Opini

Edi Ramawijaya Putra: Teror Bom dan Kesalehan Kemanusiaan

Oleh; Edi Ramawijaya Putra

biem.co – Duka cita serta belasungkawa yang mendalam sedang menyelimuti seluruh anak bangsa ini. Pada akhir pekan, Minggu 13 Mei 2018 meledak tiga bom bunuh diri di Kota Surabaya yang menewaskan sedikitnya 9 orang dan melukai setidaknya 40 orang. Tak berselang lama, keesokan harinya terjadi lagi insiden sejenis yang terjadi di halaman depan Mapolresta Surabaya dengan motif yang sama. Beberapa hari sebelumnya, rusuh di Rutan narapidana teroris Mako Brimob Kelapa Dua Jakarta juga menewaskan 6 orang personel Polri. Rentetan kejadian ini seakan membuka mata kita lebih lebar lagi bahwa teror masih ada di sekeliling kita di manapun berada tidak mengenal ruang dan waktu.

Meksi insiden demi insiden aksi terorisme menuai pro dan kontra dan sarat muatan kepentingan terutama jika dilihat dari perspektif ideologi agama dan politik namun satu hal yang tidak boleh doto: ERilupakan yaitu kesalehan kemanusiaan kita semua ternyata masih “aktif” dan hidup dalam bingkai universalitas sesama manusia terlepas dari latar agama, suku, ras dan golongan. Ungkapan kekecewaan terhadap aksi teror bom dalam bentuk solidaritas terus bermunculan melalui gawai elektronik dan unggah media sosial. Beberapa aksi ini melahirkan tagar #KamiTidakTakut serta ajakan untuk meningkatkan kewaspadaan untuk menangkal bahaya terorisme. Indikasi yang sangat positif bahwa protokol kemanusiaan kita masih tetap “alert” untuk melawan segala bentuk kekerasan dan radikalisme.

Reaksi cepat penanggulangan teror bom tidak hanya dilakukan oleh aparat keamanan dan pemerintah namun juga dilakukan oleh warga sipil yang terpanggil hatinya secara spontan untuk membantu meringankan derita para korban. Antrean panjang para calon pendonor darah di PMI Kota Surabaya adalah bentuk nyata bahwa rasa sakit dan pedih adalah derita bersama umat manusia. Aksi solidaritas dan doa di berbagai daerah terus mengalir yang dilakukan oleh semua kalangan baik lintas iman, pelajar, mahasiswa, LSM, dan masyarakat sipil.

Selain itu, kita juga melihat berbagai kecaman datang dari para tokoh lintas agama, para ulama dan tokoh elit politik yang selama ini mungkin saja bukan merupakan bagian yang kita idolakan. Secara psikologis, hal ini sangat menyejukkan bagi semua anak bangsa yang selama ini dibakar oleh friksi-friksi perbedaan pandangan politis dan perspektif. Sekaligus, hal ini juga menunjukkan bukti bahwa menyakiti apalagi membunuh sesama manusia adalah larangan semua agama, tidak dianjurkan sebagai suatu bentuk praktek ibadah dalam agama manupun baik Islam, Hindu, Buddha, Katolik, Protestan dan Konghucu.

Dalam perspektif politis, pembelajaran yang konstruktif dapat terlihat dari sikap dan pernyataan hampir semua elit dan pimpinan Parpol bahwasanya kebiadaban terorisme tidak memiliki tempat dalam Negara Indonesia. Kesamaan pernyataan ini tentu bukan kesepatakan transaksional atau kebetulan namun merupakan niat spontan terhadap sesama. Berbeda pilihan dan afiliasi bukan membuat manusia menjadi buta hati untuk berempati dan bergerak untuk meringankan penderitaan mahluk lain yang sedang tertimpa musibah. Merobohkan dikotomi koalisi-oposisi yang selama ini dibangun oleh framing kepentingan sektoral.

Mahatma Gandhi pernah berkata “you must not lose faith in humanity, humanity is like an ocean. If a few drops of an ocean is dirty the ocean does not become dirty”. Kita hidup dalam dimensi perbedaan-perbedaan namun kemanusiaan adalah samudera maha luas dengan rasa yang sama kemanapun kita pergi. Kesalehan kemanusiaan kita tidak akan pernah hancur oleh oknum manusia-manusia yang memilih cara hidup mencapai “surganya sendiri” dengan menghilangkan nyawa manusia lain.


Penulis adalah Dosen tetap STABN Sriwijaya Tangerang Banten, Waketum DPP Gemabudhi, Aktifis Interfaith-Dialouge. Peneliti Center of Asian Studies Indonesia (Cenas), dapat dihibungi di Email : [email protected] atau 0818870511


Rubrik ini diasuh oleh Fikri Habibi

Editor : Jalaludin Ega

Related Articles

Berikan Komentar