Opini

Astri Wulandari: Pemberdayaan Cyber Community di Masa Pandemi

biem.co — Komunitas siber (cyber community) adalah ruang-ruang sosial di dunia maya. Anggota kelompok atau komunitas ini terhubung dengan sistem chat berbasis teks, atau yang didasarkan pada grafik dua dimensi (2D)  atau tiga dimensi ( 3D). Mereka terbentuk dari berbagai kepentingan sosial, budaya dan ekonomi yang berbeda, mulai dari penggemar game online sampai kelompok para pejabat negara.

Pertumbuhan komunitas maya menjadi salah satu fenomena sosial penting di abad ini, terutama yang terjadi di Indonesia. Dalam beberapa komunitas maya, masing-masing anggota komunitas mampu menciptakan kembali diri, lingkungan, situasi dan masyarakatnya, sehingga membuat lingkungan maya ini seperti proyeksi dunia nyata.

Sebagaimana disampaikan Innis dalam Rivers and Peterson (2008 : 35) bahwa berbagai media komunikasi yang ada telah mempengaruhi bentuk-bentuk organisasi sosial, yang berarti media juga mempengaruhi jenis-jenis asosiasi manusia yang berkembang. Sehingga perkembangan bentuk kelompok, komunitas atau organisasi di dalam masyarakat saat ini juga sangat dipengaruhi oleh perkembangan media baru.

Dunia yang penuh ketidakpastian telah mendorong banyak orang untuk mencari gaya hidup alternatif, dan cyber community mungkin dapat dianggap sebagai salah satu pilihan. Ada beberapa alasan mengapa beberapa orang merasa mempunyai kepentingan dalam komunitas maya. Misalnya, kemudahan dalam berinteraksi dengan individu lain dalam komunitas maya, sarana hiburan, dan juga sebagai sarana pertukaran dan penyebaran pengetahuan.

Dalam dunia modern, banyak perkembangan transformatif yang berkaitan dengan teknologi informasi dan komunikasi, dimana globalisasi yang diakselerasi oleh internet telah menantang konsep masyarakat dalam sosiologi klasik dan studi komunitas. Komunitas maya ada di dunia maya, tempat yang tidak ada secara fisik. Tidak ada individu yang benar-benar tinggal di dalam cyber community. Dalam pengertian ini, cybercommunity boleh ditafsirkan secara simbolis dibangun masyarakat dari makna dan nilai-nilai yang menyatukan anggota masyarakat dengan rasa identitas (Cohen : 1985).

Proses pembentukan cyber community memakan waktu yang cukup lama, antara satu sampai dengan dua tahun. Cyber community biasanya berawal dari sebuah kelompok kecil dari beberapa orang yang saling berinteraksi tentang sebuah hal/topik yang menarik bagi mereka. Selanjutnya, anggota forum diskusi ini dapat bertambah seiring dengan dibukanya keanggotaan forum untuk publik. Dinamika di dalam kelompok akan  menjadi sangat menarik, karena adanya forum diskusi yang sifatnya terbuka, tidak di moderatori, dan tidak berpanutan pada seseorang atau sekelompok kecil elit.

Proses seleksi alam akan terjadi dalam komunitas maya, di mana topik diskusi akan bergeser ke hal-hal yang akan menguntungkan sebagian besar komunitas. Ada beberapa komunitas maya yang menjadi pelopor dan cukup berkembang di Indonesia, seperti Kaskus, Yahoo group, Google group, dan Facebook. Yahoo group dan Google group adalah sebuah forum milis (mailing list), yakni sarana untuk berinteraksi dalam kelompok menggunakan surat elektronik (e-mail). Sedangkan Facebook menjadi pelopor komunitas maya berbasis aplikasi mobile, yang diikuti berbagai bentuk media sosial lainnya.

Komunitas maya yang saat ini sedang mengalami “ledakan” adalah komunitas berbasis jaringan sosial (social network), yaitu situs dan aplikasi berbasis mobilephone yang pada awalnya sering digunakan untuk mencari teman dan jodoh (online dating), dan menjadi situs social media yang mampu mengakomodasi keinginan penggunanya untuk saling berinteraksi secara langsung (realtime) dengan anggota komunitas yang lain. Jenis situs seperti ini yang populer di Indonesia adalah Facebook, Twitter, Whatsapp, Line, Instagram, Path, dan lain-lain.

Komunitas maya saat ini menjadi populer dan secara tidak langsung menjadi tolak ukur eksistensi seseorang. WAG atau WhatsAppGroup menjadi aplikasi yang cukup populer dalam jejaring komunitas maya. Selain sebagai penguat eksistensi, WAG juga menjadi sebuah wadah untuk memberikan dan mendapatkan informasi. Walaupun tidak sedikit yang belum dapat memanfaatkan WAG sesuai dengan kebutuhan dasar untuk apa grup tersebut dibentuk. Di masa pandemi Covid-19 ini, komunitas maya menjadi salah satu alternatif bagi berbagai macam kebutuhan manusia dalam bidang ekonomi, politik dan sosial-budaya.

Sebagai contoh Asosiasi Pebisnis Yogyakarta (APY) yang merupakan komunitas untuk mewadahi UMKM di Yogyakarta. Selain menunjukkan eksistensinya secara langsung dalam berbisnis di dunia nyata, APY juga memperkuat jaringannya melalui komunitas maya melalui WAG yang selalu aktif digunakan untuk pengembangan bisnis.

Ada beberapa kebijakan dari founder untuk menjadi anggota APY yang tergabung dalam WAG. Salah satunya adalah tidak boleh membagikan informasi yang hanya menjiplak (copy-paste) dari grup atau komunitas lain. Hal ini juga membuktikan bahwa APY ingin menjadi komunitas yang terliterasi dengan baik di dunia nyata maupun di dunia maya. 

Dalam komunitas yang telah lama berdiri dan menjadi besar, biasanya aktivitas virtual ini juga mendorong terbentuknya berbagai kegiatan di dunia nyata yang dapat berupa usaha bersama, kegiatan sosial, seminar atau workshop. Dari sisi bisnis, banyaknya angota komunitas di dunia maya sangat menarik karena secara langsung berhubungan dengan proses pengembangan pasar dan kebutuhan, di mana ada permintaan (demand) yang mendorong usaha penyedia (supply) akan berbagai kebutuhan barang dan jasa.

Dalam komuinitas-komunitas maya yang besar dan berdiskusi secara positif akan terjadi sebuah proses snowball (bola salju), yang semakin lama semakin besar, yang akan menguntungkan semua partisipan yang terlibat di dalamnya menuju sebuah tujuan bersama yang baik.

Dari hal ini menarik untuk disimak bahwa bangunan yang menjadi pijakan komunitas maya yang pada awalnya hanyalah sebuah platform berbentuk forum diskusi yang berbasis internet, telah berkembang dan berubah menjadi sebuah ruang publik yang memungkinkan terjadinya perubahan di dalam masyarakat nyata.

Cyber community sebagaimana disampaikan Giddens (1991) telah memberikan konteks bagi beberapa individu untuk mengalami hubungan murni, sebuah jenis hubungan yang tidak diikat oleh kondisi sosial atau ekonomi, namun berdasarkan komitmen, keintiman dan rasa kepercayaan. Sehingga perlu bagi lembaga-lembaga pemerintahan maupun swasta untuk memberdayakan keberadaan komunitas maya yang luar biasa banyak ini agar dapat lebih bermanfaat secara ekonomi, politik dan sosial-budaya. (*)


Penulis adalah Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Mercu Buana Yogyakarta.

Editor : Happy Hawra

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button