InspirasiOpini

Edi Ramawijaya Putra: Transformasi Diri Melalui Tulisan

biem.co — Apa resolusimu di tahun 2018 ini? Bagi saya menulis adalah resolusi yang harus dicapai mulai dari tahun ini.

Menulis bukanlah tradisi yang hanya dimiliki oleh sekelompok orang yang kadang sering dilekati kepada kaum-kaum terdidik. Menulis juga bukan merupakan properti pribadi yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang dilabeli atau melabeli diri dengan sebutan “penulis”. Budaya menulis merupakan penciri tradisi dan peradaban yang mulai bangkit dan berkembang menyesuaikan diri dengan perubahan dan kemajuan jaman. Meski pakem, standar dan aturan dalam menulis bervariasi namun esensi dari tradisi menulis adalah transformasi diri dalam kerangka perubahan yang positif.

Banyak sekali kita menemukan buku-buku best seller yang ditulis oleh seseorang yang telah mengalami kehidupan yang sulit, memprihatinkan, menyedihkan bahkan hampir mati. Hal ini adalah indikasi bahwa menulis dapat menjadi self healing bagi si empunya. Implikasi dari kisah-kisah yang empiris yang terbukukan dengan baik ini terbukti ampuh menginspirasi tiap pembacanya untuk meniru, memodifikasi, dan mengaplikasikan apa yang ia baca.

Bagi sivitas akademika seperti dosen, peneliti, guru besar dan mahasiswa menulis bukan lagi sesuatu yang asing melainkan bagian yang inherent dalam kehidupan sehari-hari. Pembuatan monograf, buku ajar, artikel populer, laporan berkala, dan jurnal adalah produk yang mengaktualisasikan tradisi menulis sebagai basisnya. Bahkan ada adagium yang mengatakan bahwa setiap dosen atau peneliti harus melakukan publikasi atau musnah “publish or perish”.

Layanan penyedia platform menulis sangat banyak sekali bahkan ada yang tidak berbayar di era digital sekarang ini. Siswa-siswi dan mahasiswa memiliki banyak kesempatan untuk menjadi influencer sosial yang baik bagi yang lain melalui kemudahan ini. Hanya saja, masih banyak kalangan muda yang enggan menulis dengan beribu alasan. Sejatinya menulis adalah tahap akhir dari belajar itu sendiri. Mengapa setiap akhir jenjang studi di perguruan tinggi harus diakhiri oleh karya tulis berupa skrispi, tesis, dan disertasi? Hal ini disebabkan bahwa hanya dengan menulis sebuah hasil akhir dari dapat dilihat dan diukur secara komprehensif.

Menulis adalah sifat dasar manusia yang paling natural bahkan ketika kita berpikir kita sedang menulis dalam batin. Perbedaanya hanya pada tataran output, ada tulisan yang tercetak dan ada yang tersirat. Menulis juga bukan pekerjaan jurnalistik semata, anak sekolahan, ibu rumah tangga, tukang ojek, pegawai semua bisa menulis. Jadikan menulis sebagai budaya modern yang mengedepankan dialog, berpikir, dan kontemplasi daripada mengumbar konflik, perang, adu fisik, advokasi kekerasan. Prilaku ini jauh dari cara-cara beradab dalam dunia yang kian maju dalam literasi dan teknologi.

Banyak orang telah memulai, dan telah mulai menulis untuk transformasi dirinya. Sekarang Giliranmu!


Edi Ramawijaya Putra adalah Akademisi dan Penulis, Konsultan Pendidikan, Pegiat Literasi di Lombok Utara NTB saat ini adalah dosen tetap di STABN Sriwijaya Tangerang, Waketum DPP-Gemabudhi, mengajar di beberapa perguruan tinggi di Jakarta dan Banten, Kandidat Doktor Linguistik Terapan Bahasa Inggris Universitas Atma Jaya Jakarta.


Rubrik ini diasuh oleh Fikri Habibi.

Editor : Andri Firmansyah

Related Articles

Berikan Komentar