KabarTerkini

Dampak Gempa Megathrust, Tsunami Setinggi 57 Meter Berpotensi Landa Pandeglang

biem.co – Satu bulan yang lalu, tepatnya Jumat (02/03), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis penjelasan terkait gempabumi megathrust yang berpotensi terjadi di Indonesia, termasuk di Provinsi Banten.

Wilayah Indonesia yang terletak di zona pertemuan lempeng tektonik aktif ini merupakan penyebab mengapa Indonesia menjadi wilayah yang rawan gempabumi. Berdasarkan buku “Peta Sumber dan Bahaya Gempabumi Indonesia tahun 2017” yang diterbitkan oleh para pakar gempa dari beberapa perguruan tinggi, lembaga dan kementerian, dijelaskan bahwa Indonesia berada pada zona megathrust.

Zona tumbukan antara lempeng Indo-Australia dan Eurasia inilah yang memungkinkan dapat mengakibatkan terjadinya gempabumi megathrust.

Terkait hal itu, seperti dilansir dari detikNews, Widjo Kongko selaku Peneliti Tsunami pada Balai Pengkajian Dinamika Pantai Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) memprediksi bahwa akan ada potensi terjadinya tsunami setinggi 57 meter di Kabupaten Pandeglang, Banten.

Sebelumnya, pada akhir Januari hingga Februari 2018, Banten beberapa kali telah mengalami gempa bumi yang cukup besar, di mana ribuan rumah beserta bangunan dan fasilitas umum rusak parah. Widjo menyebut bahwa bencana tersebut merupakan salah satu dampak dari gempa megathrust.

“Di Jawa Barat itu sumber gempa besar. Di situ bisa dikatakan di selatan bisa mencapai 8,8 Magnitudo atau 9. Sehingga, kaidah umum kalau di atas 7 Magnitudo dan terjadi lautan dangkal sumbernya, maka potensi tsunami besar akan terjadi di daerah sana (red: Pandeglang),” ungkapnya, Selasa (03/04), seperti dikutip dari detikNews.

Rupanya tidak hanya Pandeglang saja yang akan merasakan potensi datangnya tsunami, Widjo juga menyebut wilayah lain di Jawa Barat, Banten, dan Jakarta. Beberapa wilayah itu di antaranya Sukabumi dengan ketinggian 41,5 meter, Ciamis 39,8 meter, Lebak 39,4 meter, Cianjur 3,2 meter, garut 30,1 meter, Tasikmalaya 28,2 meter, Serang 5,5 meter, Tangerang 4,2 meter, Jakarta Utara 2,4 meter, dan Bekasi Utara 2,8 meter.

Namun, pihaknya tidak bisa memastikan kapan bencana besar tersebut akan terjadi karena belum ada alat yang bisa mendeteksi hal tersebut. “Tetapi tentunya kami selalu mengadakan kajian ilmiah untuk melihat potensi yang ada. tentu yang paling penting adalah, kita telah mengetahui secara umum, meskipun belum detail kajiannya. Intinya, migitasi perlu kita siapkan sejak awal,” pungkasnya. (HH)

Editor : Redaksi

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar