InspirasiPuisi

Sajak-sajak Syafri Arifuddin Masser

Oleh Syafri Arifuddin Masser

 

Di Balik Hujan Jatuh

Hujan jatuh: di dadamu ada rasa yang tumbuh
di kepalamu ada masa lalu mengendap-endap
bersama rintik dan gemericiknya. Di iramanya
kau temukan seseorang sembunyi di baliknya.
Berpura-pura menjadi kenangan yang membawa
tugas kematian.

Mamuju, 2018

 

Setelah Hujan Reda

Lihatlah bianglala itu—tercipta
untuk menghangatkan kita
dari dingin cuaca dan masa lalu
yang tak lekas pergi.

Di bawahnya kita berteduh, sehabis
rinai hujan memaksa kita memikirkan
masa depan—semoga masih bisa terjaga.

Bianglala mulai pudar dan malam tiba,
bintang berjatuhan di pelupuk mata kita.
Masih di tempatserupa di bawahnya kita
menghitung kemungkinan-kemungkinan

dan esok hari matahari tinggal separuh.
Padang ilalang mengingatkan kita tentang
kenangan.

Di setiap pucuk yang terbang ditiup angin
di situ ada harapan ikut tenggelam.

Di penghujung sore kita telah habis ditelan
hayalan. Langit sudah mulai bosan dan angin
taklagi bersedia menyampaikan ingin bila
keinginan kita hanya menjadi angan.

Mamuju, 2018

 

 

Sebelum Kau Memintaku Jadi Kekasih

Apa sudah telah kau pertautkan semua ingin
agar jalan memiliki tujuan dan mimpi
memiliki tapal batas di mana ia harus berhenti.
Apa sudah telah kausirnakan ketakutan-ketakutan
agar tidak ada lagi penghalang juga pemisah
untuk rasa memiliki seutuh dan seluruh.
Apa sudah telah kaurampungkan segala ragu
agar logika kuat melawan adat dan tradisi
yang membuat kau semakin hari semakin sangsi.
Apa sudah telah kau kerahkan seluruh usaha
untuk menyampaikan niat dan maksud hati
atau hanyalah puisi-puisi tempatmu sembunyi.

Mamuju, 16 April 2018

 

Sajak untuk Ayulia Palewoi

Kita menghabiskan hari-hari dengan mengunjungi masa depan.
Menemukan akan jadi apa kita di sana, akan seperti apa rumah
yang hendak kita bangun, siapa saja yang akan tinggal dalamnya
dan bagaimana kita akan merayakan kelahiran dan hari raya.

Kita membayangkan sebuah hunian sederhana. Kau menyebutnya
rumah: sebuah tempat di mana buku-buku berada sama banyaknya
dengan angan dan ingin kita di masa depan, yang di saat pagi kau
akan bangun dan mengajakku duduk di meja makan dekat jendela
dengan segelas kopi yang telah siap diseruput.

Kita memikirkan waktu berlalu begitu cepat seperti deras air
mengalir dari ketinggian saat hujan lebat. Mengekalkan rasa
takut yang bersemayam dalam tubuh kita yang lain bahwa jika
tak segera kita bersanding, harus berapa lama lagi kita beriring

Kita meyakinkan diri masing-masing tapi rasa yakin hanyalah
sebuah hiburan dari perasaan kita yang terlalu anak kecil, yang
mudah patah dan berhenti jika mendapati kekalahan. Kau datang
ke kepalaku dan memberitahu perihal waktu yang memburumu
bagai kutukan.

Kau memilih menunggu dan tak peduli dengan rasa khawatir yang
kurawat dalam kepalaku sedang aku sendiri termenung dan mulai
menghitung-hitung.

Mamuju, 17 april 2018


Syafri Arifuddin Masser, Lahir 13 juli 1994 di Sirindu, Sulawesi Barat. Alumnus mahasiswa jurusan Sastra Inggris di Fakultas Sastra Universitas Muslim Indonesia. Menggagas pustaka jalanan Kamar Literasi Mamuju. Tergabung dalam antologi puisi: Muda-Mudi Berpuisi (Mandala, 2006), Kisah Perempuan yang Membalurkan Kotoran Sapipada Kemaluannya Seumur Hidup (Interlude, 2017). Buku Puisi Pertamanya: Unjuk Rasa Kumpulan Sajak-Sajak politik (Indie Book Corner, 2018). Sekarang berdomisili di Mamuju-Sulawesi Barat.


Rubrik ini diasuh oleh M. Rois Rinaldi.

Editor : Esih Yuliasari

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar