InspirasiOpini

Dzulkifli Jumari: Percaya kepada Ketidakpercayaan

biem.co — Sekarang ini, yang semakin langka bukan hanya badak berculah satu, kepercayaan antarmanusia juga menjadi sesuatu yang langka. Jangankan kepada orang yang belum atau baru dikenal, kepada orang-orang yang sudah lama dikenal bahkan yang sudah sangat dekat sekalipun kepercayaan bukan barang murah yang dapat diberikan begitu saja. Selalu ada alasan terbaik untuk tidak menaruh kepercayaan kepada sesama manusia, semisal karena dalam lautan dapat diukur sementara dalam hati manusia siapa yang tahu: perangai manusia tidak dapat ditebak, siapa yang tahu bahwa orang-orang yang tampak baik sesungguhnya adalah penjahat.

Saya tidak sedang menakut-nakuti. Di kehidupan masa kini, begitu banyak ekspresi yang dapat dibaca. Misalkan ketika mendekati lebaran, satu keluarga tidak mau menitipkan kunci rumah kepada salah satu tetangga mereka saat mereka akan pulang kampung, alasannya bermacam-macam, yang pada intinya tidak percaya. Akibatnya, pada beberapa kasus berakhir dengan perampokan. Dalam perampokan itu, satu dua orang tetangga sebenarnya melihat orang masuk rumah, tetapi mereka berpikir, itu saudaranya atau pesuruhnya, karena tidak tahu siapa saja anggota keluarga tetangganya sendiri. Para tetangga yang tidak dititipi apa-apa oleh pemilik rumah, bahkan sama sekali tidak tahu tetangganya pulang kampung tidak tahu bahwa yang bolak-balik masuk rumah adalah perampok. Pada keadaan ini, sebetulnya kemungkinan besar masing-masing menyadari betapa ruginya hidup bertetangga tidak saling percaya, tapi membangun kepercayaan terlalu sulit bagi hati dan pikiran yang terlampu gandrung pada kecurigaan.

Ekspresi lain yang makin menjadi kebiasaan di tengah masyarakat, yakni sulitnya menjaga rahasia sehingga manusia adalah makhluk yang paling tidak dapat dipercaya menyimpan rahasia sesamanya. Kalau menyebar aib sesama, manusia kekinian tidak perlu diragukan lagi jumlahnya. Semisal Si A memiliki rahasia yang diceritakan hanya kepada tetangganya, Si B, karena Si B adalah orang yang sangat dipercaya. Tujuan bercerita tidak lebih tidak kurang hanya untuk mengurangi beban pikiran, setidaknya dengan bercerita perasaan jauh lebih tenang, sekalipun tidak menemukan jalan keluar. Tetapi sayang seribu kali sayang, kurang dari 24 jam, rahasia itu menjadi rahasia umum. Si A trauma dan berpikir tidak akan mempercayakan rahasianya kepada manusia. Mungkin lebih memilih bercerita kepada boneka atau curhat di media sosial menggunakan akul palsu. Kejadian semacam ini, terjadi di mana-mana.

Ekspresi ketidakpercayaan kepada sesama manusia tidak hanya didapat di lingkungan tempat tinggal, di luar rumah lebih banyak lagi. Misalkan di dalam sebuah bus (tidak harus bus padat penumpang) rata-rata penumpang mendekap tasnya erat-erat, sekalipun tas yang dibawa adalah tas gendong yang lazimnya digendong. Alasannya sederhana, menjaga keamanan diri sendiri karena di dalam bus, selalu ada ancaman, tangan para pencopet misalnya. Ketidakpercayaan di dalam bus bukan sesuatu yang begitu saja lahir. Ketidakpercayaan didahului oleh tindak kriminalitas di dalam bus, baik yang dialami sendiri maupun yang didapat dari cerita orang lain, sehingga berada di dalam bus seperti berada di sarang penyamun.

Kalau dulu ada pepatah, malu bertanya sesat di jalan, sekarang barangkali pepatah yang lebih tepat adalah, mau bertanya dikira begal. Saya pernah mengalaminya. Ketika itu, di sebuah jalan yang sepi saya dan teman saya mengejar sepeda motor yang berada di depan kami. Tujuan kami hanya untuk menanyakan alamat jalan menuju Link. A. Tetapi motor yang kami kejar tiba-tiba mempercepat laju sepeda motornya. Saya dan teman saya tertawa geli. Mungkin orang itu berpikir kami mengejar dia dengan tujuan membegal. Lebih konyolnya lagi, teman saya yang membawa sepeda motor memutar gas semaksimal mungkin hanya karena dia melihat ada sepeda motor di belakang kami. Saya jadi tertawa terbahak-bahak. Betapa tidak karuannya hidup di bumi manusia ini.

Tingkat kriminalitas di Indonesia memang semakin meningkat tanpa bisa ditekan, makin tidak dapat ditekan karena pemegang kebijakan negara termasuk aparaturnya tenggelam dalam siklus perpolitikan yang berputar-putar dari persoalan kekuasaan ke kekuasaan yang juga tidak jarang menjadi sumber lahirnya kriminalitas. Sudahlah demikian, tindak kejahatan yang tidak jarang terlalu sadis terus diperdengarkan melalui berbagai media massa, seolah-olah berita kejahatan adalah sebuah pohon yang menghasilkan begitu banyak buah bagi media massa sehingga harus ditanam sebanyak mungkin. Memang berita tetap berita, tapi rasanya berita kejahatan begitu mendominasi, setelah berita politik tentunya. Belum lagi kabar dari omongan ke omongan, yang kadang sulit dibedakan mana yang benar dan mana yang rumor belaka. Karena masyarakat terlalu sering mendengar cerita-cerita kejahatan, akhirnya secara perlahan tapi pasti, kepercayaan antarmanusia semakin tipis.

Memang wajar saja, demi keamanan, segala sesuatu harus dilakukan. Kata Bang Napi, kejahatan bukan saja karena ada niat, tapi karena ada kesempatan. Saya sendiri pun melakukan hal yang sama. Hanya saja kadang saya berpikir, mengapa hidup di tengah manusia seperti hidup di tengah teror yang tidak ada habisnya, kapan pun dan di mana pun. Sehingga yang jauh lebih dipercaya adalah ketidakpercayaan, yang kini dirawat sebaik mungkin adalah ketidakpercayaan, dan yang dijadikan landasan pengambilan keputusan manusia yang berkaitan dengan hubungan dengan manusia lainnya adalah ketidakpercayaan. Ketidakpercayaan menjadi kepercayaan yang paling banyak digunakan oleh masyarakat kekinian? Semoga ini hanya asumsi prematur, karena saya tidak pernah melakukan survei mengenai hal tersebut.

Atas nama kewaspadaan, tidak sedikit manusia yang lebih memilih bersahabat dengan anjing, bahkan tidur dengan anjing, dibandingkan bersahabat dengan manusia. Karena anjing dianggap lebih jujur, dapat dipercaya, dan memberi rasa aman. Itu bukan kata saya, coba lakukan pencarian di Facebook dengan kata kunci, anjing lebih jujur dari manusia, akan muncul status-status yang bertuliskan: “Ternyata anjing lebih jujur dari manusia” atau “Lebih baik berteman dengan anjing, daripada berteman dengan manusia.”. Kejadiannya juga ada. Pernah mendengar kasus seorang perempuan diracun oleh temannya sendiri di sebuah kafe kopi? Akal yang mana yang dapat digunakan untuk merasionalisasikan kenyataan mengerikan ini?

Di hari depan, saya tidak tahu akan seperti apa prilaku manusia kepada manusia. Mungkin akan lahir kesadaran untuk kembali belajar mejadi manusia sehingga hubungan antarmanusia dapat diperbaiki, karena bagaimanapun antara satu manusia dengan manusia yang lain saling membutuhkan. Namanya kemungkinan tentu saja selalu dua sisi, mungkin juga kepercayaan antarmanusia menjadi jauh lebih buruk dari hari ini, sehingga manusia sampai pada puncak pengingkaran terhadap sifat dasarnya yang makhluk sosial. Mungkin di hari depan, ketika kepercayaan sesama manusia benar-benar lenyap, teman manusia adalah jin dan teman para jin adalah manusia.[]


Dzulkifli Jumari, atau lebih akrab disapa Kanda Dzul, lahir di Cilegon, tepatnya di Link. Penauan, Ciwandan, pada 12 September 1995 dari pasangan Jemari dan Maesarah. Ia mulai aktif di dalam dunia pergerakan kemahasiswaan sejak tercatat sebagai mahasiswa di STIKOM Al-Khairiyah Citangkil, tepatnya ketika ia bergabung sebagai pengurus Badan Eksekutif (BEM) Mahasiswa STIKOM AK periode 2014/2015 dan 2015/2016. Kini ia menjadi pengurus HMI Cabang Kota Cilegon (2018/2019).


Rubrik ini diasuh oleh Fikri Habibi.

Editor : Andri Firmansyah

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar