InspirasiPuisi

Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara

Pejuang Antung Gufransyah

Di tiga belas malam yang menjadi belahan waktu
Gufran; menerabas derita romusha
ia berlari, menghindari serbuan tentara
tengkurap dan terperangkap di rimba hutan

Seperti detik-detik jam yang terlipat
ia rangkai kalimat—tak terucap
di bawah kakinya
teman seperjuangan seperti daun-daun berguguran

Berlari dia, menjauhi pasukan Heiho
dari Kota Banjar hingga Tanjung Muara Kaman
tubuhnya menjelma burung malam
terbang melintasi kematian
dan lambai-lambaikan nyawanya sendiri

Laksamana rentetan kelam
ia dinginkan sebuah berita
saksi bisu medan waktu
membawa nasibnya ke Samboja Alam Roh.

Ia kemudian menangis lepas dan terkulai lemah di Kapal Sukahaji.

2023

10 Syuhada Gugur
– Mengenang Taman Makam Pahlawan Dharma Agung Balikpapan

Tugu saling berbanjar
dunia pilu sedang mereka ajar
bayang-bayang kekalutan
menjadi butir pil pahit
dan menelan nama-nama gugur itu

Tak lagi mereka hiraukan
di sangkur senjatanya
sebab pangkuan kakinya
sudah membiru, batu

Terhunuskah? atau di tubuhnya
masih membawa aksi sorai massa
serdadu-serdadu Belanda

“Nyawa tidak dibeli!”
“Nyawa tak memberi!”

Misi berbahaya selalu hadir di depan mata
pecah! tembak-menagak
menggelegar di atas udara

Sepuluh syuhada telah gugur
benteng-benteng musuh; nian terkubur
memori terkapar dari darah-darah yang mengalir
mengingat mata yang tak saling berkedip
menatap pucat ia letakkan mandau dari sakunya
kuburan penghormatan bagi kawan seperjuangannya.

2023

Perempuan Berhati Singa
     Untuk Munah Binti Baco

Adakah yang lebih berani dari jumpalitan seorang penjajah?
satu pembenaran itu telah jatuh kepada si Munah

Tak sepatak pun ia gasak
tubuh mungilnya
di pundak orang Eropa
yang culas diperas
disisit dan didabuk keras-keras

Bumi Kalimantan ini, saudara
tidak perlu kaus kutang
untuk mengecoh si buaya putih
duri-duri yang melekat di kulitnya
cukup digepuk dan dibentuk menjadi pesut

Sesudahnya kasihkan saja sajian darurat itu
lalu buang segala invasi dan kolonisasi
pengeboman Jalan Minyak dan kediaman Kuleng-Papan

2023

Transaksi Peluru
: Anang Atjil & Hasjirin 1942

Ketika berjuang dulu, bung berani mati di depan sekali merah berkibar di aliran darah, putih di tulang belulang para pemuda tua-muda berjiwa baja pekikan: Merdeka! senapan bersangkur lawan tetap diterjang meski tak tahu nasib langkah di masa depan

Ketika merdeka kini, bung tersisih di depan sekali merah masih berkibar di aliran darah, putih di tulang belulang

nanar mata menatap usia yang makin menipis tak ada yang ulurkan tangan hapus derita sekujur raga makin tak tahu nasib langkah di hari renta

tersia siakan di belantara kota yang dulu bapak bela dengan pertaruhan nyawa

Ketika reformasi, bung mati sendiri di depan sekali lebih memedihkan daripada ditikam sangkur penjajah tak ada tangis dan ucapan bela sungkawa tersisih diantara pesta pesta dan gelak tawa yang menggelegar membunuh bung berkali kali.

2023

Pertempuran di Muara Rapak

Riap sejarah memahat kelam
terajut jahitan di pelipis mata
kami melihat rumor terselubung
pencuri masuk ke dalam bumbung-bumbung bambu
tinggi, diselempang laras hitam nan legam.

Ketika pagi begitu cekat, kami saling berkutat; merambat
sekumpulan prajurit lewat tegap-berderap
sepatu putihnya yang mengilap, seragam ambisinya mengilat
membuat kami kembali, berdiri
mengisi sejurus amunisi

Gunung Satu menjadi pertempuran darat
dikemudikannya tubuh-tubuh melayat
seratus kompek merah kami lilitkan
di tongkat-tongkat kayu
dan menyangganya dengan batu-batu

Kota terbakar! kota terbakar!
satu tribun menaiki suar utara
ditariknya tiang-tiang bendera
bergerilya semangat pusara

Merdeka! merdeka!
tak kunjung mampusderitajua
berniat padu untuk menyerah
sekonyong-konyong tombak melayang
sebonyok-bonyok luka di badan
serbu satu! dari arah berlawanan!

2023

Makam Pangeran Karta Intan

Ketika langit menurunkan berkah
masih ada juga yang melontar caci maki
menista mengotori nurani bangsa
oh, pejuang renta, apa kau masih juga termangu menatap serpihan jiwa yang tak terlihat mata
menguap bagai kata kata tak berarti apa apa jangan mengiba balas jasa

Ketika langit memuntahkan murka masih adakah yang berani kepalkan tangan memekik:
Merdeka!
oh, pejuang renta, apa kau masih juga termangu
melihat kawan kawanmu yang masih tersisa
berkalang duka tak ada setetes iba ulurkan tangan menyeka keringat mereka

Ketika langit tidak lagi berwarna apa apa
masih adakah yang mau melontar tanya sepanjang langkah di bumi merdeka
oh, pejuang renta, apa kau masih juga termangu
hingga usia memutih meniti akhir
dan mata yang makin lamur bekaca kaca
menatap nisan nisan usang tanpa nama membungkus tulang tulang entah milik siapa?

2023

Rifqi Septian Dewantara asal Balikpapan, Kalimantan Timur Mei 1998. Karya-karyanya pernah tersebar di beberapa media online dan buku antologi puisi bersama. Kini, bergiat dan berkarya di Halmahera, Maluku Utara. Bisa disapa melalui Facebook: Rifqi Septian Dewantara.

Editor: admin

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button