Terkini

Kultum Bersama Imam al-Ghazali: Sifat-sifat Allah swt.

Ketahuilah, asma dan sifat-sifat adalah nisbah dan penyandaran yang merujuk kepada satu wujud (‘ain wahid) karena ketidakterbilangan dengan adanya entitas tempelan pada Zat Yang Suci.

SIFAT-SIFAT YANG TETAP (tsubutiyah) bagi Allah itu ada tujuh : Hayat (Mahahidup), Ilmu, Iradah (Maha Berkehendak), Qudrah (Maha Melihat), dan Kalam (Maha Berbicara). Masing-masing dari sifat ini memiliki hubungan, kecuali Hayat karena ia menjadi sumber dari segala kesempurnaan.

Ilmu berhubungan dengan wajib, jaiz, dan mustahil. Wajib adalah Dzat Allah beserta sifat-sifat-Nya; jaiz (mungkin) yaitu segala sesuatu yang mungkin ada; mustahil berarti yang tidak mungkin wujud.

Iradah berhubungan dengan pengkhususan (takhshish), dan ini memenangkan salah satu dari yang mungkin ada; dari tiada menjadid ada sesuai yang Dia kehendaki untuk ditampakkan. Qudrah berhubungan dengan pengaruh yang menampakkan sesuatu yang tidak ada atau meniadakan yang ada.

Sekiranya ilmu tidak mendahului, tak akan terjadi pengkhususan kehendak. Seandainya tidak terjadi pengkhususan kehendak maka tidak akan ada pengaruh qudrah. Kemudian, mendengar (sama’) berhubungan dengan segala yang terdengar, baik kadim maupun baru. Kalam (berbicara) berkaitan dengan segala yang memiliki kaitan dengan ilmu. Semua sifat-sifat ini ada pada Dzat Allah swt.

Sifat-sifat ini terbagi menjadi: sifat untuk diungkapkan dan berhubungan dengan yang lain, seperti ilmu, mendengar, dan melihat; sifat yang berhubungan dengan yang lainnya tanpa mengungkapkan dan memberi pengaruh, seperti kalam.

Sifat yang memiliki hubungan paling umum yaitu ilmu dan kalam; paling khusus adalah mendengar; menengah yaitu melihat. Adapun baqa’ bermakna berlanjutnya wujud, bukan sifat yang melampaui pengertian Dzat.

Sehingga kaum Asy’ariyah mengatakan, “Allah swt. itu hidup dengan kehidupan, mengetahui dengan ilmu, berkuasa dengan kekuasaan, berkehendak dengan kehendak, mendengar dengan pendengaran, melihat dengan penglihatan dan berbicara dengan kalam.”

Lain halnya dengan pandangan madzhab Qadariyah bahwa Allah itu hidup dengan Dzat-Nua, berkuasa dengan Dzat-Nya, berkehendak dengan Dzat-Nya, mendengar dengan Dzat-Nya, dan berbicara dengan Dzat-Nya. Dan, yang demikian ini adalah pandangan yang salah.

Mazhab Thabi’iyyah (naturalis) berpandangan, api itu membakar dengan tabiatnya, air itu menyegarkan sesuai tabiatnya, makanan itu mengenyangkan selaras dengan tabiatnya, cakrawala dan bintang-bintang berpengaruh sejalan dengan tabiatnya, demikian pula semua sebab-sebab lainnya. Sementara pandangan mazhab yang benar bahwa yang memberi pengaruh adalah kekuasaan Allah, dan sebab-sebab itu tidak memiliki pengaruh. Dan Allah Mahatahu.

Ketahuilah, tujuh sifat di atas menurut mazhab Asy’ari merupakan makna-makna di luar pengertian Dzat, dan ini mengandung entitas-entitas dan hukum-hukum yang tetap dan tak berubah. Arti dari entitas-entitas tetap dan tak berubah (tsubut al-a’yan) bahwa ia bukanlah Dzat itu sendiri sekaligus tidak berada di luar Dzat.

Para muhaqqiq lain mengatakan, sifat-sifat tersebut merupakan nisbah dan penyandaran pada hukum-hukum permanen tanpa disertai entitas-entitas (al-a’yan). Artinya, sifat-sifat ini tidak mengandung entitas-entitas, dan ia bukanlah tempelan di luar pengertian Dzat.”

Pembesar ulama lain berkata, “Ketahuilah, asma dan sifat-sifat adalah nisbah dan penyandaran yang merujuk kepada satu wujud (‘ain wahid) karena ketidakterbilangan dengan adanya entitas tempelan pada Dzat Yang Suci, sebagaimana diyakini oleh sebagian pemikir yang tidak mengenal Allah swt.

Seandainya asma dan sifat-sifat itu merupakan entitas-entitas di luar Dzat, dan Dia tidak menjadi Tuhan kecuali dengan asma dan sifat-sifat tersebut, maka dia menjadi akibat dari asma dan sifat-sifat ini hingga tidak menutup kemungkinan bahwa asma dan sifat-sifat adalah Dzat-Nya. Karena sesuatu tidak mungkin menjadi akibat bagi dirinya sendiri atau tidak.

Jadi, Tuhan bukanlah akibat dari sebab yang bukan Dzat-Nya sebab hal tersebut menghendaki kefakiran-Nya, sedangkan kefakiran Tuhan adalah mustahil. Dengan demikian, adanya asma dan sifat sebagai entitas di luar Dzat adalah sesuatu yang mustahil. Maka pahamilah baik-baik. Dan segala puji hanya milik Allah semata.

***

*) Naskah diambil dari buku “Taman Kebenaran; Sebuah Destinasi Spiritual Mencari Jati Diri Menemukan Tuhan” yang diterbitkan Turos. Terjemahan singkat dari Kitab Raudhatu ath-Thalibin wa ‘Umdatu as-Salikin karangan Imam al-Ghazali. Penerjemah: Kaserun AS. Rahman.



Editor : Jalaludin Ega

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar