KabarTerkini

Seminar Tematik Rumah Dunia, Tekankan Penyebaran Literasi yang Positif

KOTA SERANG, biem.co – Puluhan pelajar SMA sederajat dan mahasiswa mengikuti rangkaian acara ‘Seminar Tematik’ yang diadakan di Auditorium Surosowan Rumah Dunia, Senin (30/07). Bertajuk Peranan Literasi Kebangsaan Untuk Menjaga Persatuan dan Kesatuan Bangsa, seminar ini dihadiri narasumber Boyke Pribadi, Rahmat Heldy, dan Sobirin.

Dikatakan Daru Pamungkas selaku Ketua Pelaksana, mengingat sebentar lagi menyambut 17 Agustusan, maka pihaknya terlebih dahulu menyambut hari kemerdekaan dengan membuat acara ini.

“Rumah Dunia ini bergerak di bidang literasi. Jadi mencoba hal yang sinkron dengan mengaitkan kebangsaan,” ucapnya.

Diakui Daru, bahwa acara ini memang terkesan dadakan lantaran hanya memiliki persiapan satu minggu. “Dan respon audience antusias, informasi ini mkereka dapatkan dari grup facebook,” ujarnya.

Daru berharap, dari terselenggaranya acara ini, anak-anak semakin cinta semakin cinta akan kebangsaan dan tidak menghilangkan identitas negara.

“Tetap berkarya dan kreativitasnya dengan berbagai bidang digeluti, baik musik, film, atau banyak lainnya,” pungkasnya.

Sementara itu, biem.co berkesempatan menemui narasumber Rahmat Heldy usai acara. Berkaitan dedngan tema yang diusung, Rahmat mengatakan bahwa kondisi negara saat ini memang sedang carut marut dalam konteks kebahasaan, baik lisan maupun tulisan.

“Terutama di bahasa tulisan dalam konteks literasi, banyak informasi-informasi yang ada di tengah-tengah masyarakat tanpa mencari sumber hasilnya. Selain itu, ada kelemahan masyarakat yang hanya bisa menerima kemudian menyebarkan tanpa mengkritisi dan tanpa menganalisis kebenarannya,” terangnya.

Kemudian, terusnya, informasi yang berkeliaran tersebut menimbulkan keresahan serta gangguan ketentraman bangsa.

“Saya membawakan materi tentang literasi kebangsaan di sekolah. Sekolah merupakan kawah pendidikan yang sangat penting, sesungguhnya berawal dari sana mulai dari nilai literasi,” ungkapnya.

Ia menambahkan, sekolah yang tidak mengedepankan ilmu pengetahuan dalam konteks literasi dan lainnya akan ketinggalan untuk menangkal perihal berita-berita yang berkembang di masyarakat.

“Intinya, bagi saya adalah seminar ini sangat penting. Tidak hanya bangsa bagaimana menyikapi keadaan politik dan ujaran-ujaran yang sangat harus dikritisi, tetapi lembaga pendidikan pemersatu wadah dalam mentransformasi pengetahuan,” jelasnya.

“Kalau konteks literasi hanya tulis, baca tanpa harus melihat sosial media, sebenarnya harus terpatok pada buku sumber buku bacaan dan hasil seminar karena masih mudah dilacak. Tetapi kalau literasi masuk ke dunia sosial media, ini yang repot,” paparnya.

Menurutnya, ketika berita itu ditulis kemudian disebarkan, si penerima ini tidak mau berpikir kritis. “Memang agak membuang–buang waktu mencari keberadaannya,” imbuhnya.

Dengan keadaan yang instan, lanjutnya, orang tak mau lagi berpikir dan mencari referensi, sehingga akan menjadi sampah di sosial media.

“Ini akan mengganggu di sekitar kita karena berbeda paham, pendapat, dan perselisihan. Tetapi sebenarnya bisa ditangkal dengan sama-sama mencari data dan informasi,” katanya.

Ia pun berharap kalangan muda, baik pelajar maupun mahasiswa bisa didekati dengan buku karena sumber ilmu pengetahuan. “Yang harus kita sampaikan, harus ada figur pembimbing, entah guru atau dosen, agar menjadi penyebar literasi yang positif,” tutupnya. (Dion/red)

Editor : Happy Hawra

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar