Inspirasi

Maman Suherman: Literasi Itu Energi

KOTA SERANG, biem.co — Hari Buku Sedunia yang jatuh setiap tanggal 23 April, tentu menjadi semangat baru bagi para penggiat literasi untuk terus menumbuhkan minat membaca dan menulis kepada semua kalangan.

Maman Suherman, sosok yang kerap disaksikan melalui layar kaca televisi sebagai Notulen dalam program ‘Indonesia Lawak Klub’ ini pun tak luput bicara soal kekuatan literasi. Menurutnya, kata-kata merupakan senjata yang hebatnya melebihi bom atom.

“Literasi itu energi untuk menggerakkan,” ungkapnya, saat menjadi narasumber di perayaan World Book Day Rumah Dunia, Serang, baru-baru ini.

Maman mengatakan, bahwa ketika orang sudah membaca, maka tak akan pernah lagi melihat sesuatu sebagai perbedaan. Di samping itu, ia pun sedikit bercerita tentang pengalamannya sebagai penggiat literasi yang pernah berkeliling Indonesia untuk menyebarkan buku melalui Taman Bacaan Masyarakat (TBM) atau Perpustakaan Keliling (Pusling) dengan moda apapun.

Ada satu pengalaman yang—menurut dirinya—menjadi alasan kenapa literasi itu memiliki energi yang mendalam. Ketika suatu kali ia ikut berlayar di Sulawesi Barat untuk mengirimkan buku, Maman mengalami kecelakaan dan perahu yang ditumpanginya pun terbalik. Ia mengatakan bahwa dirinya sulit untuk keluar, dan ia tenggelam di dalam air hampir selama 15 menit.

“Harusnya saya sudah mati, tapi saya diselamatkan oleh penduduk sekitar. Tapi, yang membahagiakan saya dan membuat saya menangis di situ adalah, tidak cuma saya yang diselamatkan. Buku-buku yang sudah mengambang pun diselamatkan oleh mereka,” papar pria kelahiran Makassar 10 November 1965 tersebut.

Dikatakan Maman, bahwa buku-buku yang telah ‘diselamatkan’ oleh warga setempat pun kemudian ditaruh di pinggir rumah dan dikeringkan menggunakan hairdryer oleh mereka.

“Saya bilang, ‘nggak papa bukunya hancur. Nanti saya bawa lagi dari Jakarta.’ Tapi mereka bilang, ‘buku ini amanah dari orang Jakarta. Dia harus sampai ke tujuan. Tidak boleh tidak. Di situ kita bisa bayangkan betapa indahnya cinta dalam literasi. Kami tidak saling kenal, tapi kami bisa saling bersatu sama lain untuk merajut keberagaman, merajut kebhinekaan,” tutur mantan Pemimpin Redaksi Kelompok Kompas Gramedia ini. (HH)

Editor : Redaksi

Related Articles

Berikan Komentar