InspirasiOpini

Abdul Jamil: Berdiri di Atas Bara, Menjaga Harga Diri Untirta

Oleh: Abdul Jamil

biem.co — Setiap orang akan secara alamiah terpanggil dan merasa berkewajiban mempertahankan wibawa, marwah, dan harga diri lingkungan tempat tinggalnya. Begitu juga dengan seorang mahasiswa, tentu akan mengorbankan segalanya demi nama baik kampusnya.

Dinamika kehidupan kampus menuntut peran mahasiswa secara total demi terjaganya kondusifitas kehidupan kampus yang baik, tertata rapi, dan tetap pada arah Tri Darma Perguruan Tinggi seutuhnya. Begitu juga dengan harapan dan cita-cita Untirta yang konon menjadi kawah candra di muka pendidikan di tanah jawara.

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Namun, belum lama ini, nama Untirta justru menjadi kontroversi di kalangan masyarakat, bahkan terkesan kampus dengan segudang kepentingan. Dalam makna lain, tak lagi sesuai dengan “ghiroh semangat institusi pendidikan yang berkewajiban mendidik dan mencerdaskan masyarakat kampus. Untirta memiliki label sebagai kampus politis lantaran terseret arus dinamika perpolitikan bangsa yang tak bekesudahan–jauh dari maslahat dan manfaat bagi warganya.

Baru-baru ini, langkah akrobatik Rektor Untirta dengan mengundang tokoh-tokoh nasional untuk mengisi acara kegiatan kampus yang pada prinsipnya tidak melangar aturan sama sekali, namun menjadi kontroversi karena menciderai institusi kampus yang seharusnya steril dari kepentingan politik praktis. Itu artinya, secara normatif terlihat biasa saja, namun moralitas dan etika yang terluka.

Pasalnya, di antara tokoh nasional yang diundang, di antaranya Muhaimin Iskadar (Ketua Umum PKB) untuk mengisi rangkaian acara wisuda gelombang 1 tahun 2018, yang sempat digadang-gadang menjadi calon wakil presiden. Selanjutnya, ada Ahmad Basarah (Politisi PDIP), yang mengisi rangkaian acara kegiatan pegenalan Kampus Untirta 2018, yang terlihat jelas memiliki afiliasi kepentingan politik dari petahana.

Kemudian, yang paling membuat terang benderang keberpihakan politik rektorat adalah dengan menghadirkan KH Ma’ruf Amin untuk mengisi rangkain acara Dies Natalis sekaligus perayaan Tahun Baru Islam. Hal ini tentu tak terbantahkan lagi, publik bisa menilai bahwa Kampus Untirta tidak lagi menjaga independensi dan netralitas kampus dalam menghadapi iklim politik bangsa saat ini.

Jika alasan menghadirkan mereka adalah tokoh-tokoh kredibel untuk menjadi pembicara di Kampus Untirta, saya rasa itu hanya alibi pihak rektorat yang tak berdasar. Ada ribuan tokoh mumpuni di Banten, ada jutaan tokoh yang sama baiknya atau bahkan jauh lebih baik dari mereka di Indonesia. Lalu, kenapa tetap memaksakan mereka?

Hal inilah yang membuat padangan publik bahwa Untirta terlihat politis dalam mengelola kampus. Pada dasarnya, menghadirkan mereka tidaklah salah, tapi kondisi politik saat inilah yang menyebabkan kehadiran mereka salah. Andai, Muhaimin Iskadar merupakan seorang akademisi, Ahmad Basarah adalah pelaku seni, dan Kyai Ma’ruf bukan wakil Jokowi, maka bisa dipastikan tidak akan menjadi polemik dan kontroversi, serta tentu mereka akan disambut dengan senang hati.

Melihat hal ini, tentu mahasiswa sebagai insan akademis muda penjaga moralitas bangsa, dalam hal ini mahasiswa Untirta yang bagian dari warga kampus, tentu terpanggil untuk ambil peran pula dalam menjaga harga diri Untirta, mengingatkan rektor sebagai orang tua, bahwa kebijakan tersebut kurang baik di mata publik.

Respon mahasiswa disampaikan dengan cara penuh baik sangka, namun alangkah peliknya sebuah perjuangan menyampaikan aspirasi yang terkadang direspon kurang enak di hati, seperti aksi damai penolakan kedatangan Kyai Ma’ruf yang berujung pernyataan rektor yang reaktif akan melarang  ormawa eksternal kampus, dan bahkan ada ancaman drop out (DO).

Perjuangan kawan-kawan mahasiswa begitu sering menemui tantangan yang amat berat, bagai berdiri di atas bara perih luka panas yang menyala-nyala. Tapi yang jelas, perjuangan menjaga nama baik kampus akan tetap hidup, walau diancam, ditekan dan dilemahkan, itu tak akan menyurutkan sedikitpun langkah kebenaran ini.

Maka, kepada semua pihak, mari bersama berpikir jernih dalam memandang persoalan ini. Bahwa, netralitas kampus adalah harga mati. Hal ini tentu dimaksudkan agar kehidupan kampus tetap terjaga, stabil, dan kondusif atas keberlangsungan kegiatan kampus yang baik dan bermanfaat untuk semua.

Panjang umur Untirta,

Panjang umur Indonesia. (red)


Abdul Jamil, Mahasiswa Prodi Ilmu Hukum Untirta.


Rubrik ini diasuh oleh Fikri Habibi.

Editor : Happy Hawra

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Back to top button