menginginkan atau sudah banyak yang menginginkan posisi saya ditiadakan dari kantor ini dan saya tahu, itu juga menjadi keinginan Bapak.”

Selama perjalanan pulang saya senyum-senyum sendiri. Bukan frustasi, tapi tiba-tiba saja saya teringat kepada Nabi Sulaiman. Nabi yang memiliki kekayaan melimpah dan kekuasaan yang sangat luas meliputi alam manusia, binatang, dan jin itu. Ia pernah berpikir bahwa sebagai raja paling berjaya di muka bumi yang kekuasaan dan kekayaannya tidak ada tandingannya baik pada masanya, masa terdahulu, maupun pada masa setelahnya, ia merasa mampu memberi makan untuk semua makhluk Allah di bumi. Sayangnya, belumlah sampai pada semua makhluk Allah di bumi, satu ikan yang didatangkan oleh Allah mampu menghabiskan semua makanan yang dihidangkan olehnya tanpa sisa, bahkan ikan tersebut belum betul-betul kenyang. Tidak logis memang. Satu ikan menghabiskan makanan yang disediakan untuk seluruh makhluk di bumi ketika itu, tapi Allah sengaja membuat ikan itu menjadi sedemikian lapar dan rakus, sebagai pelajaran bagi manusia bahwa soal rizki makhluk, urusan Khalik!

Sebenarnya mudah saja bagi saya untuk memahami ucapan atasan saya yang baru jadi mantan itu dengan cara yang sangat sederhana. Maksudnya mungkin ingin mengatakan bahwa setiap manusia tidak boleh meninggalkan pekerjaan lalu memilih berpangku tangan alias jadi pengangguran kelas berat.  Karena setiap manusia harus memenuhi kebutuhan sehari-hari yang tidak mungkin datang begitu saja dari langit. Kalau kata orangtua saya, hidup itu lelaku bukan lelakon. Tetapi saya tidak dapat menerima sepenuhnya, karena bumi kecil yang berada di antara jutaan bintang di Antariksa ini tidak sesempit pikirannya.  Memandang rizki Allah tidak boleh sebatas pandangan kepada angka-angka di slip gaji karena konsekuensinya sangat berat. Ini berkaitan dengan mental dan kecerdasan melihat peluang. Jika seseorang berpikir bahwa rizki baginya hanya datang dari satu ruang lingkup saja, di situlah pada akhirnya satu-satu pintu rizki baginya, itupun tersendat-sendat. Karena selain persoalan “prasangka buruk” yang melahirkan keburukan, pikiran yang tertutup memang akan kesulitan melihat dunia yang terbuka.

Dunia terbuka menyimpan banyak kemungkinan. Jika kemungkinan-kemungkinan yang terbuka itu dianggap tidak ada, bumi yang dihuni oleh 7 milyar manusia ini terasa sempit.  Sesekali piknik, kan, tidak dosa. Setidaknya  jangan terlalu asyik berada di ruang ber-AC  yang ukurannya tidak lebih dari 10 meter kali 10 meter agar dapat melihat laci ibu-ibu di pasar kelontongan atau para pemulung yang membawa karung di sekitar pembuangan sampah. Mereka tidak punya slip gaji, tapi mereka tidak ditinggalkan oleh Tuhan. Lihat jugalah kantong pengamen di bus-bus padat yang panas atau di saku celana tukang parkir di pusat-pusat keramaian. Jangankan manusia yang punya akal dan mampu membaca ayat-ayat Illahi dalam pengertian seluas-luasnya, burung-burung yang tidak diberi akal sebagaimana akal manusia, dapat makan setiap hari. Jangankan manusia yang berjalan gagah—yang kadang berjalan dengan sombong dan berlagak paling segala-galanya di atas tanah—hewan melata sekalipun dapat makan dan hidup sebagaimana mestinya.

Memanglah omongan semacam itu, bukan omongan baru. Bukan hanya ada di kitab suci, lagu-lagu rohani pun, baik lagu rohani versi balita maupu versi orang dewasa, telah banyak membicarakannya. Anak-anak sekolah dasar kelas 3 di masa kini sudahlah fasih mengatakan bahwa rizki datang dari arah mana saja, karena semua manusia percaya (kecuali yang atheis) Tuhan Maha Kaya dan Dialah yang membukakan pintu rizki bagi manusia. Bukan sulit untuk memahami bahwa tugas manusia hanya berikhtiar, sebagaimana yang sering diperdengarkan oleh para mubalig di masjid-masjid atau mimbar-mimbar khotbah lainnya. Tetapi mencari prilaku yang menjadi gambaran dari perkataan-perkataan itu sungguhkah semudah memperkatakannya? Aduh buyung! Kadang saya sangsi, apakah Tuhan betul-betul kita percaya hadir di dalam setiap usaha kita dalam mencari rizki sehingga setiap prosesnya sungguh-sungguh dapat dinikmati dan dihayati sebagai bagian dari ibadah.

Ketika itu, untuk waktu yang cukup lama, saya memang sangat sinis. Saking sinisnya, saya pernah tertawa terbahak-bahak ketika menerima uang kembalian di sebuah warung kelontongan. Saya memberikan uang Rp10.000 dan penjual memberikan dua potong roti seharga Rp4.000 dan saya mendapat uang kembali sebanyak Rp6.000. Dari uang ke uang. Saya terbahak-bahak. Penjaga warung terbengong-bengong melihat tingkah laku saya yang aneh. Saya makin terbahak-bahak karena saya kasihan kepada penjaga warung itu. Ia bingung, tapi saya tidak merasa perlu menjelaskan apa-apa. Saya pergi begitu saja. Tidak ada faedahnya mengatakan kepadanya bahwa saya merasa aneh dengan uang. Lembaran kertas yang mudah lusuh, bau, dan menjengkelkan itu. Ia tidak akan peduli jika pun saya mengatakan bahwa tiba-tiba saya dibayangi kertas putih berisi angka-angka yang tidak seberapa yang saya tanda tangani setiap bulannya yang kerap membikin manusia kehilangan akal sehatnya.

Ya, yang bernama slip gaji itu!

Baiklah. Pikiran sinis itu sudah berlalu.  Sudah lama sekali saya tidak besentuhan dengan slip gaji dan sudah lama sekali saya tidak mempersoalkan orang-orang yang menganggap slip gaji adalah alasan mengapa mereka masih dapat hidup dan bahagia. Saya memang lebih suka kepada mereka yang memandang pekerjaan di manapun, sebagai bentuk ikhtiar sekaligus sebagai bentuk pengabdian sebagai manusia di dalam hidup dan kehidupan, terlepas pekerjaan yang punya slip gaji atau tidak, karena semua pekerjaan pada dasarnya mulia selama dilakukan dengan sepenuh hati dan tentu saja pekerjaan yang sesuai dengan aturan agama masing-masing. Saya sekarang orangnya memang lebih memilih menghayati dan menikmati apa yang ada. Bagaimana orang berpikir, biarlah berpikir. Ibarat sebuah perjalanan, saya dengan manusia yang lainnya sama-sama sedang berjalan menuju suatu tempat yang dituju oleh semua manusia. Tentu saja di perjalanan setiap manusia dimungkinkan menemukan pencerahan dan juga dimungkinkan berhadapan dengan kemungkinan yang sebaliknya.

Cilegon, 1 Maret 2018

Editor : Happy Hawra

Related Articles

Berikan Komentar