Inspirasi

Kultum bersama Imam al-Ghazali: Zuhud dan Mendahulukan Orang Lain

“Buah daru Zuhud adalah mendahulukan orang lain (itsar), sekaligus bentuk kedermawanan (futuwwah) paling tinggi.”

Futuwwah sebagai Akhlak dan Maqam Murad sebagai Peninggalan

ILMU YANG MELAHIRKAN sikap zuhud terhadap dunia adalah keimanan kepada Allah swt., seperti firman-Nya, “Tetapi kalian (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. al-A’la [87]: 16-17) dan ahwal yang lahir dari ilmu ini ialah berpalingnya kehendak dari dunia karena mengagungkan segala hal yang ada di sisi Allah swt.

Adapun pemantik sikap zuhud terhadap hal-hal selain Allah, seperti kenikmatan surga dan lain-lain karena menganggap remeh wujud (selain Allah) dan mengagungkan kesempurnaan Allah swt. Inilah zuhud yang ditujukan untuk dirinya sendiri, dan merupakan bagian dari keimanan kepada Allah sebab berhubungan dengan keagungan dan kesempurnaan.

Sebelum itu, zuhud yang ditunjukan untuk selain dirinya yaitu dengan konsentrasi hati terhadap makrifat ini. Sementara kadar zuhud yang wajib ditujukan untuk selain dirinya yaitu mendorong untuk berkonsentrasi pada sewaktu-waktu yang wajib. Karena zuhud itu hanya berhubungan dengan hal-hal mubah, dan salah satu syaratnya adalah jika hal tersebut bisa dilakukan.

Buah dari zuhud adalah mendahulukan orang lain (itsar), sekaligus bentuk kedermawanan (futuwwah) paling tinggi. Kedermawanan berarti mempersembahkan sesuatu yang tidak dibutuhkan secara suka rela, bukan terpaksa. Dan itsar bermakna mencurahkan segala sesuatu yang dibutuhkan orang lain tanpa ganti dan tanpa tujuan, selain meniru akhlak Allah swt.

Selain itu, kedermawanan bersumber dari akhlak mulia. Jadi, barang siapa menunaikan kewajiban syariat dan bersikap mulia, ia termasuk orang-orang yang dermawan. Barang siapa berbaur dengan anak-anak dunia tentang apa yang mereka alami, ia sama halnya orang yang tak memiliki kemurahan hati maupun akhlak mulia.

Sedangkan maqam murad yaitu keadaan seseorang yang mengenal hakikat persoalan tanpa penyangkalan (munazi’) maupun pertentangan (mudafi). Karea tak ada sesuatu pun yang mampu melalaikannya dari Allah swt. Dan, Allah Mahatahu.

***

*) Naskah diambil dari buku “Taman Kebenaran; Sebuah Destinasi Spiritual Mencari Jati Diri Menemukan Tuhan” yang diterbitkan Turos. Terjemahan singkat dari Kitab Raudhatu ath-Thalibin wa ‘Umdatu as-Salikin karangan Imam al-Ghazali. Penerjemah: Kaserun AS. Rahman.



Editor : Jalaludin Ega

Related Articles

Berikan Komentar