Puisi

Sajak-sajak Wahyu Budiantoro

Orang-orang Paisano

Di bukit monterrey kabut lingsir
Udara menyadap aroma anggur
Cuaca kemarau panjang; sekering tenggorokan
Orang-orang paisano yang digerus nasib kenisbian

Jalur pendakian seperti undakan kematian
Perempuan bermata sukma menjaja pantat
Mata anjing menyalak kelaparan
Di sebelah pria bertubuh kekar serupa bajak laut;
Dia menyimpan kesedihan di saku baju robeknya

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Di bukit monterrey orang-orang paisano memuja st. cornelius
Di malam pemujaan, mereka membuat pesta anggur,
Lilin emas, spageti, dan cerutu
Topi meksiko menutupi kepala mereka dari maut yang sangsi

Tepat pukul 10 malam
Mereka menuju gereja, mempersiapkan ritual pemujaan
“Ave maria, gratia plena”
Ucapan itu menjadi mantra ampuh
Bagai suara burung yang berdecit di dalam dada mereka
Sepeti kristus yang memberkati usia

Di bukit monterrey, orang-orang menanam bahasa tandus
Di saku baju atau di antara mesin penggiling padi
Lampu keemasan menjaga jarak mereka dengan kematian
Castil tua menjadi tempat pembaringan mimpi
Lagu teguh dan suara kristus bergema di dalam altar jiwa

2020

Di Kereta

Aku menaiki kereta menuju selatan
Berbekal sungai kecil di mataku
Ac dingin, tangisan bayi, dan aroma balsam
Meruapkan epitaf hujan di kaca yang muram

Desit roda dan rel yang berkarat
Gerbong yang mengamuk memorandakan
Keheningan waktu yang kutinggal di stasiun

Di depanku duduk seorang perempuan paruh baya
“Kereta menjadi mazmur ruang tunggu
Mencatat sejarah para pekerja yang mati
Kehabisan udara” katanya

Pikiranku terlempar jauh ke zaman kolonial
Saat puluhan tawanan dimasukkan dalam gerbong maut
Dari bondowoso ke bubutan
Orangorang mati muspra karena menghirup aroma kencing
Serta panas yang memanggang tubuh mereka

Mata perempuan itu menyalak
“Kereta seperti keranda kematian saja” katanya lagi
Tetapi bagiku, kereta adalah titian sorga
Dan jiwaku adalah kuil tua yang akan
Menyambangi banyak stasiun

Aku menaiki kereta menuju selatan
Sungai kecil itu membanjir di bibirku
Hatiku gelisah seperti cerita pendakian coelho
“Mengapa bapak memilih kereta sebagai kendaraan?”
Tanyaku pada seorang bapak muda
“Karena kereta seperti rumah. Kau bisa tidur, makan,
buang air, melihat anak-anak berlari dan mati dengan gembira
kapan saja”

2020

Kuburan Menziarahi Manusia

Kuburan dihidupi peziarah, meski hanya
Puing-puing sejarah
Mulai dari hikayat seribu satu malam sampai hikayat damaraja
Seorang kiai yang meninggal dengan serban putih di kepala

Waktu tumpah di pusara
Mengabadi bersama catatan takdir masa silam
Kamboja gugur di kepala peziarah
Lembayung senja merajam anak cucu manusia

Di kota, kuburan menziarahi manusia
Maut mengintai seperti pengumuman istirah di kantor
Atau di mallmall menjulang
Maut tumbuh di tubuhmu; pembuluh darah pecah
Sewaktuwaktu

Di kota, kuburan cumalah bunyi kentongan
Pada gang padat penduduk
Seperti penjual kue putu yang dikerumuni
Begitulah maut di kota; dikebiri nafsu manusia

Kelahiran dan kepulangan tak lekang peristiwa
Di rel kereta api klender seorang mayat ditemukan
Konon dia bunuh diri setelah membaca pengumuman kematian tetangganya
Kuburan mencari alamat rumah manusia

2020

 

Fracture (2)

Kopi di depanku, blackout memuja lirik
Sedang aku menyembah wajahmu
Dadamu purnama, kupukupu hinggap di atasnya

Aku menulis puisi, dari tangan luka
Rumahku sunyi, kipas angin mengurai halaman buku
Suaramu menyeruak jauh di dalam jiwaku

Gerimis merayap, aroma tanah menyelinap ke hidung
Kopiku dingin seperti air yang menghunjami batu
Kulihat fotomu, menjelajah ingatan di kepala

Aku mendengar syiir pohonan, menyampaikan isyarat
Seperti burung membawa surat dari kerajaan
Bumi demam, masuk instalasi gawat darurat
Cinta diperban, berbaring di kamar kelas dua

Tak ada kipas angin; yang ada hanya udara ganjil
Kematian memancar di kamar sebelah; tangis pecah
Malaikat berkeliling memastikan nasib pasien yang lain
Sebelum perintah diketuk di atas kamar kelas dua
Kau dinyatakan sembuh

2020

 

Nonton Berita di Televisi

Hujan tidak pernah tepat prediksi
Januari tibatiba menenggelamkan kota
Sungai kecoklatan yang tersiar di televisi
Mengurai air mata sepasang pengantin yang kebelet kawin
Kucing, anjing, hingga tikus mencari pelampung

Hujan di kota sama derasnya dengan di desaku
Angin yang membabibuta, gedung ambruk, pohon tumbang
Mobil jadi bangkai, dan resolusi awal tahun yang ringkih
Cuaca lebih cerdik ketimbang siasat manusia
Aku menonton dengan kengerian dan bulu kuduk yang bangkit
Sebab, di depan rumahku, sungai kecil itu bisa saja meluap
Menenggelamkan resolusiku sendiri

Pada saluran televisi yang lain
Berita kenaikan harga emas antam menjadi kabar gembira
Bagi pialang; matanya yang jalang siap melanglang
Poripori buruh melebar, keringat siap untuk dikucurkan
Aku menonton dengan senyum tawar
Sebab, aku makin sulit meminang gadis pujaanku
“Maukah kau? Mahar emas kuganti dengan sebuah buku?”

Televisi adalah kamar persembunyian
Kata-kata menguapkan aroma banjir dari tubuh
Sungai kecoklatan menjadi seragam musim hujan
Jika banjir surut mulailah kembali dengan pembangunan
Ihwal riwayat kerajaan yang jauh
Hompimpah,
Kata-kata bersijingkat di ceruk bibirmu
Menanti cuaca kembali murka

2020

Kedai Kopi Pinggir Kali

Aku duduk di kedai kopi
Yang disusun dari bambu dan lampu remang
Pada sebuah perapian
Tungku memanggang kesunyianku

Aku pesan kopi robusta dicampur susu
Pahit dan manis yang tidak terlalu pekat
Serupa bibir merahmu yang dikecup waktu
Akukah waktu itu?

Dari barat hujan datang dengan tergesa
Membawa ruap wangi tubuhmu
Wajahmu yang bulat
Pipimu yang menggemaskan
Menyembul di cangkir kopiku

Segera kuteguk agar kau mengalir di
Dalam tubuhku
Menjadi darah dan gelora
Dan kau akan menjadi mata air
Bagi jiwaku yang retak

Aku duduk di kedai kopi
Mendoakan namamu kepada hujan
Lampu yang remang
Seperti isyarat batinku bahwa
Cinta selalu menciptakan kemungkinan

2020

 

Kediaman Ki Seoul Khan

Kediamanmu rupa panembahan
Matahari selalu terbit dari ruang tunggu
Di tembok, foto para kekasih hening
Melayangkan berkat saat ritual pemujaan

Kiy Seoul Khan
Wajahmu nubuat bagi hatiku yang pecah
Suaramu burung kenari di pagi hari
Kediamanmu ruang moksa
Untuk dunia yang gelisah

Orangorang meruah menjaga muruah
Termasuk aku; kerap salah kaprah
Menghayati usia dengan sisasisa harapan
“Pikiranmu adalah belati” katamu

Kau bercerita ihwal syekh dari timur
Juga pemuka dari darat, semarang
Dari kedua kutub itulah doa merekah di kediaman
Tuhan melesat ke penjuru mata angin

Kediamanmu rupa panembahan
Peristiwa di-sirr-kan dengan isyarat
Malam yang pekat jatuh di mataku
Aku bergegas untuk mendirikan sembahyang

2020


Tentang Penulis:

wahyu budiantoroWahyu Budiantoro. Lahir di Purwokerto, 10 April. Saat ini ia tercatat sebagai Kepala Sekolah sekaligus pengajar di Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban (SKSP) Purwokerto. Beberapa tulisnnya dipublikasikan di koran Republika, Basabasi.co, Suara Merdeka, Pikiran Rakyat, Bali Pos, Solo Pos, Harian Rakyat Sultra, Harian Fajar, Haluan, Minggu Pagi, Radar Mojokerto, Radar Banyumas, Analisa, Banjarmasin Post, Simalaba, Satelit Post, Nusantaranews.co, LP Maarif NU Jawa Tengah, Antologi Puisi Sastra Reboan, Antologi Puisi Banjarbaru Rainy Day Festival, dll. Buku pertamanya berjudul Aplikasi Teori Psikologi Sastra: Kajian Puisi dan Kehidupan Abdul Wachid B.S. (Kaldera Press, 2016). Tempat tinggalnya di Jl. Dr. Angka, Gg. III, No. 36, RT: 02 RW: VII, Sokanegara, Purwokerto Timur, Kab. Banyumas, Jawa Tengah, 53115. Sehari-hari bisa dihubungi via No. WA: 08979559154. Email: [email protected]

Editor: Happy Hawra

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button