InspirasiSosok

Virginia Woolf: Sosok Penulis dalam Google Doodle Hari Ini

biem.co — Hari ini bertepatan pada tanggal kelahiran penulis asal London, yakni Virginia Woolf. Diketahui bahwa, dalam laman pencarian Google terdapat gambar seorang perempuan tua menghadap samping yang berada di dalam sebuah frame dan berhias daun Maple.

Virginia adalah seorang novelis Inggris yang dianggap salah satu tokoh terbesar sastra mordernis dari abad 20. Walaupun ia seringkali disebut sebagai seorang feminis, ia menyangkal julukan tersebut, karena ia merasa itu menunjukkan suatu obsesi dengan wanita dan permasalahan wanita. Dia memilih disebut seorang humanis.

Wanita kelahiran 25 Januari 1882 ini, lahir dalam keluarga kelas atas yang semasa kecilnya sudah dijejali buku-buku bacaan oleh orang tuanya.

Dilansir dari beberapa sumber, Virginia adalah seorang penulis sukses yang saat itu telah menerbitkan sekitar 40 lebih buku mulai dari Novel, Cerpen, Esai, dan Non-Fiksi lainnya.

Selama 1905-1912, Virginia tinggal berpindah-pindah di kawasan Bloomsbury, London. Ia wanita terpandang dan seorang yang jenius. Di sini ia bertemu dengan Leonard Woolf, yang kemudian menikahinya pada tahun 1912. Leonard merupakan pria yang dapat memahami kepekaan perasaan Virginia dan hasratnya yang tinggi untuk berkarya. Virginia aktif menulis kritik anonim di Times Literary Supplements. Ia juga produktif menulis novel The YearsVoyage OutNight and DayMrs Dalloway dan The Waves. Bahkan bersama suaminya, ia mendirikan penerbitan Hogarth Press.

Virginia adalah pengagum Freud. Di tahun 1939, ia pernah bertemu dengan Freud yang telah renta. Ia sepakat akan analisis Freud tentang mimpi, halusinasi, tapi tak setuju bahwa seseorang harus diserahkan untuk dianalisis. Virginia berontak diposisikan sebagai pasien. Ia menjadi dokter bagi dirinya, menganalisis kecemasan-kecemasan dirinya sendiri melalui novel dan otobiografinya.

Mengarungi dunia Virginia adalah menyelami sebuah sungai tanpa muara. Dalam lingkungan Bloomsbury, ia dikenal sebagai seorang perempuan cerdas, tangkas, hangat, pendengar yang baik. Seseorang yang juga tampil anggun, menawan di depan umum. Tapi, saat diserang, ia bisa berbalik seratus delapan puluh derajat.

Sampai saat ini sosok Virginia masih dianggap penuh misteri, dan terus dicoba untuk dikuak dan dibeberkan. Namun karya-karyanya hingga saat ini terus dibaca banyak orang, bahkan ditelaah sebagai karya-karya dengan nilai sastra yang sangat tinggi. Dirinya sempat disebut memiliki penyimpangan seksual atau menyukai sesama jenis (lesbian). Pasalnya hampir semua karyanya membahas soal wanita. Ternyata belakangan diketahui dirinya justru menulis mewakili perasaan wanita yang depresi dan memiliki masa lalu yang buruk.

Dilansir dari viva.co.id, pada tahun 1895, Virginia melakukan usaha bunuh diri pertamanya—mencoba melompat dari jendela, tak lama setelah ibunya meninggal. Selama Perang Dunia II berkecamuk di Eropa, Woolf mengalami depresi berat.

Puncaknya, pada 28 Maret 1941, beberapa saat sebelum bunuh diri, Woolf mengenakan mantel yang di dalamnya diisi batu. Ia lalu berjalan ke Sungai Ouse di North Yorkshire, Inggris, untuk kemudian terjun ke sungai itu.

Aparat kepolisian menemukan mayatnya tiga minggu kemudian. Meski telah tiada, namun karya-karya Woolf bergaung selama gerakan feminisme era 1970an, sekaligus menjadi salah satu penulis paling berpengaruh di abad ke-21.

Sejak kanak-kanak, dia memang mengalami tekanan jiwa yang amat berat, Woolf menjadi anak yatim sejak berusia 13 tahun. Ibunya, Julia Prinsep Stephen meninggal dunia secara mendadak pada usia 49 tahun. Dua tahun kemudian, saudari tirinya bernama Stella juga meninggal. Sembilan tahun kemudian, ayahnya bernama Leslie Stephen meninggal dunia pada usia 71 tahun. Hal ini kemudian membuat Woolf depresi akibat ditinggal selama-lamanya kedua orang yang amat disayanginya. (uti)

Editor : Happy Hawra

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar