Opini

Rilla Nadira: Kedudukan Bahasa Indonesia di Era Milenial

biem.coDi era kecanggihan teknologi yang dirasakan saat ini, banyak terdengar sebuah kalimat yaitu ‘generasi milenial’. Seperti yang dilihat di kondisi akhir–akhir ini, generasi milenial adalah masyarakat sosial di mana masyarakat ini sangat memanfaatkan kecanggihan teknologi yang ada atau bisa dibilang generasi yang selalu menggunakan teknologi dalam melakukan aktivitas apa pun.

Lalu, apa sih kaitannya dengan Bahasa Indonesia? Seperti yang bisa dilihat di lingkungan masyarakat, banyak generasi milenial dalam berkomunikasi dengan teman sebayanya atau generasi yang seangkatan dengannya menggunakan Bahasa Indonesia yang tidak baku atau dengan kata lain mereka menggabungkan dua buah kata sehingga menjadi satu kata. Contohnya kuper (kurang pergaulan).

Jika di pahami kembali, sebenarnya bahasa gaul sudah ada sejak lama, bahkan nama lain dari bahasa gaul itu disebut bahasa prokem atau Bahasa Indonesia tak baku yang lazim digunakan di wilayah Jakarta pada 1979-an.

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Banyak referensi mengatakan bahwa bahasa prokem ini telah digunakan di 1980–an tetapi yang menggunakan bahasa ini hanyalah orang–orang yang memiliki latar sosial menengah ke atas.

Namun, seiring berjalannya waktu, bahasa prokem atau yang dikenal bahasa gaul ini sudah banyak dipakai oleh semua kalangan, baik itu dari yang muda bahkan sampai yang tua. Hal inilah yang membuang tidak adanya partisipasi semua kalangan dalam penggunaan bahasa sehingga banyak kalangan yang tidak mengetahui makna dari bahasa yang mereka gunakan tersebut.

Hal ini banyak menimbulkan simpati pada sebagian masyarakat yang sangat memperhatikan penggunaan Bahasa Indonesia dalam berkomunikasi dengan lingkungan sosialnya.

Bagaimana bisa seseorang yang berketurunan asli Indonesia tidak mengerti makna Bahasa Indonesia? Ya, karena seseorang tersebut sudah terbiasa dengan bahasa gaulnya, sampai melupakan bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa pemersatu.

Kenapa bisa dikatakan bahasa pemersatu? Karena dengan Bahasa Indonesia seseorang itu bisa berkomunikasi dengan semua orang yang berasal dari Aceh sampai Papua. Namun bisa dilihat juga banyak remaja akan bertanya ketika dijelaskan bahwa berbahasa Indonesia yang benar sangat penting dalam berinteraksi sosial, remaja tersebut akan bertanya, “Emang gak bisa apa pakai bahasa gaul?”, “ih pelosok banget deh masa gak tahu bahasa gaul.”.

Seperti yang diketahui Indonesia merupakan negara dengan beribu kepulauan dan beragam budaya yang ada. Jadi, tidak semua daerah di seluruh Indonesia mengerti bahasa gaul yang digunakan oleh remaja yang mayoritas berdomisi di Jakarta atau di ibu kota.

Melihat kejadian seperti inilah yang sangat disayangkan. Karena generasi milenial sekarang merupakan generasi yang akan memajukan negara Indonesia di masa yang akan datang. Sangat memalukan jika generasi tersebut kehilangan makna Bahasa Indonesia dalam berbahasa karena terlalu seringnya menggunakan bahasa gaul sehingga sampai melupakan bahasa aslinya sendiri yaitu Bahasa Indonesia.

Bisa dibayangkan bagaimana ketika generasi milenial ini sudah beranjak dewasa dan remaja tersebut bertemu dengan orang luar negeri dan orang luar negeri tersebut bertanya bagaimana Bahasa Indonesia yang sebenarnya itu. Mungkin memang remaja tersebut sudah fasih berbahasa Inggris. Bisa diakui bahwa sekitar kurang lebih 75 persen para generasi milenial sekarang sudah menguasi bahasa Internasional, yaitu Bahasa Inggris.

Namun pertanyaannya apakah negara tersebut tidak akan malu jika remaja itu tidak tahu bagaimana berinteraksi dengan menggunakan bahasa yang baku? Sudah pasti malu, dan itu juga termasuk ke dalam sifat kurangnya seseorang tersebut dalam mencintai negaranya sendiri, karena seseorang tersebut tidak tahu apa saja makna Bahasa Indonesia bahkan tidak tahu bagaimana berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.

Banyaknya kejadian seperti inilah yang bisa membuat kedudukan Bahasa Indonesia di Indonesia ini bisa goyah atau sudah tidak kokoh lagi. Itu disebabkan karena terlalu menormalisasikan bahasa gaul dalam kehidupan sehari–hari, bahkan bisa dilihat dalam ruang lingkup formal pun banyak remaja berinteraksi menggunakan bahasa gaul.

Sungguh ini sangat memprihatinkan, sudah seharusnya sebagai warga negara Indonesia mampu menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam berinteraksi sosial. Bahkan kedudukan Bahasa Indonesia dijelaskan oleh pasal 36 UUD 1945, yang mengatur tentang kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi negara, memperkenalkan pendidikan, mempersatukan sarana dan sumber kebudayaan serta alat pengembangan kebudayaan dan IPTEK.

Jika dilihat tidak mungkin bahasa gaul ini muncul secara tiba–tiba begitu saja pasti ada faktor pendukung, mengapa bahasa gaul bisa tren di tengah lingkungan sosial? Faktor penyebabnya, yaitu:

Pertama, penyebaran internet dan situs jejaring sosial telah menyebabkan menjamurnya bahasa gaul. Remaja yang merupakan pengguna setia situs jejaring sosial peran penting dalam menyebarkan bahasa gaul. Karena dengan adanya remaja tersebut, bahasa gaul ini bisa berkembang dan meluas sehingga bisa diikuti oleh banyak orang.

Kedua, karena adanya pengaruh lingkungan sekitar. Tidak bisa dipungkiri bahwa lingkungan sangat mempengaruhi cara berbahasa seseorang dalam berinteraksi, karena dengan seseorang itu melihat orang lain berbicara menggunakan bahasa gaul dan terkesan keren sehingga seseorang itu ingin menggunakan bahasa tersebut dalam berinteraksi dengan lingkungannya.

Semakin hari Bahasa Indonesia memiliki tantangan yang lebih besar dari hari sebelumnya, karena bangsa dan negara terus berubah dengan cepat, serta masyarakat Indonesia sendiri yang kini hidup di abad ke-21.

Dari ranah publik, terlihat bahwa ada sejumlah perubahan mendasar yang terjadi di berbagai aspek kehidupan, dengan semakin banyaknya orang yang menggunakan bahasa asing untuk mengidentifikasi institusi, produk, dan sebagainya.

Maka dari itu, sangat diperlukan genarasi milenial dalam menanamkan kesadaran betapa pentingnya berbahasa dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Kesadaran bahasa yang kuat sangat penting untuk mengembangkan sikap positif terhadap bahasa Indonesia dan mencapai fungsi yang optimal sebagai simbol nasional. Penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu dan sebagai bahasa resmi Indonesia perlu didorong untuk menghadapi tantangan di tengah meningkatnya penggunaan bahasa asing, khususnya Bahasa Inggris di Indonesia.

Penting bahwa pengembangan penggunaan Bahasa Indonesia diarahkan untuk memungkinkan bahasa Indonesia menjadi alat interaksi sosial yang ampuh untuk mengekspresikan nilai-nilai budaya bangsa.

Seperti yang banyak orang bilang, kacau bahasanya kacau pulalah bangsanya. Hal ini sangat perlu disadari oleh masyarakat Indonesia bahwa pentingnya berkomunikasi menggunakan Bahasa Indonesi, karena itu adalah sebagai bentuk kecintaaan terhadap bangsa Indonesia.

Jika penggunaan Bahasa Indonesia terus dikembangkan, maka rasa cinta terhadap tanah air akan terus tumbuh dengan subur di sanubari setiap pemakai Bahasa Indonesia.

Berbahasa Indonesia di kehidupan sosial masyarakat Indonesia sangat penting dan perlu dilestarikan. Bahasa Indonesia ini juga merupakan sebuah identitas bangsa yang tidak boleh luntur sampai kapan pun.

Oleh karena itu, Bahasa Indonesia harus didorong dan dikembangkan sedemikian rupa sehingga menjadi kebanggaan bangsa Indonesia dalam pergaulan internasional di era globalisasi ini.

Bahasa Indonesia harus dilestarikan dan digunakan untuk berkomunikasi dengan kaum milenial yang tercemar bahasa asing, sikap dan sikap, serta pembinaan bahasa harus digalakkan.

Sikap berbahasa yang baik adalah sikap yang positif, yaitu sikap menghargai peran dan kedudukan Bahasa Indonesia, dan memelihara bahasa yang baik adalah pembelaan bahasa yang positif, mengutamakan bahasa Indonesia dan Berbahasa Indonesia dengan selalu berarti untuk meningkatkan cintamu.

Selanjutnya, sikap menjaga Bahasa Indonesia juga dapat dicapai dengan membangun eksistensinya di dunia internasional melalui pengembangan bahasa Indonesia, dedikasi generasi milenial yang visioner dan terampil.***

Editor: Redaksi

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button