Opini

Memaknai Idul Adha: Tuhan Tak Butuh Sembelihanmu

Masyarakat Mexico mempersembahkan jantung dan darah

biem.co – Idul Adha, yang juga kita sebut dengan “hari raya qurban”, sebenarnya adalah terjemahan harfiah dari “Idul Adha” itu sendiri. Secara terminologi, kata ”Id” terambil dari kata ‘aada-ya’uudu-‘iidan, yang berarti kembali pada asal (sesuatu). Senada dengan makna ini, itulah kenapa hari kiamat juga dinamai pula dengan yaumul mii’aad atau hari kembali, mengingat pada saat itu kita kembali pada keharibaan sang pencipta.

Sedangkan “Adha” secara etimologi berasal dari kata dhaha-yadha yang berarti pancaran yang melahirkan kedamaian jiwa dan ketentraman hati. Dari kata ini kemudian lahir makna dhuha, yang berarti waktu terpancarnya cahaya mentari yang meresapkan kedamaian dan ketentraman. Juga makna udhiyah yang berarti penyembelihan hewan yang berlangsung di waktu dhuha.

Bila kata “‘id” dan “adha” dirangkai menjadi ”idul adha” maka rangkaian kata ini akan bermakna kembali pada keadaan jiwa yang tentram nan damai, melalui penyembelihan hewan (qurban) yang dilakukan pada waktu dhuha (wallahu a’lam).

Pengucapan kata “Qurban” (bahasa arab) yang mungkin kemudian diserap ke dalam Bahasa Indonesia menjadi “korban”, bisa jadi memiliki akar kata yang sama. Dalam penggunaan sehari-hari, sering kita dengar istilah “korban” dan “berkorban”. Dimana biasanya jika kata “korban” identik dengan (analogi) “korban penganiayaan”, yang artinya kerugian seseorang yang diakibatkan orang lain. Sementara “berkorban” adalah suatu aktivitas yang menunjukkan kesetiaan atau mengandung makna kebaktian terhadap seseorang atau sesuatu.

Kata “korban” itu sendiri, boleh jadi terambil dari bahasa arab “qurban” yang memiliki akar kata qurb, yang dalam bahasa Indonesia artinya dekat dan sempurna. Sehingga istilah ini memberikan pemahaman sederhana bahwa “berqurban” adalah suatu aktvitas atau sarana atau sesuau yang dipersembahkan kepada Tuhan dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan ini adalah hal sempurna yang dipersembahkan untuk menunjukkan kesetiaan, pengagungan dan kebaktian kepada Tuhan. Hari raya qurban atau Idul Adha adalah hari raya dimana setiap yang mampu, disyariatkan menyembelih binatang qurban.

Dalam pemaknaan sebuah hubungan, manusia yang sadar akan penciptaannya akan merasa dirinya berhutang budi pada Tuhan. Ini karena pada mulanya manusia sangat dekat dengan-Nya. Dosa lah yang membuatnya menjauh dari-Nya, dan salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada-Nya (kembali) adalah dengan ber-qurban (berkorban).

Hal inilah yang kemudian menjadi tolak ukur kebaktian semua masyarakat beragama kepada tuhannya, yang dalam perkembangannya, manusia sadar bahwa semakin besar nilai yang dipersembahkan sebagai qurban, semakin tinggi nilai kedekatannya dan semakin tuhan senang kepadanya. Itu sebabnya, segala sesuatu yang kita persembahkan untuk tuhan (saat ini) adalah segala sesuatu yang dalam kalkulasi nilai adalah yang paling bagus atau paling besar (setidaknya) dalam perspektif kita sendiri.

Karena perasaan itulah, maka dalam sejarahnya manusia selalu mencari yang paling mahal dan paling bernilai untuk dipersembahkan kepada tuhan. Sampai akhirnya umat beragama tiba pada kondisi di mana mereka mempersembahkan sesuatu yang paling bernilai dari diri mereka sendiri: diri mereka sendiri (manusia).

Tuhan Menilai

Sejarah mengenal masyarakat Mesoamerika di Mexico yang memuaskan dahaga dewa matahari dengan mempersembahkan jantung dan darah manusia. Sang Dewa Perang, Odin pada masyarakat Viking dipuja dengan mempersembahkan pemuka agama yang diikat di pohon kayu dan dilempar dengan lembing sampai mati.

Masyarakat Mesir mempersembahkan gadis yang paling suci dan paling cantik dari komunitasnya dan ditenggelamkan di Sungai Nil sebagai bentuk persembahan kepada dewa kehidupan. Bahkan di Kan’an, Irak, agar tuhan tidak murka mereka mempersembahkan bayi hidup-hidup untuk disembelih.

Sampai pada masa Nabi Ibrahim, masyarakat mulai sadar bahwa sebenarnya mereka (manusia) terlalu bernilai untuk dipersembahkan kepada Tuhan. Pada saat itu sebagian besar pemikir dan para ahli agama mengusulkan untuk tidak mempersembahkan manusia (lagi) sebagai qurban, ia terlalu bernilai. Pada tahap ini, manusia menjadi sombong dan merasa istimewa. Karena itulah kemudian Allah swt menguji ketaatan Nabi Ibrahim dengan menyuruhnya menyembelih anak kesayangannya, Nabi Ismail. Saat akan disembelih, Malaikat kemudian datang dan menggantinya dengan seekor domba kibas.

Kenapa Allah terkesan mainmain? Kenapa tidak dari awal saja untuk tidak mempersembahkan Nabi Ismail (manusia)? Tentu kita semua tahu, dalam hal ini, Allah swt seakan-akan ingin menyatakan kepada manusia-manusia yang menyatakan dirinya pandai dan bernilai untuk tidak merasa istimewa. Bagi Tuhan, manusia yang paling kamu cintai sekalipun, jika diperintahkan-Nya untuk dikorbankan, korbankan! Saat Nabi Ismail hendak disembelih, Tuhan melarang dan menggantinya dengan seekor domba kibas. Bukan karena Ismail sebagai manusia terlalu mahal, tapi karena Tuhan terlalu mencintai manusia.

Hidup memerlukan pengorbanan. Idul Adha mengajarkannya. Lambangnya adalah penyembelihan. Menyembelih sifat-sifat hewan yang ada dalam diri kita. Tapi Tuhan tak pernah butuh dan menerima sembelihanmu. Tuhan hanya menerima ketakwaanmu. (Wallahu a’lam) – (EJ)

 

Editor : Jalaludin Ega

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *