Inspirasi

Kultum bersama Imam al-Ghazali: Kefakiran beserta Variannya

Tabattul, Fana’, dan Tajrid

“Kekayaan karena Allah menjadi perantara untuk melepaskan diri dari selain Allah.”

KEFAKIRAN ADALAH KEHILANGAN dan butuh. Dalam konteks ini, “butuh” ada dua macam; mutlak dan terbatas. “Butuh” mutlak adalah butuhnya seorang hamba kepada pencipta yang menciptakannya, kepada keabadian setelah diciptakan, dan kepada hidayah menuju penciptanya.

Inilah kefakiran kepada Allah swt. Karena Allahlah Penciptanya, yang mengabadikannya, dan memberinya hidayah. Kefakiran semacam ini hukumnya wajib sebab termasuk bagian keimanan kepada Allah dan karena Allah. Dan ahwal yang lahir dari makrifat ini pun menjadi kesaksian hamba terhadap kefakiran dan hajat kepada-Nya selama-lamanya.

Adapun “butuh” yang terbatas yaitu kebutuhan hamba kepada sarana-sarana yang membuat dirinya mampu berdiri tegak dan bisa diraih dengan harta. Ia adalah sesuatu yang hilang sekaligus dibutuhkan.

Kefakiran mutlak dimaksudkan untuk Zatnya sendiri karena ia berhubungan dengan Allah, sedangkan kefakiran terbatas ditunjukan untuk selain dirinya dengan menyendiri dan mengasingkan diri menuju Allah swt.

Keduanya merupakan sarana untuk menjadi kaya karena Allah, yaitu kebergantungan hati kepada-Nya. Kekayaan karena Allah menjadi perantara untuk melepaskan diri dari selain Allah. Maka dari itu, tak ada kewajiban dalam tajrid selain meyakini bebasnya al-Qadim dari yang baru (makhluk).

Allah Mahatahu.

***

*) Naskah diambil dari buku “Taman Kebenaran; Sebuah Destinasi Spiritual Mencari Jati Diri Menemukan Tuhan” yang diterbitkan Turos. Terjemahan singkat dari Kitab Raudhatu ath-Thalibin wa ‘Umdatu as-Salikin karangan Imam al-Ghazali. Penerjemah: Kaserun AS. Rahman.



Editor : Jalaludin Ega

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar