Resensi

Tantangan Umat Islam di Negara Non-Muslim

Resensi Oleh Hermansyah Kahir

Judul: Geliat Islam di Negeri Non-Muslim

Penulis: Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, MA

Penerbit: PT Pustaka Alvabet

Cetakan: Juni 2019

Tebal: 258 halaman

ISBN: 978-623-220-041-8

biem.co — Menjadi warga Indonesia begitu istimewa, karena selain penduduknya mayoritas Muslim, Indonesia juga terbilang sukses menjalankan demokrasi secara damai. Tentu saja hal ini adalah anugerah dan keistimewaan dibandingkan dengan negara Muslim di belahan dunia.

Sebab, “negara orang Islam” dan “negara demokrasi” adalah dua hal yang terbilang sulit diterapkan dan diterima oleh negara-negara Islam lainnya. Tak seperti Indonesia yang terbilang sukses memadukan keduanya.

Tantangan yang dihadapi oleh Muslim Indonesia tak serumit dengan saudara-saudara Muslim di negara-negara lain dimana mereka menjadi minoritas. Mereka menghadapi berbagai tantangan untuk menjalankan keyakinannya. Butuh perjuangan ekstra untuk tetap istiqamah menjalankan keislamannya.

Imam Besar Masjid Istiqlal, KH. Nasaruddin Umar, secara gamblang menjelaskan kondisi umat Islam yang hidup di negeri non-Muslim. Penjelasan tersebut terangkum dalam buku ‘Geliat Islam di Negara Non-Muslim’.

Buku ini merupakan catatan perjalanan Imam Besar Masjid Istiqlal ke beberapa negara di mana orang Islam menjadi minoritas. Ketika berkunjung ke beberapa negara di Eropa, Asia dan Amerika, ia banyak bertemu dan berdialog dengan banyak kalangan mengenai kondisi saudara-saudara Muslim di negara-negara tersebut.

Menjadi minoritas memang tidak gampang. Kelompok mayoritas umumnya tidak mengerti problem psikologis minoritas. Hal ini berlaku untuk siapa saja dan atas nama apa pun. Suasana kebatinan, spiritualitas, dan psikologis minoritas Muslim di negara-negara non-Muslim sering kali diabaikan (halaman 24).

Kelompok mayoritas tidak pernah merasakan bagaimana sulitnya melaksanakan ibadah salat, mencari makanan halal, para pekerja Muslim sering kali dipaksa untuk memakai pakaian seragam yang membuka aurat, anak-anak mereka sulit mengakses pendidikan agama, mereka sering dilecehkan karena memakai hijab, mereka dipersulit mendapatkan pekerjaan yang dianggap vital dan strategis hingga dianggap teroris ketika mengadakan pengajian (majelis taklim).

Kita bisa ambil contoh minoritas Muslim di negara Eropa seperti Spanyol yang dihadapkan pada problem sosial, dimana sering ditempatkan sebagai kelas dua. Diskriminasi sering diterima dan dirasakan, khususnya untuk mendapatkan akses kebebasan beragama dan berpolitik. Apalagi dikaitkan dengan meningkatnya terorisme yang selalu dialamatkan kepada Islam, sehingga komunitas Muslim Spanyol semakin mendapat tekanan (halaman 86).

Hal serupa juga terjadi di India. Di sana komunitas Muslim banyak mengalami perlakuan diskriminatif. Masih segar dalam ingatan bagaimana kerusuhan yang terjadi di Gujarat pada Februari 2002. Ratusan Muslim terbunuh, diperkosa dan dibakar hidup-hidup. Bahkan, hingga saat ini banyak di antara mereka yang masih tinggal di kamp-kamp pengungsi dengan kondisi sangat menyedihkan. Perlakuan diskriminatif lain adalah sulitnya kaum Muslim memperoleh pekerjaan sehingga mereka terpaksa menyamar menjadi Hindu untuk melamar pekerjaan tersebut.

Berbeda dengan Spanyol dan India. Umat Muslim di Amerika justru lebih leluasa menjalankan keyakinannya. Perkembangan Islam di Amerika berkembang pesat baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Atribut-atribut kaum Muslim dikenakan dimana-mana.

Itulah hebatnya Amerika, memberi kebebasan kepada warganya untuk mengekspresikan keyakinan dan kepercayaannya tanpa intervensi pemerintah, kecuali tentunya jika mengganggu ketertiban umum (halaman 108-181).

Apa yang penulis uraikan dalam buku ini akan menyadarkan dan membuka mata kita bahwa menjadi Muslim di negara non-Muslim penuh dengan berbagai tantangan yang tidak mudah dilewati. Berbeda dengan mayoritas Muslim di negeri ini yang bebas melaksanakan ibadah dan hidup berdampingan dengan penganut agama lain dengan penuh kebersamaan dan toleransi. (red)


Hermansyah Kahir adalah penulis buku ‘Meniti Jalan Perubahan’. Tinggal di Pamekasan, Madura, Jawa Tengah.

Editor : Happy Hawra

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *