InspirasiPuisi

Sajak-sajak Ahmad Samuel Jogawi

Oleh Ahmad Samuel Jogawi

 

KEMBALI ZIARAH

Tinggalkan, biar aku bersama Tuhanku!
–Kukembalikan tubuh ini pada seluruh rasa
mematikan kata sampai moksa dan siksa
memejam doa-doa untuk mengenal murka
ke dasar air mata seperti anak kehilangan orang tua
Ini jiwa sudah gila kukembalikan pada cinta
kusampaikan pada Kekasih
kusaksikan tubuh ini mati
Bawa aku untuk kubur-kubur
Biar di situ sampai bunga-bunga gugur.

Pekalongan, 2017.

MINTA-MINTA

Tuhan, jangan jauh-jauh
Aku dan dia nggak mau jauh-jauh
dariMu
dilewatkan kasihan ia sudah tak perawan
beri dia doa karna tak mau bunga
beri dia maaf karna tak mau kue
beri dia arti karna tak mau cium
sedang aku lupa tak bawa. Apa?
Cinta

Pekalongan, 2017.

RENUNG

Entah apa yang berhak didahulukan
suara rasa atau tangis bayi tanpa pikir
kemarin si Bapak berpesan di sebelah jendela
–lihat senja dan gambar garis kening
“Tuhan tak cemburu saat kau punya pacar”
si Anak nunduk menggali sumber air
karna sisa air mata kemarin bau busuk
karna rindu adalah semoga dari doa
dari doa si Bapak yang belum kembali.

Pekalongan, 2017.

TERUS-MENERUS

Malamku penuh anjing kecil
kencing aku
Di dada menggonggong trauma
— Kiranya itu tongkat panjang
berbisa milik Musa Itu tongkat
; alif, alif, alif lam mim Allah.
Muhammad
Ampun kumemejam tunduk membayang peluk
Allahumma shalli ‘ala muhammad
Tersentak menangisku motong nafas panjang-panjang
Padanya rupa aura Nun masuk batas mata
Jauh tak hingga menggaung tak sua
Pecah rusuk tulang andai tanpa penghalang
Lamat-lamat tak waras menahan rasa sir
Lepas ke atas tinggi-tinggi tak membatas
Moksa seluruhku jadi abu terhempas debu
Sungguh sadar aku rupa tak tahu malu
Sering menipu arah dan suka sekali desah
Resah aku bagai keringat perempuan candu
Bersetubuh dengan kuasa yang paling lugu
Aku berhenti nafas tak lagi menyebut Gusti
Lupa menyelam berakhir dengan kematian
Ada dua pilihan: sembahyang atau keadilan?

Pekalongan, 15/10/17.


M. Ahsana Ghazalba sering menamakan dirinya dengan nama Ahmad Samuel Jogawi lahir di Pekalongan, 26 Juli 1993, sekarang masih berstatus sebagai mahasiswa S2 Ilmu Kesusastraan Univesitas Diponegoro. Jogawi juga aktif dalam komunitas Omah Sinau Sogan. Keaktifan dia dalam komunitas tersebut dilatarbelakangi oleh beberapa persoalan di antaranya, karena kegiatan-kegiatannya dapat mengembangkan minat yang disukainya sejak di pondokkan di pesantren Darul Falah Amtsilati yakni dalam hal tulis-menulis. Dalam Penulisan dia sering dibimbing oleh Ribut Achwandi, beliau selaku menjadi pembimbing dalam komunitas Omah Sinau Sogan. Karya-karya Jogawi juga pernah diterbitkan dalam Antalogi Puisi Menolak Korupsi, Antalogi Memo Untuk Presiden, Antalogi Memo Untuk Wakil Rakyat, Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia, Ibu, Aku Pernah Dalam Rahim Cintamu, Antalogi Penyair 18 November, dan Antalogi Penyair Puisi Kampungan.


Rubrik ini diasuh oleh M. Rois Rinaldi.


Berita Terkait :

Sajak-sajak Novy Noorhayati Syahfida
Sajak-sajak Jamil Massa
Siberkreasi Netizen Fair 2017 Digelar, Najwa Shihab: Indonesia Darurat Literasi Digital
Taman Gajah Tunggal, Uniknya Taman dari Daur Ulang Ban

Editor : Esih Yuliasari

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *