Puisi

Sajak-sajak Abdul Wafa

Mei

bolehkah aku rindu kepada kanak-kanak?
dewasa itu, menyebalkan sekali.
terlalu banyak ketakutan di tempurung kepala
dan kegelisahan bergejolak setiap waktu
di inti dada.

menjadi tua memang bayang-bayang
yang menakutkan, Mei. sebab itu,
bolehkah aku rindu kepada masa di mana
aku memiliki keberanian yang polos?

mati tidak dapat aku hindar, Mei.
setiap kau datang, tangan mau mendekat.
itu pasti, Mei! jadi tidak ada jalan
untuk melarikan diri.

aku hanya ingin dibolehkan sekali saja
rindu kepada kanak-kanak
setidaknya, aku dapat merasakan kembali
bahwa aku pernah memiliki
kebahagiaan pada sekotak kelereng.

11 Mei, 2018

Layla

matamu adalah senja yang meneduhkan gelora matahari
suaramu adalah bunga yang bertumbuhan kastil kalbuku
dan senyummu adalah doa yang membuat langkahku
berarah kepada takdirmu

biar saja hutan seroban dipenuhi pertengkaran manusia
hari yang semakin sepi diaromai kegaduhan berita politik
dan pertengkaran yang mengganggu tidur seekor anjing
di pelataran seorang tuan yang angkuh

aku ingin meninggalkan semua dan menepi bersamamu
merasai kembali diriku sebagai manusia yang utuh

tentu kau tak keberatan menyanggah kepalaku yang berat
di dadamu. kita sama-sama menyaksikan cahaya langit
yang tenang dan berbicara tentang hal-hal kecil:
burung-burung yang membuat rumah di pelepah kelapa;
kampung-kampung tenteram tempat kita dilahirkan;
dan tubuh masamku karena sering lupa mandi pagi.

Layla, bersamamu memang tak berarti hidup tiada dukanya
tapi bersamamu, semua menjadi sedikit lebih sederhana

Sebentar

aku ingin menikmati angin
dan air sebelum awan
seketika menjadi mendung

biar kuhayati setiap langkah
anak-anak yang bermain bola
di lapangan kecil itu
betapa ringan dunia di kaki
anak-anak

tawa lepas, teriakan riang,
dan nyanyian panjang
tak berbatas pada awan hitam
semua menembus batas
langit yang pernah diangankan
manusia

hujan turun perlahan-lahan
matahari kemerahan redup
tubuh anak-anak kuyup
tapi tak ada permainan yang terhenti

wajah-wajah tanpa beban
di bawah hujan petang yang liris
seperti sebuah lonceng
berderai jauh ke masa lalu

Pada Suatu Malam

jangkrik, katak, tokek, cicak, belalang,
burung, kelelawar, ayam, dedaunan jatuh,
reranting patah, pepohonan tumbang
takbir manusia, angin menghambur,
pintu membuka, musik, pejalan kaki,
desing kendaraan, api menyala, air mengalir
aku mendengar semuanya. semuanya
masuk melalui satu pintu: telinga.
dadaku juga punya telinga. sesuatu
bergetaran di dalam. Sesuatu kadang
bertumbangan seperti dinding tebing
yang tak kuasa menerima serbuan air.
semua kudengar. masuk ke telinga
otakku. menjadi teror.
seperti desing senapan.

2 September 2017 


Abdul Wafa

Muhammad Akmil adalah nama pena dari Abdul Wafa. Menggeluti dunia penerbitan dan penulisan. Pernah menjadi Ketum HmI Komisariat STIKOM Al-Khairiyah periode 2016/2017.


Rubrik ini diasuh oleh M. Rois Rinaldi.

Editor : Esih Yuliasari

Related Articles

Berikan Komentar

Check Also

Close