Terkini

Inilah 9 Kiper Asing di Liga Indonesia

biem.co – Kompetisi Liga Indonesia dari tahun ke tahun terus bergulir. Para pemain asing silih berganti datang dan pergi. Sobat biem, tahukah Anda sepanjang bergulirnya kompetisi sepakbola Indonesia ternyata hanya ada 9 kiper asing yang merumput di Indonesia. Siapa saja mereka? Berikut redaksi biem rangkum profilnya:

  1. Darryl Sinerine (1994-1997)

Darryl Sinerine merupakan kiper asing pertama yang merumput di kompetisi sepakbola Indonesia. Ia merupakan pesepakbola yang berasal dari Trinidad & Tobago yang direkrut oleh Petrokimia Putra pada musim 1994 untuk mengarungi liga Indonesia pertama yang disebut sebagai Liga Dunhill.

Penampilannya yang apik kala itu membuatnya mampu membawa Petrokimia Putra lolos ke partai final Liga Indonesia menghadapi Persib Bandung. Namun sayang laga tersebut harus berujung kekalahan bagi klub yang ia bela. Walau demikian ia tetap menjadi andalan di lini belakang Petrokimia hingga musim 1997.

  1. Mambalou Mbeng Jean (1997-2004)

The Jak Mania (read: supporter Persija Jakarta) pasti mengenal sosok satu ini. Ia merupakan kiper yang cukup lama berada di klub ibu kota dan sukses membawa Macan Kemayoran mendapatkan gelar perdana Liga Indonesia pada musim 2000/2001. Ya, sosok tersebut adalah Mambalou Mbeng Jean atau akrab disapa Mbeng.

Kiper yang berasal dari Kamerun ini, dikenal dengan postur tubuhnya yang tinggi serta cekatan dalam memotong umpan dan menangkap bola. Setelah 5 musim membela Persija terhitung dari tahun 1997 hingga 2002, ia memilih untuk hengkang ke PSPS Pekanbaru pada musim berikutnya dan kemudian kembali hengkang pada musim 2004 ke klub dengan julukan Ayam Kinantan yakni PSMS Medan.

  1. Mariusz Mucharski (2003)

Mariusz Mucharski merupakan kiper berkebangsaan Polandia yang saat ini berusia 48 tahun. Wajahnya yang terlihat sangar dengan postur tinggi yang sangat menjulang membuat ekspektasi bobotoh tinggi kala menyambut kedatangannya.

Sayang penampilannya tidak sesuai harapan. Gawang yang ia jaga justru seringkali kebobolan. Hingga akhirnya manajemen Maung Bandung mendepaknya dari klub kebanggaan masyarakat Jawa Barat ini pada akhir musim 2003/2004.

  1. Sergio Vargas (2004)

Pada tahun 2004 tim sarat tradisi dan sejarah yakni PSM Makassar pernah mencoba menggunakan jasa kiper asing, ia adalah Sergio Vargas. Sergio merupakan mantan kiper timnnas Chile. Karirnya di Indonesia terbilang cukup singkat. Kendati demikian ia berhasil membawa Juku Eja keluar sebagai runner up Liga Indonesia musim tersebut.

  1. Zeng Cheng (2005)

Zeng Cheng merupakan kiper berkebangsaan China yang lahir 8 Januari 1987. Kiprahnya berkarir menjadi pesepakbola professional di awali bersama klub asal Jawa Timur yakni Persebaya Surabaya saat usianya 18 tahun pada tahun 2005. Karena penampilannya yang gemilang, Cheng sapaan akrabnya langsung menjadi idola bonek kala itu.

Sayang, Ia hanya bertahan satu musim bersama Green Force. Setelah empat tahun meninggalkan Persebaya karir profesionalnya melejit. Dari tahun 2009 Hingga saat ini ia tidak tergantikan di bawah gawang Timnas Tiongkok.

  1. Kosin Hathairattanakool (2006; 2009)

Sinthaweechai Hathairattanakool atau lebih dikenal dengan nama Kosin Hathairattanakool merupakan pesepakbola professional berkebangsaan Thailand yang lahir 35 tahun yang lalu.

Pada tahun 2006 ia datang ke Kota Kembang untuk membela klub kebanggaan masyarakat Jawa Barat. Kehadirannya membuat rasa nyaman di lini pertahanan Maung Bandung, hingga membuat kesan yang mendalam bagi bobotoh (sebutan fans Persib).

Namun pada musim berikutnya Kosin harus kembali ke Thailand. Ia bergabung dengan Chonburi dan berhasil memenangkan gelar liga dengan klub berjuluk The Sharks tersebut. Dua tahun berselang di Thailand, Kosin kembali lagi ke Persib dengan status pemain pinjaman. Meski hanya pemain pinjaman, kehadiran Kosin membuat Bobotoh merasa bahagia. Sejumlah media lokal Jawa Barat menyebutkan, Kosin merupakan salah satu pemain asing terbaik yang pernah dimiliki oleh Maung Bandung.

  1. Evgheny Khmaruk (2007)

Musim 2007/2008 Persija Jakarta berhasil mendatangkan kiper asing yang berasal dari Moldova. Penjaga gawang yang memiliki tinggi badan nyaris dua meter ini tampil sangat impresif di bawah mistar gawang Macan Kemayoran dan merupakan salah satu kiper yang sangat diandalkan oleh klub kebanggaan masyarakat ibukota tersebut.

Namun sayang akibat kekisruhan antar pemain dalam pertandingan menghadapi Persik Kediri kala itu, membuat nama besar Khmaruk tercoreng. Ia sempat disanksi larangan satu pertandingan dan kemudian ditambah menjadi larangan bermain di Liga Indonesia selama dua tahun. Padahal, musim tersebut merupakan musim perdananya bersama Persija Jakarta.

  1. Yoo Jae Hoon (2011 s/d sekarang)

Siapa yang tidak mengenal sosok penjaga gawang asing tersukses di kancah tertinggi sepakbola Indonesia satu ini. Ya, namanya Yoo Jae Hoon. Kiper berkebangsaan Korea Selatan yang lahir pada tanggal 7 Juli 1983 ini merupakan sosok penting di klub Persipura Jayapura yang berhasil mempersembahkan tiga gelar juara domestik (dua Indonesia Super League, dan satu ISC A) serta berhasil membawa tim Mutiara Hitam berlaga di semifinal AFC Cup.

Sejak awal datang ke Indonesia pada tahun 2011 hingga sekarang, Yoo sempat bermain di beberapa klub lain di Indonesia, tapi di Persipura-lah ia bertahan lama dan meraih banyak prestasi.

  1. Dennis Romanovs (2014)

Denis Romanovs merupakan pesepakbola professional berkebangsaan Latvia yang lahir 02 September 1978. Ia menata karir di Indonesia bersama klub Pelita Bandung Raya (PBR). Penampilannya yang luar biasa bersama PBR membuat PBR yang sebelumnya tidak diperhitungkan pada gelaran Liga Indonesia musim 2014 menjadi kuda hitam karena berhasil menembus semifinal liga. Setelah membela PBR ia memutuskan untuk pulang ke negaranya dan bergabung bersama klub Riga FC. Dalam perjalanan karirnya, Denis sempat membela timnas Latvia.

Itulah tadi 9 kiper asing yang pernah dan sedang merasakan panasnya atmosfer sepakbola Indonesia. Pengalaman dan permainan terbaiknya semoga dapat menginspirasi para kiper Indonesia untuk dapat berprestasi tidak hanya di kancah Nasional tetapi di ajang Internasional pula. (eys)

Editor : Andri Firmansyah
Tags

Artikel Terkait

Berikan Komentar