Puisi

Sajak-Sajak Timur Budi Raja

Sungai

nyanyian padam
sepanjang luka haluan

gelap disucikan
di bawah cahaya

di tepi matahari mati,
di bibir sunyi sendiri.

2019

 

Kali Susu

kegelapan kuyup dan tenggelam,
sejauh kali susu napasmu,
luka dilayarkan

kegelapan kuyup dan tenggelam
di tepian matahari mati kaku,
dilanggar cahaya bulan bungkam

kegelapan kuyup dan tenggelam
cerucup percakapan begitu malam
merindukan engkau seluruh nyanyian

kegelapan kuyup dan tenggelam,
sejauh kali susu napasmu,
luka dilayarkan.

2019

 

Sulang Tanah

 tudung yang dilepaskan,
waktu bersikeras berhenti

suara menjadi lebih rendah,
kecuali debar yang itu-itu saja

memasung genggam,
meminang kau perjalanan.

2019


Timur Budi Raja, lahir di Bangkalan, 01 Juni 1979. Pendidikan terakhir S1 Sosiologi di Universitas Trunojoyo Madura. Menulis puisi, prosa lirik, beberapa naskah pertunjukan, esai sastra dan bergiat mengaransir puisi-puisinya ke dalam bentuk musikalisasi puisi.

            Buku puisinya yang telah terbit: Aksara Yang Meneteskan Api (Lingkar Sastra Junok, 2006). Opus 154 (AkarHujan Press, 2012). Tujuh Tipografi Tahun (Penerbit Delima, 2017), dan Penyamun Sholeh (Rumah Akar Literasi, 2017).

            Puisi-puisi dan esainya dimuat di Voice Of Law, Surabaya Post, Kidung, Horison, Mimbar Pengajian Agama, Fajar, Palapa Post, Pewarta Siang, Buletin Penggak (Bali), Jendela Newsletter (Bandung), Lorong (Surabaya), Buletin Tera (Madura), Radar Madura (Jawa Pos), Pedoman Rakyat (Sulawesi Selatan), Jurnal Sastra Amper, Majalah Sastra Kalimas, Suluk, dan Bali Pos.

            Puisi-puisinya menjadi bagian dalam beberapa himpunan puisi bersama; Akulah Mantera (1996), Mosshat (1998), Anak Beranak (1998), Istana  Loncatan (1998), Luka Waktu (1998), Narasi 34 Jam (Komunitas Sastra Indonesia, 2001), Osteophorosis (2001), Hidro Sefalus (2001), Sastra Pelajar (Horison, 2002), Ning (Sanggar Purbacaraka Udayana, 2002), Permohonan Hijau (Festival Seni Surabaya, 2003), Penyair Jawa Timur (Festival Seni Surabaya, 2004), Pelayaran Bunga (Festival Cak Durasim, 2007), Laki-Laki Tak Bernama (Dewan Kesenian Lamongan, 2008), Rumah Kabut (2009), Pesta Penyair Jawa Timur (Dewan Kesenian Jawa Timur, 2009), dan Forum Sastra Hari Ini (Salihara, 2010), Lelaki Kecil Di Lorong Maling (Melati Press, 2013), Mahar Kebebasan (MataMalam, 2013), Wasiat Cinta (Nala Cipta Litera, 2013), dan Tentang Yang (antologi puisi Fiction Writers & Font, Makassar International Eight Festival & Forum kedua, 2017).

Editor : Irwan Yusdiansyah

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Tulisan Ini Juga, Yuk!

Close