Puisi

Sajak-sajak Aksan Taqwin Embe

Oleh Aksan Taqwin Embe

 

Asal Muasal Dendam

Sungai dan batu tak pernah
menolak bersentuhan. ketika kemarau runtuh
sorak bahagia tumbuh. perjumpaan tubuh
yang diikat jarak dan waktu.
bersarang dalam dendam.
kubuang pelan-pelan
mengalir lalu bermuara
di dalam dada. menjadi doa.

perjumpaan menjelma madu
kucecap lalu terbang menembus langit
dan sampai ke Tuhan.

dendam adalah asal muasal dari rindu
yang tak pernah
tepat waktu.
untuk menyatukan tubuh.

Tangerang Selatan, 2019

 

Pasca Putus

Binar rembulan matamu. di stasiun kupeluk sepi
dalam tubuh. mata terpejam.
di lorong peron-peron yang kering.

kereta belum juga datang. kau sudah lebih
dulu tandang. aku beranjak sejenak.
kursi tunggu melesap sepi. suaramu sayup-sayup
mendekat di daun telinga. mata kita kering
setiap waktu. tentu bukan kering kemarau.
atau tiba-tiba basah hujan. kita bukanlah musim
yang kerap menanggalkan kecemasan
dan kegelisahan.

Tangerang Selatan, 2019

 

Kucing Rumah Tangga

sebagai petanda
kucing-kucing rumah tangga
tak berani keluar rumah. mereka bersembunyi
di bawah meja. diam di kolong ranjang
seperti sedang terkepung.
diam dan tercenung.

kucing mencuri pandang
kelambu yang disingkap tuan. di luar kabut menebal.
mata kucing pedih tak bisa
mencipta cahaya. memburu tubuh
dan harapan setiap waktu.

api membara. pohon-pohon belantara.
lenyap seketika. keburukan mata adalah kabut
yang merata kemudian menyelinap ke rumah-rumah.
penuh ke lorong basah, jalan raya dan sampai tempat
awal kita bercinta.

sebagai peringatan yang diam
semestinya rumah adalah tempat pulang
melegakan dada. tertawa melenyapkan kelelahan
seperti kucing akan bahagia makan
ikan yang kering. berak di pasir belakang rumah.
dan nyatanya rumah kini menjadi
kekesalan dan dendam kepada tanah.

sebagai jalan
kabut menyelinap di dalam tubuh
tubuh kucing rumah tangga.
tubuh-tubuh yang kering dan balita

tak akan pernah kita ketahui.
sampai kapan pun. siapa yang memantik api
|untuk mengusir kucing rumah tangga?

Tangerang Selatan, 2019

 

Tukang Gendam

Kau sudah datang
lebih awal dari suara azan. memasuki pintu
belakang yang sedikit terbuka. Ia tahu keinginanya
segera tiba. menunggu di depan pintu.
wajahnya tampak gembira. menyeduh sacangkir kopi
untukmu. bibirnya perlahan bergetar.
ada kalimat harap dari bibirnya. meniup kopi
dengan mantera. kau meneguk hingga tandas.
kemudian rumah hanya menjadi pendaratan sementara
kau selalu tergesa menemuinya.
memasuki situasi lain yang diciptanya.

Tangerang Selatan, 2019

 

Tentang Aksan Taqwin Embe

Sastrawan Berkarya Tahun 2019 ke Kota 3T; Seruyan-Kalimantan Tengah , utusan Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Ia pernah terpilih sebagai perwakilan penulis muda Indonesia dalam Majelis Sastra Asia Tenggara, kategori cerpen 2018. Terpilih dalam Emerging Writers Ubud Writers and Readers Festival 2017. Saat ini ia bekerja menjadi guru di Insan Cendekia Madani, Serpong dan menjadi Redaktur Buletin Tanpa Batas.
Editor : Muhammad Iqwa Mu'tashim Billah

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Tulisan Ini Juga, Yuk!

Close