CerpenInspirasi

Serial Ramadhan: 30 Hari Menafsir Kehidupan (Bagian 19)

Episode Mestakung

 

Baca episode sebelumnya, yuk! Klik di sini, ya!

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

 

SAHUR kali ini, Adi bangun dengan penuh semangat, semua rasa letih lelah dan lemas akibat sakit flu yang dideritanya selama tiga hari terakhir sirna sudah. Perasaanya sudah pulih, kondisi tubuhnya telah segar dan bugar seperti sediakala.

 

Setelah kemarin Adi membuka situs salingsapa.com dan menonton beberapa ceramah dari ustad-ustad kondang, Adi mendapatkan beberapa inspirasi baru yang menambah semangatnya untuk menata ulang arah dan tujuan kehidupan yang selama ini dijalaninya.

 

Selama hampir dua puluh hari melewati masa Ramadhan, Adi banyak merenungkan berbagai kejadian dan peristiwa yang pernah dan sedang dialami, dan kesemuanya selalu berusaha dikaitkan dengan Sang Maha Pencipta.

 

Usai santap sahur sambil menunggu kumandang azan Subuh, Adi menyempatkan diri menonton tayangan tausyiah di layar kaca. Materi yang disampaikan adalah tentang doa yang selalu dipanjatkan Rasulullah yang dikutip dari hadis riwayat Thabrani.

 

Allaahumma innii as’aluka rahmatan min ‘indika tuhdii bihaa qalbii wa tajma’u bihaa syamlii wa tarudda bihal fitana ‘anni wa tuslihu bihaa diini wa tahfazu bihaa gaibii wa tarfa’u bihaa syaahidii wa tuzakkii bihaa ‘amalii wa tubayyidu bihaa wajhi wa tulhimunii bihaa rusydii wa ta’simunii bihaa min kulli suu ‘in. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu curahan rahmat dari sisi-Mu, yang dengannya hatiku mendapat petunjuk, terkumpul segala yang tercerai berai dan terhimpun segala yang terpisah, tertolak dari segala fitnah atas diriku dan bertambah baik urusan agamaku, terpelihara segala sesuatu yang jauh dariku dan terangkat apa yang dekat denganku, disucikan segala perbuatanku dan dicerahkan wajahku, diberi ilham menuju petunjuk, dan terpelihara diriku dari segala sesuatu yang jelek.”

 

Menyimak arti doa tersebut, Adi teringat istilah mestakung yang pernah dipopulerkan Prof. Johanes Surya, salah seorang pakar fisika yang pernah menulis bahwa mestakung (semesta mendukung) merupakan hukum alam di mana ketika suatu individu atau kelompok  berada pada kondisi kritis maka semesta (dalam hal ini sel-sel tubuh, lingkungan dan segala sesuatu di sekitar dia) akan mendukung untuk dia keluar dari kondisi kritis. 

 

Dalam bahasa yang sederhana, Adi memahami bahwa jika seseorang memiliki suatu tekad atau niat yang kuat maka lingkungan di sekitarnya seolah bergerak untuk mendukung, mendorong atau mempermudah seseorang untuk mencapai dan mewujudkan niat atau tekad tersebut.

 

Adi juga mengingat kaalimat yang pernah disampaikan Kang Pri, dosen di Universitas Nusantara Raya tempat di mana Adi kuliah belasan tahun yang lalu.

 

“Kalau kita perhatikan, yang namanya kebetulan itu jatuh kepada orang yang mempersiapkan,” ucap kang Pri suatu saat ketika Adi masih kuliah.

 

“Maksudnya, Pak?” tanya Adi yang ketika kuliah memanggil Kang Pri dengan sebutan kata “pak”, namun setelah lulus, Kang Pri enggan dipanggil “pak” karena usianyanya hanya berpaut 7 tahun dengan Adi.

 

“Iya, sesuatu itu dinamakan kebetulan kalau menimpa seseorang yang sudah mempersiapkan diri,” jawab kang Pri seraya menunjukkan spanduk yang terpajang di depan kampus: “Beasiswa penuh untuk kuliah di luar negeri bagi yang memiliki skor TOEFL 550”.

 

“Coba lihat! Adakah gunanya spanduk pengumuman itu untukmu, Di?” tanya Kang Pri.

 

“Ada, Pak” jawab Adi singkat.

 

“Apa gunanya”

 

“Ya… sebagai informasi,” jawab Adi.

 

“itu saja?” tanya kang Pri lagi.

 

“Ya.. itu saja, karena TOFL saya masih jauh di bawah itu,” jawab Adi sekenanya.

 

“Betul… karena TOEFL kamu rendah maka kamu tidak bisa memenuhi syarat yang ada di spanduk tersebut,” ucap Kang Pri, “sehingga kamu tidak menganggap spanduk itu sebagai sebuah kebetulan,” lanjutnya.

 

“Tapi bagi seseorang yang memiliki sertifikat TOEFL dengan skor sesuai syarat tersebut maka ia akan mengatakan, ‘Nah! Kebetulan ada beasiswa!’” tekan Kang Pri menegaskan bahwa peluang tersebut akan dianggap sebuah kebetulan bagi seseorng yang sudah mempersiapkan dengan memiliki hasil ujian TOEFL sebesar di atas 550.

 

Kang Pri juga bercerita bahwa sejak zaman dahulu, semua benda yang jatuh selalu ke bawah. Namun ketika sebuah apel jatuh di depan Sir Isaac Newton, maka sejak itu, Newton yang sedang memikirkan hukum Fisika menemukan formulasi gaya gravitasi guna menjelaskan fenomena jatuhnya benda akibat gaya tarik gravitasi bumi.

 

“Pak… Bapak, sudah adzan Subuh, tuh, ayo kita ke masjid, matikan tivinya,” teriak Wardah dari ruang tamu dalam keadaan bersiap untuk keluar rumah menuju masjid guna menjalankan shalat Subuh berjamaah.

 

Teriakan tersebut membuyarkan bayangan Adi tengtang Kang Pri yang sedang menjelaskan bahwa kebetulan itu jatuh kepada yang sudah mempersiapkan diri.

(Bersambung)


Penulis: Boyke Pribadi

Editor: Setiawan Chogah

Editor :

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button