InspirasiOpini

Dani Maulana: Belanja di Warung Tetangga

Oleh Dani Maulana, SM

 

biem.co – Jika tidak mampu bersaing, lebih baik menyingkir. Ini menyangkut soal dunia usaha bukan dunia gaib apalagi dunia lain. Jangan buka tokomu jika takut ada toko lain buka juga di sebelahmu.

Setelah beberapa tahun belakangan ini kita dikejutkan dengan fenomena menjamur dan mengguritanya mini market di daerah-daerah. Baru buka satu toko mini market, sudah disusul kemudian buka satu minimarket di dekatnya yang menjadi pesaing. Teknik bisnis ini disebut hutan rimba. Mereka tumbuh lebat berdekatan layaknya pepohonan di hutan berantara. Begitulah kalau saya boleh meminjam istilah dari film Vietnam “The Billioner – Tae Ke Noy”.

Mini market semakin rapat. Seolah berjodoh seperti dua insan manusia, seperti dua bola mata kanan dan kiri. Satu sama lain selalu ingin ada di dekatnya. Itu tandanya bagi pelaku Usaka Kecil Menengah (UKM) sekarang harus melakukan persaingan melawan para pemegang modal besar kapitalis seperti mereka. Tentu saja, mereka memiliki pelayanan lebih baik, karyawan yang cakap, tempat lebih nayaman sejuk ber-AC dan harga yang lebih murah. Apa kabar toko kelontong tradisional?

Ini sangat penting. Bukan rahasia lagi, begitu ritel modern beroperasi, maka itu akan mematikan 3-5 warung kelontong di sekitarnya. Sebenarnya, kita pun turut andil mematikan karena absennya keberpihakan kita kepada pedagang kecil.

Masalah yang di atas belum terpecah sekarang pengusaha kecil harus bersaing dengan sesama usaha kecil lainnya yang berasal dari luar kota. Alhasil usaha besar seperti mini market yang berada di atas semakin meraja dan bertahta, sementara usaha yang masih kecil sibuk saling bersaing. Belum sempat berusaha melawan dominasi kapitalis, pelaku UKM sudah mati lebih dahulu akibat terlalu lelah bergulat dengan usaha sejenisnya.

Merujuk pada tulisan motivator bisnis sekaligus pendiri TK Khalifah Ippho Santosa yang dikirimkan kepada saya lewat aplikasi WA pada tanggal 18 Mei 2017 yang membahas tentang persoalan ini. Ippho Santosa menyatakan dengan diawali bunyi hadits. Berlaku baiklah terhadap tetangga. “tidak masuk surga orang yang mana tetangganya tidak merasa aman dari keburukannya,” pesan Nabi Muhammad (HR Bukhari-Muslim). Salah satu contohnya, dalam berbelanja.

Sekiranya masih memungkinkan, belanjalah di warung-warung tetangga. Dahulukan muamalah atau transaksi jual beli dari orang terdekat. Bukan pada gurita-gurita retail yang sudah menjalar ke mana-mana (baca: mematikan warung-warung kecil).

Belanja di warung-warung tetangga memiliki banyak manfaat, pertama, mempererat silaturahim. Toh, kalau kita sakit atau meninggal, yang peduli dan mengurusi kita adalah tetangga dekat. Kedua, saling memakmurkan. Kalaupun Rp. 500,- lebih mahal, tetaplah membeli di warung-warung tetangga. Anggap saja sebagai upaya untuk membantu biaya pendidikan anak-anaknya. Ketiga, mengurangi dominasi kapitalis. Kita tidak anti sama kapitalis atau sedang memboikot. Tapi apa salahnya kalau kita lebih berpihak pada pedagang kecil, apalagi pedagang tersebut adalah saudara atau tetangga kita. Keempat, warung tetangga terkadang lebih fleksibel. Anda bisa memesan barang tertentu, dapat meminta untuk delivery ke rumah. Hebatnya lagi, Anda juga boleh berhutang, yang terakhir tidak dianjurkan selama masih bisa bayar cash.

Jujur, saya salut kepada beberapa kota di Indonesia yang menolak hadirnya gurita-gurita ritel atau memiliki pengaturan yang sangat ketat terhadap kehadiran mini market. Keberpihakan tersebut harus dicontoh oleh daerah-daerah lainnya dalam upaya melindungi pedagang kecil. Uang yang didapatkan oleh pedagang kecil akan sangat bermanfaat yang dapat digunakan untuk membayar uang sekolah dan les anak-anaknya. Sambil berharap-harap cemas, semoga mengantarkan anaknya kuliah di universitas negeri. Melihat hal ini, tak bisakah kita sedikit berempati?

Tentu saja, spirit “belanja di warung tetangga” ini harus diimbangi dengan semangat berbenah dan berubah. Agar warung ini membaik (baca: kompetitif) dari waktu ke waktu.

Belakangan ini sebagian konsumen dibuat geram dan gerah, lantaran adanya ketidakjelasan penyaluran donasi pada gurita-gurita ritel. Saran saya, daripada kesal terus-menerus, lebih baik pindah saja dan berbelanja ke warung tetangga.

Editor : Muhammad Iqwa Mu'tashim Billah

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *