Inspirasi

Kultum Bersama Imam al-Ghazali: Adab

“Barang siapa membiasakan diri mengikuti adab-adab sunah maka Allah menerangi hatinya dengan cahaya makrifat”

Nabi Muhammad saw. bersabda,

“Tuhanku telah mendidikku, maka Dia mendidikku dengan baik.”

Adalah adalah pendidikan lahir dan  batin. Jika lahir dan batin seorang hamba telah bersih, ia akan beranjak menjadi sufi yang beradab. Barangsiapa yang membiasakan diri mengikuti adab-adab sunah maka Allah menerangi hatinya dengan cahaya makrifat.

Tidak ada maqam (kedudukan) yang lebih mulia dibanding mengikuti sang kekasih, Rasulullah saw., dalam menjalankan perintah-perintah, perbuatan dan akhlaknya, serta berperilaku sebagaimana adab beliau, baik ucapan, perbuatan, tekad maupun niat.

Perbuatan adil antara Allah dan hamba itu terletak pada tiga hal; meminta pertolongan, usaha dan adab. Hamba meminta pertolongan, Allah yang memberi taufik (pertolongan), dan hamba berperilaku dengan adab yang baik; Allah yang kemudian memberi karamah (kemuliaan).

Barang siapa beradab seperti adab orang-orang saleh, ia pantas meraih hamparan karamah. Siapa pun yang beradab layaknya adab para wali maka ia pantas mendapat hamparan qurbah (kedekatan dengan Allah); barang siapa beradab sebagaimana kaum shiddiqun, ia berhak atas hamparan musyahadah (menyaksikan Allah); siapa yang beradab semisal para nabi, maka ia layak memperoleh hamparan uns (kasih sayang Allah) dan inbisath (kemudahan dari-Nya).

Sebaliknya, barang siapa yang terhalang dari adab, berarti ia telah terbentengi dari segala kebaikan; barang siapa tidak terdidik dengan perintah dan didikan para guru, maka ia tidak beradab dengan Kitab dan Sunah.

***

*) Naskah diambil dari buku “Taman Kebenaran; Sebuah Destinasi Spiritual Mencari Jati Diri Menemukan Tuhan” yang diterbitkan Turos. Terjemahan singkat dari Kitab Raudhatu ath-Thalibin wa ‘Umdatu as-Salikin karangan Imam al-Ghazali. Penerjemah: Kaserun AS. Rahman.



Editor : Jalaludin Ega

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Back to top button