Kabar

Bagaimana “Imlek” dan “Hujan” bisa Berbarengan? Ini Mitos dan Ilmiahnya

Turunnya hujan pada tahun baru Imlek juga dimaknai sebagai berkah bagi warga Tionghoa

biem.co — Tahun baru Tionghoa atau yang kerap disebut Imlek yang akan jatuh pada besok hari jumat (16/2) merupakan salah satu perayaan penting bagi masyarakat Tionghoa yang ada di indonesia maupun diseluruh dunia.

Tidak hanya barongsai dan lampion saja yang identik dengan perayan imlek di indonesia, tetapi ada satu hal yang menarik saat Imlek yaitu hujan yang senantiasa mengguyur pada hari perayaan tersebut, seperti di daerah Serang dan sekitarnya sudah hampir seminggu lalu diguyur hujan dari intensitas rendah ke tinggi. Dan ini yang mengaitkan antara hujan dan perayaan imlek ada hubungannya.

Melansir dari berbagai sumber yang ada, mitos terkait perayaan Imlek yang memengaruhi cuaca karena adanya pertengkaran antara Shio Lama dengan Shio Baru yang akan menggantikan. Itulah cerita yang beredar dimasyarakat Tionghoa di indonesia.

Shio merupakan zodiak Tionghoa yang memakai hewan-hewan untuk melambangkan tahun, bulan, dan waktu dalam astrologi Tionghoa. Pada dasarnya, hewan-hewan ini diambil melambangkan 12 cabang bumi yang kemudian digabung bersama lima unsur yang membentuk satu periode 60 tahun.

Lantas adakah hal ilmiah terkait hujan dan Imlek ?

Karena periode Imlek terjadi antara bulan Januari dan Februari, sehingga identik dan bersamaan dengan bulan-bulan puncaknya musim hujan. Tahun baru Imlek memang jatuh antara akhir Januari dan awal Februari.

Hal ini terjadi karena penghitungan hari dalam Imlek merupakan gabungan berdasarkan fase bulan mengelilingi bumi dengan bumi mengelilingi matahari (lunisolar). Itulah sebabnya hari dalam tahun Imlek tidak sama dengan kalender Masehi ataupun Hijriah.

Secara umum, bulan Januari – Februari merupakan bulan puncak musim hujan untuk wilayah Indonesia di sebelah selatan Khatulistiwa. Jika dilihat secara klimatologisnya, pertengahan Januari – pertengahan Februari merupakan periode potensi curah hujan yang tinggi dan intensif.

Adapun pandangan lain menurut sejarah masyarakat Tionghoa, bahwasannya Imlek memang merupakan awal hari musim semi yang dirayakan oleh leluhur orang Tionghoa di China. Setelah berbulan-bulan diselimuti musim dingin dan tak dapat bercocok tanam, mereka bahagia saat musim semi tiba. Turunnya hujan pada tahun baru Imlek juga dimaknai sebagai berkah bagi warga Tionghoa. (IY)

Editor : Redaksi

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar