CerpenInspirasi

Serial Ramadhan: 30 Hari Menafsir Kehidupan (Bagian 8)

Episode Hasrat untuk Berbagi

 

Belum sempat membaca kisah sebelumnya? Klik di sini!

 

DUA minggu sudah Ramadhan berkurang. Dua minggu pula ayahandanya tercinta kembali ke pangkuan Ilahi. Masih lekat gambarannya dibenak Adi, bagaimana munculnya banyak lintasan peristiwa kehidupan yang menyebabkan Adi sangat ingin mengisi Ramadhan kali ini dengan sangat bersungguh-sungguh.

 

Satu ilham yang muncul ketika Adi turun ke liang lahat adalah sebuah kenyataan bahwa hampir semua manusia akan merasakan diri sebagai seorang yatim-piatu. Itulah sebabnya, pikir Adi, baginda Rasul Muhammad sangat menyarankan agar ummatnya menyayangi dan mengasihi anak yatim.

 

Tentulah nelangsa yang mendalam, manakala seseorang ditinggal orangtuanya saat usia mentah. Ketika usia anak-anak, seseorang sangat membutuhkan kelembutan dan kasih sayang kedua ibu-bapaknya, dan saat remaja, seseorang itu tengah berproses mencari jati diri serta membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk pendidikan. Beruntung, Adi mendapatkan kasih sayang dan pendidikan yang mencukupi hingga melewati usia remajanya.

 

Sebagai pengobat rasa prihatin pada nasib yatim-piatu, Adi berusaha menemui Mutaqie, seorang anak muda yang giat mengabdikan dirinya pada sebuah organisasi yang mengurusi anak anak yatim di kotanya.

 

Dinyalakannya motor yang sejak pagi sudah dicuci dan dibersihkan. Dalam hitungan menit, motor kelas bebek itu telah berada di tengah keramaian kota yang semakin hari semakin padat akibat banyaknya kendaraan roda dua dan roda empat yang bertambah, “Moga-moga ini menunjukkan bahwa  kemakmuran penduduk kota semakin meningkat,” Adi membatin.

 

Adi menyusuri jalan kecil sebelum masuk ke gang tempat Muttaqie tinggal. Setibanya di depan pagar rumah Muttaqie, Adi meletakkan motor dengan menurunkan standarnya.

 

"Assalamu'alaikum," Adi mengucap salam. Tak ada sahutan dari dalam rumah.

 

"Assalamu'alaikum…” ucapnya sekali lagi. Hening.

 

 

"Allahu Akbar…" sayup-sayup Adi mendengar suara takbir dari dalam.

 

"Hmmm, rupanya Muttaqie sedang melaksanakan shalat Dhuha. Astaghfirullah, aku mengganggu kegiatan ibadahnya," batin Adi dalam hati.

 

Adi menunggu beberapa saat, duduk di tembok yang menempel di depan pagar.

Terdengar derap langkah kaki ke arah pintu. Krek! Gagangnya berbunyi, diikuti tubuh Muttaqie menyembul dari balik daun pintu yang dibukanya.

 

"Wa'alaikum salam" Muttaqie keluar dan membukakan pagar. “Wah, Bang Adi, ada apa, nih, tumben nggak kasih kabar dulu kalau mau kemari?" sapa Muttaqie.

 

Adi tertawa kecil. “Hehehe, ya, coba-coba saja, siapa tahu kamu ada di rumah, dan ternyata, alhamdulillah, emang betul ada," jawab Adi sembari menjabat salam dari Muttaqie.

 

"Mari masuk, Bang!" ucap Mutaqqie sambil berjalan ke dalam rumah dan menyilakan Adi duduk di ruang tamunya.

 

"Ada apa gerangan, Sahabat, sehingga sepagi ini sudah menyempatkan diri berkunjung ke istanaku?" gurau Muttaqie menirukan logat Minang yang dilihatnya dalam film 'Tenggelamnya Kapal Van der Wick'.

 

"Ah, kau Taqi…" ucap Adi dengan menyebut nama kecil Muttaqie.

 

"Entah kenapa, aku tiba-iba ingin meniru kamu dalam kegiatan sosial untuk mengisi waktu luang selama Ramadhan ini," Adi melanjutkan maksud kedatangannya.

 

"Lho… pak guru sesibuk Abang masih sempat mencari kegiatan lain? Yang aku lakukan hanya dikerjakan oleh orang-orang pengangguran yang tidak ada pekerjaan, Bang. Apa iya Abang mau ikutan?" tanya Taqi penuh tanya melihat seorang pegawai negeri yang masih ingin mengurusi masalah anak-anak jalanan, anak yatim dhuafa, dan anak terlantar lainnya.

 

Sementara Adi memperhatikan secara serius kata demi kata yang Taqi sampaikan.

 

"Jangan merendahlah, Taqi!" ucap Adi sambil menepuk bahu Taqi.

 

"Abang tahu, di tangan kamu, banyak anak jalanan dan anak yatim yang bisa tetap bersekolah seperti si Andi yang sekolah di sekolah tempat aku mengajar. Dia anak yang pintar sekalipun pagi pagi sekali harus mengayuh sepeda untuk mengantarkan koran," Andi berseloroh. "Menurutku itu pekerjaan mulia, karena Andi bercerita tentang bagaimana kau mengajari mereka tentang agama, memberi mereka semangat, hingga mencarikan dana untuk membayar tagihan SPP mereka," tambah Andi dengan mata tajam menatap Taqi.

 

Sudah lima tahun Taqi dipercaya menjadi semacam kordinator wilayah dari sebuah lembaga filantropi yang bergerak daam bidang pemberian santunan dan pemberdayaan kaum dhuafa di kotanya. Dia bertanggung jawab mencari dana melalui orang-orang yang hendak menunaikan kewajiban zakat, infak, dan sedekah, sekaligus menyusun program santunan dan pemberdayaan bagi kaum dhuafa dan anak yatim.

 

Dengan keluwesan, supel serta ramahnya Taqi dalam menjalin komunikasi, semakin hari semakin banyak donatur yang menyalurkan ZIS-nya kepada lembaga yang dipimpin anak muda itu, karena mereka mengetahui pasti penggunaan dan pertanggung jawaban pemakaian dananya melalui laporan rutin yang diterbitkan setiap bulan sekali.

 

"Baiklah kalau begitu, bagaimana jika nanti sore abang ikut dengan saya untuk berbuka bersama para pemulung yang ada di kolong jembatan dekat alun-alun kita?" ajak Taqi kepada Adi, agar Adi bisa mengetahui betapa sulitnya kehidupan orang orang dhuafa yang dibina Taqi.

 

"Baiklah, nanti sore saya akan kembali ke sini untuk ikut dengan kamu, ya!" jawab Adi bersemangat.

(Bersambung)


Penulis: Boyke Pribadi

Editor: Setiawan Chogah

Editor :

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *