Resensi

Budaya Urban yang Tak Pernah Mati

Judul buku: Urbanhype

Penulis: Novresheila Estu Y, dkk

Penerbit: Dewan Kesenian Surabaya

Tahun terbit: Desember 2019

Tebal: xii + 195 halaman

ISBN: 978-623-7283-41-6

Oleh Kanya Ahayu Ning Yatika Akasawakya

biem.co — Kehidupan masyarakat urban di tengah perkembangan teknologi mutakhir mempunyai peran sangat besar dalam memengaruhi corak kesusastraan Indonesia. 16 cerpen dalam buku kumpulan cerpen Urbanhype berusaha menanggapi wacana urban hari ini.

Kumpulan cerpen yang diterbitkan oleh Dewan Kesenian Surabaya tersebut ditulis oleh para Pemenang Lomba Cerpen Tingkat Nasional DKS 2019. Dalam buku ini, selain juga terdapat satu Pemenang Utama, terdapat pula lima Pemenang Impresif, dan sekaligus 10 Pemenang Favorit.

Kategori Pemenang Utama ditempati oleh cerpen Cityscape, karya Novresheila Estu Y. Kehidupan masyarakat urban digambarkan secara detail melalui setiap rangkaian peristiwa yang dialami tokohnya secara filmis. Novresheila, di cerita pendek tersebut, mengungkap sebuah kota, dan tokohnya yang bernama Kino, dalam mana ia bekerja sebagai penjaga arkade tempat bermain game di waktu malam.

Kendati bahasa asing masih berkelindan dalam cerpen ini, misalnya: playlist, power, game, spot, shift, rolling door—tentunya mengurangi nilai bahasa dalam sastra Indonesia, tetapi ia mampu menyampaikan sisi-sisi aktivitas kehidupan masyarakat urban melalui, antara lain: pekerjaan dengan sistem peralihan waktu kerja sebagai penjaga arkade, adanya penggambaran suasana kota secara terperinci di waktu malam. Bahasa penuturannya yang penuh kiasan, serta struktur cerita yang tak kalah apiknya: tak hanya tindakan jasmani yang menakjubkan, akan tetapi juga berkelabat sekian banyak pikiran.

Kategori Pemenang Impresif diduduki oleh lima cerpen: Joe dan Clara, Angin Subuh, Di Bawah Pohon Trembesi, Amin Si Anak Punk, dan Dobol.

Tak ubahnya Cityscape, yang menggunakan latar waktu yang sepenuhnya malam sampai pagi, Angin Subuh, karya Nashrullah Ali Fauzi pun memiliki latar waktu sama, yakni malam, bahkan dini hari sampai subuh.

Penggunaan sudut pandang orang pertama ‘saya’ yang disampaikan oleh dua narator, membuat struktur naratif dalam cerpen Angin Subuh begitu menarik. Cerpen ini menanggapi realitas terhadap seorang ibu yang membuang bayinya, kendati pada akhirnya ia memutuskan untuk kembali mengambilnya. Nashrullah berhasil menciptakan adegan membuang bayi tanpa menyelipkan kata ‘membuang’ dalam cerpen tersebut.

Sebagai tumpuan bahwa Angin Subuh termasuk dalam cerita urban, penulis melatari ceritanya di sebuah taksi, gang kumuh, kedai, jalanan kota, lampu lalu lintas, terminal bus, dan yang lebih krusial ialah aktivitas di malam hari, lebih tepatnya dini hari. Dengan dua tokoh utama, penulis lihai membuat narasi dan dialog secara proposional.

Berbeda dengan Cityscape yang membicarakan kunang-kunang di tengah taman kota, dalam cerpen Joe dan Clara karya Y. Agusta Ahir, kunang-kunang menjadi alat mengingat masa kanak-kanak Martono dan Hartini saat bermain di sawah.

Joe dan Clara ialah nama tokoh dalam cerita pendek tersebut. Tiada terduga bahwa nama yang dibebankan penulis kepada tokohnya tidak merepresentasikan identitas gender yang sesungguhnya. Bahwa secara konvensional nama Joe bergender laki-laki, sedangkan Clara perempuan. Namun, di akhir cerita, penulis mengungkap bahwa sebenarnya Joe bernama Hartini dan Clara adalah Martono (hal. 27).

Sebagai penanda bahwa cerita dalam Joe dan Clara berbau urban, penulis memasukkan kemodernan dengan kecanggihan teknologi untuk berbagi lokasi (hal. 24). Selain itu, sebagai fondasi cerita, penulis membuat latar ceritanya di sebuah kafe, di mana menggambarkan suasana kehidupan kota.

Hampir mirip dengan Joe dan Clara, selain menggunakan latar kafe, Di Bawah Pohon Trembesi karya Muhammad Naufal Mahdi, bahkan mengekspos keramaian mal. Penulis menggunakan sudut pandang orang ketiga yang ditempatkan secara bergantian antartokoh: oposisi rombongan gembel dan pemilik kafe.

Berikutnya, Dobol karya Dewanto Amin Sadono dan cerpen Amin Si Anak Punk karya Rella Mart, keduanya berusaha melambangkan masyarakat urban dengan menginisialisasi menggunakan kata ‘kota’ atau ‘urban’. Meskipun cara melukiskan kehidupan urban dalam cerita Dobol sama seperti Amin Si Anak Punk, yakni sama-sama tidak melulu urban dalam lingkup taman kota yang indah, teknologi mutakhir yang canggih, tetapi masyarakat urban pada Dobol lebih terperinci dengan segala eksperimen absurditasnya.

Sedangkan cerpen Amin Si Anak Punk, lebih menonjolkan kehidupan anak punk, kendati penggambaran kota tidak mendominasi. Dari segi struktur, cerita tampak klise: tiada tanjakan di setiap adegan, suspensi pun tidak ada, hanya ada kejutan di akhir cerita, itu pun terkesan mendadak dalam mengakhiri.

Berselancar di Dunia Layar

Selanjutnya ada 10 cerpen dalam kategori Pemenang Favorit yang berjudul: Apartemen Tengah Kota, Etika Merebut Harta Mertua, Go-Kill, Kisah Patah Hati yang Picisan, Nudis Club, Sarapan Pengundang Tangis Dan Tawa, Sebuah Firman Yang Menetas Lantas Menetes Dalam Kepala, Sebuah Usaha Menulis Cerita Pendek, Semester Ini Saka Tetaplah Si Tambun, Transkip Tabu.

Dalam kategori ini, penggambaran masyarakat urban tampak hanya tersampir dalam cerita, tidak menjadi pokok utama. Aktivitas urban dalam cerpen Go-Kill karya Mochamad Nasrullah disampaikan melalui kata ‘tengah kota’ dan ‘klub’, gawai, video iklan go-kill (hal. 105-106). Go-kill yang dijadikan penulis sebagai judul, tidak menjadi subjek utama. Cerita pembunuhan diselingi oleh kisah-kisah silat yang tampak mendominasi, sementara tanda-tanda urban kurang memiliki proporsi sehingga elemen masyarakat urban tampak hanya menjadi pemanis.

Ada pula cerpen yang berupaya membahas aktivitas masyarakat urban dari segala sisi, tetapi cara penyampaian cerita agaknya kurang tepat, tampak hanya memasuk-masukkan ide urban. Hal ini sebagaimana tampak dalam cerpen Apartemen Tengah Kota, karya M Agung Triwijaya. Struktur cerita dalam cerpen ini berbentuk fragmen-fragmen, menceritakan setiap tokoh dalam kamar-kamar sebuah apartemen, sehingga terkesan kehidupan urban satu dengan lainnya tidak memiliki kausalitas. Kendatipun demikian, cerpen Apartemen Tengah Kota secara ide dasarnya bagus, akan tetapi dialog lebih mendominasi tanpa karakterisasi yang kuat di dalam narasi, meskipun ada selingan cerita lain sebagai metafor.

Kehidupan masyarakat urban tak terlepas oleh media sosial. Cerpen Transkip Tabu gubahan Ferry Fansuri, menggunakan sudut pandang orang pertama. Ia menggunakan robot sebagai narator. Bentuk cerita ini menyesuaikan dengan isi, meski pada dasarnya cara bertutur tampak seperti menarasikan status media sosial.

Lain daripada itu, karya Ardi Wina Saputra dengan judul Etika Merebut Harta Mertua, dari segi struktur cerita, memiliki struktur tiga babak, termasuk suspensi dalam setiap paragrafnya dan kejutan di akhir cerita. Kehidupan urban yang terdapat dalam cerpen ini ialah perihal kehidupan seorang perempuan yang gila harta, memiliki komunitas, gemar menyiarkan secara langsung kehidupannya di Instagram, memasukkan unsur permainan ‘mobile legend’.

Masih seputar aplikasi daring (online) yang sedang marak pada masyarakat urban, cerpen karya Dimas Setyawan berjudul Semester Ini Saka Tetaplah Si Tambun, pun memasukkan aplikasi Instagram, Whatsapp, dan Youtube. Lingkup kegiatan masyarakat urban terletak pada kesenangan untuk menggulirkan layar gawai, transaksi jual-beli daring. Secara garis besar, cerita hanya berisi perihal penipuan melalui internet, tetapi penulis pandai untuk mengulur-ulur cerita.

Sebagaimana terdapat dalam cerpen Kisah Patah Hati yang Picisan karya Adhimas Prasetyo, juga mengandung unsur transaksi daring. Kehidupan urban yang diangkat ialah penulisan naskah buku secara daring, sering disebut sebagai ghost writer (hal. 114), yang tentunya memerlukan adanya ponsel pintar. Struktur cerita dalam cerpen ini terasa tawar, tiada suspensi dan kejutan.

Beda transaksi daring yang dikemas oleh B.E Raynangge dalam cerpennya berjudul Sarapan Pengundang Tangis Dan Tawa, di sini penulis mengangkat ojek aplikasi daring sebagai unsur kehidupan urban (hal. 135). Selain itu, penulis juga memasukkan kegiatan membuka status Whatsapp dan Instagram.

Yang paling menarik dari cerpen ini bukanlah perihal pengangkatan unsur urban, tetapi pengemasan ide dan struktur cerita dengan akhir kisah yang terbuka, di mana pembaca memiliki aksesibilitas untuk menemukan kesimpulan cerita. Seperti judulnya, meskipun tidak kentara, tawa dan tangis dalam cerpen ini begitu berkelindan, sehingga cerita tidak terasa hambar.

Melalui penulis yang sama, tetapi berbeda judul, yakni Sebuah Usaha Menulis Cerita Pendek, B.E Raynangge juga mengemas cerpannya ini secara berbeda. Dalam cerpen ini penulis tidak lagi memasukkan unsur urban yang berkaitan dengan ponsel pintar, melainkan lewat adanya blog, komunitas cosplay, menempatkan latar kafe. Perbedaannya pula terletak pada struktur cerita, di mana penulis tidak menggunakan akhir kisah yang terbuka, melainkan tertutup.

Untuk dapat menggambarkan kehidupan urban, bahkan ada pula satu cerita yang menggunakan latar tempat luar negeri, yakni Nudis Club karya Eko Darmoko. Tokoh yang diciptakan harus pergi ke luar demi mencari cintanya. Selain latar tempat, kehidupan urban yang ditonjolkan penulis ialah adanya aktivitas Nudis Club di Munich, Singapura, di mana orang dibebaskan untuk bertelanjang tanpa gangguan. Alih-alih memiliki struktur cerita yang seimbang, justru dipenuh-jejali oleh dialog ketimbang karakterisasi dalam bentuk narasi.

Persoalan urban tidak selamanya digambarkan dengan keindahan kota, keramaian mal, gawai, tetapi dapat berupa isu sosial, seperti pengeboman sebuah gereja. Hal ini tampak Sebuah Firman Yang Menetas Lantas Menetes Dalam Kepala, karya Norilla. latar tempat dalam cerpen ini hanyalah selintas gang-gang sempit, got-got, dan warteg. Sementara itu ideologi yang sangat sensitif dalam cerpen ini, dibalut dengan kiasan-kiasan.

Kumpulan cerpen Urbanhype menjadi tak hanya sekadar cermin atas kehidupan masyarakat urban, tetapi juga berkilandan absurditas teknologi yang terkadang tak terbayangkan di dalam setiap kepala yang hidup hari ini. Persoalannya kemudian, seberapa jauh karya sastra berkemampuan menanggapi geliat budaya urban yang tak pernah mati di tengah pergulatan antarwacana. (*)


Tentang Penulis

Kanya Ahayu Ning Yatika Akasawakya berasal dari Kudus, Jawa Tengah dan berdomisili di Tangerang Selatan. Kini ia masih menyelesaikan studi strata satu di Institut Kesenian Jakarta dengan mayor Kajian Sinema. Ia bisa dihubungi melalui surel [email protected] atau telepon +6285727374619.

Editor : Happy Hawra
Tags

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button