InspirasiOpini

Udi Samanhudi: Ketika Semua Informasi Ada di Google, Masihkah Peran Guru Penting?

Oleh Udi Samanhudi

biem.co – Dalam sebuah artikel yang bertajuk ‘What’s the point of education if Google can tell us anything?’ Dr. Ibrar Bhatt, salah satu pakar Digital Literacy and Applied Linguistics dari Queen’s Univeristy of  Belfast, United Kingdom (UK)  dengan cerdas menyoal perdebatan antar pakar pendidikan terkait dengan penggunaan internet khususnya mesin pencari (searching machine) seperti Google dalam kegiatan pembelajaran.

Perdebatan tersebut, menurutnya, masih banyak terfokus pada isu seputar ‘authenticity’ karya tulis siswa alias karya siswa yang terbebas dari praktek haram plagiarisme dan tolak ukurnya. Suara mayoritas mewanti-wanti agar menjauhi praktek plagiarisme yang nyatanya memang semakin rawan dilakukan oleh banyak dari mereka mengingat jenis topik apapun sepertinya dapat dengan mudah di dapat dengan hanya satu dua kali ‘click on the mouse’ di depan layar laptop atau  satu kali ‘tap’ pada perangkat tablet mereka .

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Perdebatan lain mengacu kepada peran guru. Sekelompok pakar pendidikan dengan satir mengatakan bahwa di zaman yang keberlimpahan informasi (online) seperti saat ini guru sudah tidak lagi penting karena pada prakteknya siswa dapat dengan mudah mengakses informasi apapun melalui perangkat digital (digital devices) yang mereka miliki-smart phone, misalnya. Namun kelompok lain berkeyakinan bahwa peran guru justru menjadi semakin penting karena pendidikan tidak hanya menyoal penguasaan materi melalu akses cepat dan tepat terhadap informasi tetapi juga berkaitan erat dengan penanaman nilai-nilai moral dan perilaku positif serta pengembangan kreativitas berbagai aspek non akademik lainnya.

Saran untuk memposisikan guru sebagai a “guide on the side,” not a “sage on the stage,”-pun semakin mengemuka dimana guru tidak lagi sebagai tokoh sentral penyedia informasi (imparting the knowledge). Tetapi juga sebagai ‘rekan’ yang yang siap kapan saja mendampingi siswa dalam proses belajar mereka (guide on the side), membimbing dan mengarahkan untuk beraktivitas belajar yang efektif, efisien serta sehat (baca: terbebas dari situs-situs yang merugikan). Yang tidak kalah penting, praktek aguide on the side,”  juga memungkinkan guru untuk belajar dari siswa.    

Sebagai seorang pendidik, saya setuju dengan kelompok terakhir yang memposisikan guru sebagai tokoh penting dalam dunia pendidikan khususnya sebagai roda dalam kegiatan pembelajaran. Secanggih apapun dunia teknologi dengan tawaran informasi dan ilmu pengetahuan terkini yang melimpah ruah dengan akses cepat dan mudah untuk didapatkan. Namun, peran guru masihlah sangat sentral sebagai pembentuk manusia cerdas masa depan yang berbudi pekerti luhur  yang merupakan satu dari sekian banyak ciri khas pendidikan timur yang patut untuk dijaga sampai kapanpun.

Mendidik, sebagaimana lazim dipahami, tidak hanya berkutat pada kegiatan berbagi informasi di dalam kelas atau di lingkungan sekolah. Lebih dari itu, kegiatan mendidik adalah sebuah kegiatan yang berorientasi pada pembentukan manusia-manusia cerdas masa depan yang berkepribadian mulia, memiliki jiwa dan keterampilan memimpin yang mumpuni (leadership skills) dan memiliki kepekaan sosial yang juga tinggi seperti jelas termaktub dalam deretan kemampuan dan keterampilan ideal yang wajib dimiliki generasi penghuni abad 21 saat ini.   

Fakta semakin mudahnya akses siswa terhadap berbagai informasi mensyaratkan guru beberapa hal agar perannya tetap nampak di permukaan. Syarat utama agar guru dapat dengan mudah menjalankan perannya sebagai seorang pendidik adalah peka dengan setiap perubahan dan perkembangan khususnya dalam bidang teknologi.

Meski, mayoritas sebagai digital immigrant, guru hendaknya senantiasa mau dan mau tahu, misalnya, tentang bagaimana cara menggali informasi melalui internet, mengolah informasi yang tersebar secara daring (online), situs-situs yang potensial untuk digunakan baik sebagai sumber pembelajaran maupun media pembelajaran online. Yang juga tidak kalah penting, guru juga tahu perangkat-perangkat atau situs-situs yang mampu mendeteksi praktek plagiarisme.

Dengan cara ini, disadari atau tidak guru akan sama-sama berkembang dan ‘melek teknologi’ (technology literate) sehingga teknologi tidak dihegemoni oleh siswa masa kini yang identik dengan keseharian mereka sebagai para digital native. Artinya, menjadi guru yang pintar, lemah lembut, ramah namun tegas, penyabar dan penyayang terhadap siswa tidaklah cukup. Abad 21 yang sama-sama sedang kita huni semestanya mensyaratkan guru yang cerdas, kreatif, berwawasan luas, arif, melek teknologi  dan open minded. Mau dan terus berupaya untuk meracik sesuatu yang baru dari luar sana untuk disinergikan dengan konteks lokal (global to local) dan juga sebaliknya.  

Syarat berikutnya adalah memiliki keterampilan mengolah informasi yang tersedia dengan melimpah ruah secara online di internet. Informasi tersebut mampu direproduksi menjadi karya yang bercita rasa beda meski dengan muatan yang kurang lebih sama dengan sumber aslinya atau sukur-sukur dikembangkan dengan kemasan yang jauh lebih apik dan cita rasa yang jauh lebih menggigit. Dengan kata lain, guru dituntut untuk mampu memiliki ‘ keterampilan online’ yang juga baik.  

Keterampilan guru yang mumpuni dalam melakukan pencarian sumber materi daring yang efektif, memilih materi yang tepat, mengevaluasi kebermanfaatan maupun akurasi materi, menganalisa dan mensintesiskan beragam materi yang ada secara Online. Mencipta materi dari hasil racik bahan-bahan terpilih dan berkualitas yang tersedia di intenet akan menjadi modal awal yang baik untuk kemudian diajarkan dan ditransfer kepada siswa.

Dengan cara ini, siswa akan memiliki peluang yang jauh lebih besar untuk siap berkembang dengan jauh lebih cepat bahkan dari yang seharusnya. Disadari atau tidak, praktek semacam ini akan membiasakan siswa untuk berpikir kritis dan kreatif dan siap untuk melakukan sebuah proses belajar yang oleh Ibrar Bhatt disebut dengan istilah ‘digital content curration’. Proses dimana siswa memanfaatkan informasi yang ada dan tersedia secara daring (online) untuk memproduksi karya tulis baru dengan warna dan cita rasa ala mereka. Karya tersebut dihasilkan melalui sebuah proses panjang; pencarian, pemilihan, evaluasi, analisis dan sintesis materi-materi yang relevan yang diharapkan telah diwariskan oleh guru mereka di sekolah.  

Jika kegiatan beraktivitas akademik semacam ini sudah menjadi bagian dari kehidupan akademik siswa, praktek plagiarisme yang konon semakin hari semakin mewabah di kalangan masyarakat akademik ini besar kemungkinan akan segera disuguhi kata seremonial perpisahan yang ‘menyakitkan’ –good bye and will never see you again!


Udi Samanhudi adalah Akademisi Untirta, Awardee Beasiswa LPDP program Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) Kemenkeu RI dan saat ini tengah menempuh studi doktoral dalam bidang Teaching of English for Speakers of Other Languages and Applied Linguistics, Queen’s University of Belfast, United Kingdom. Koordinator Bidang Pendidikan PPI Belfast, UK.


Rubrik ini diasuh oleh Fikri Habibi.

Editor : Redaksi

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button