InspirasiPuisi

Sajak-sajak M. Rois Rinaldi

PARA PEDAGANG

Bukan. Ini bukan soal agama.
Peperangan datang dari pasar.
Agama hanya minyak.
Para pedagang menyalakan api.
Bukan. Bukan batas negara
dalang dari sekian ratus juta
nyawa yang melayang itu.
Batas negara menjaga nyawa.
Tuan-tuan tentu mengerti
telah begitu lama kematian
menjadi sumber keuntungan
dan permusuhan adalah jalan
yang terus diciptakan.

Bukan. Pedagang bukan
yang tampak di permukaan itu
—yang melayani Tuan-tuan
dengan senyum dan sedikit senda gurau.
Mereka hanya orang suruhan.
Para pedagang menyamar sebagai pembeli
yang berani bayar mahal.
Di antara kerumunan pembeli
mereka menciptakan mitos
dan menjebak orang-orang
dalam drama tawar menawar.
Mereka meninggalkan pasar
ketika para pembeli bertengkar.

Tuan-tuan,
bukan kewarganegaraan Tuan-tuan
atau kewarganegaraan saya
yang melahirkan ketegangan.
Setiap pribadi memang berhak
merawat semangat nasionalisme
tapi nasionalisme bukan alasan bagi kita
untuk bersitegang dan berperang.
Perang hanya berlaku bagi masa lalu
karena para pedagang menggasak
tanah-tanah kita, menghinakan
kemanusiaan lebih dari anjing diburu!
Mereka yang selalu berbicara tentang
harga tanah, samudera, dan udara
tidak pernah jauh dari narasi
angin surga bernama kedaulatan.
Mengajari kita mengokang senjata.

Tuan-tuan, omong kosong tentang ras
dan suku abadi di bumi adalah
yang dahulu jadi iman orang-orang
kulit putih yang membantai
orang-orang kulit hitam. Omong kosong itu
masih ada dan terus dibisikkan
karena para pedagang masih ada
makin banyak dan pasar terus dibangun.
Mereka menebar omong kosong
yang sama dengan wajah yang berbeda.
Karena di dalam perdagangan,
kemasan harus terus diperbarui
dibuat menarik agar tetap laku.

Para pedagang telah lama
meletakkan senjata di perbatasan.
Ketika korban berjatuhan
mereka datang sebagai yang paling berduka.
Kepada orang-orang yang menangis
dan marah, mereka berkata:
“Darah harus dibayar dengan darah!”
Negeri-negeri dihubungkan
dengan potongan tangan dan kepala.
Duka dikemas dalam sejuta iklan!

Indonesia, 2016

 

SETELAH BENDERA ITU DIKIBARKAN

Sekarang Anda menyanyikan lagu kebangsaan
di negeri kami. Kami tidak mengenali lagu itu, tapi
Anda memaksa kami menyanyikannya.
Mulut kami terbata-bata mengikuti mulut Anda.
Ayah kami yang patah giginya Anda paksa juga.
Kami hanya berdaham ketika melihat ludah
di kopyah ayah. Kami yang tidak lagi punya hati
kepada hari-hari upacara  dijadikan
seremonial. Jiwa kami tidak ada harga. Tubuh
kami hanya patung hias. Dalam rencana-rencana
tersulubung,  kami tidak boleh teriak.
Karena kami menanggung hutang kepada Anda.
Tetapi bagaimana kami dapat mengembalikan
yang tidak pernah kami ambil?

Kami bicara kepada Anda dengan bahasa sandi.
Kami kehilangan suara dan tenaga
tidak berguna. Karena bendera Anda telah dikibarkan
lagu-lagu kami tinggal ratapan lelaki
yang selalu menangis di nada-nada minor.
Anak-anak memang masih merangkai bunga
tapi bunga-bunga itu masa depan
yang mudah gugur dalam permainan tangan.
Mereka tidak melihat kenyataan.
Kenyataan hanya ada di televisi.
Hanya dalam streaming yang Anda ciptakan
dari halusinasi peradaban tanpa haluan.
Anda hadirkan nama-nama pahlawan kami
sebagai masa lalu; cita-cita moyang sebagai
makhluk purba; dan setiap hal di hari ini juga
selanjutnya adalah milik Anda.

Kami beratus juta jiwa hanya buruh murah;
hanya petani yang kalah dalam perebutan tanah;
hanya nelayan yang terusir dari setiap laut;
hanya pegawai sipil kelas rendah; hanya petugas
partai yang diangkangi pemilik modal. Kami
beratus juta jiwa yang selalu diam ketika Anda
meratakan gunung kami. Anda rengggut
sawah kebun kami. Kami yang tidak lagi punya
pantai hidup di tanah-tanah landai.
Kami masih di sini karena angan-angan
tentang kemuliaan hidup dalam kemerdekaan
atau tidak untuk apapun.

Kepada anak cucu, kami menanggung dosa.
Karena warisan bagi mereka bukan tanah daulat
tapi ketidakberdayaan. Kelak mereka takkan tiba
di kubur kami. Tanah bagi kubur kami
tidak ada. Kubur kami ada di angin.
Jerit penyesalan kami menjadi mitos pada malam-
malam hampa di antara rengek bayi-bayi lapar
di rumah-rumah yang sepi kasih sayang.
Kami dalam setiap ingatan berwajah jelek
dan menjengkelkan. Selain itu tidak ada.
Karena sejarah Anda yang punya. Tulisan-tulisan
kami di dinding  gampang usang, sedangkan
jutaan hektar kertas yang Anda cetak
terus dibentangkan.

Nyanyikanlah. Nyanyikan lagu kebangsaan itu.
Di bawah bendera Anda kami patung hias.
Beratus juta jiwa kami terkungkung dalam tubuh
bertumbangan.

Indonesia, 2016

 

P L E D O I

Tenang.
Aku tidak di sini. Kepentingan di mataku
mati.

Duduklah
di singgasanamu. Duduk manis.
Kekuasaan

tidak menghinakanku. Tidak memuliakanku.
Aku tidak dalam belenggumu.
Tubuh yang kau rajam ini

rangka. Aku terlepas dari kehendak
dan ketakutan.
Akulah

yang mengungkungmu. Kematianku
yang begitu kau damba
tidak akan membuatmu bebas.  Tidak

ada jalan bagimu
untuk berjarak dariku.
Kemana pun

kau berlari, aku arah yang mengantarmu
kepada kenyataan  yang bergerak
di antara masa lalu dan masa depan.

Hari ini bagimu
hanya ada aku.
Tidak peduli, kini, musim apa,

semua yang tumbuh di kepalamu
gugur seketika. Tinggal aku

yang hidup di sana.
Aku yang mengakar
dan menjalar!

Kau telanjangi aku, tapi hidup ini lebih telanjang.
Dalam telanjang begini jubah agungmu
tampak sungguh lucu. Aku tidak kedinginan.

Kau yang menggigil.
Tidak. Di tanganmu aku tidak tersiksa.
Kaulah

yang tersiksa. Kesakitan-kesakitanku
mengganggu waktu tidurmu.
Menghilangkan
napsu makan.
Aku yang ingin kau kuasai,
telah menguasaimu.
Ketika
kau mengakhiri hari ini dengan darahku
kau budak
dalam kemerdekaanku!

Banten, 2014

 

AKULAH TAI

Akulah tai,
berselancar memenuhi spiteng.

Meski bau
aku kalis dari dosa.

Terjun
bebas dari dubur manusia.

Plung!

Kramatwatu, 2015


Muhammad Rois Rinaldi dilahirkan di Kramatwatu-Serang, 8 Mei 1988.  Semenjak Sekolah Dasar (SD) ia menekuni dunia perpanggungan sastra, sejak tahun 1998. Ia lebih banyak menulis puisi dan esai, sesekali menulis cerita pendek.  Karya-karyanya dimuat di berbagai media Nasional dan Internasional. Ia juga telah menerbitkan karya-karyanya dalam bentuk buku, di antaranya Terlepas  (Pustaka Senja, 2015), Sastracyber,  Makna dan Tanda (Esastra Enterprise, 2015), Noor Aisya: Karya & Kiprahnya (Pustaka Senja, 2015), Sang Kalamorgana (Sembilan Mutiara Publishing, 2013), dan Sepasang Angsa (Abatasta Publishing, 2012).

Dalam kurun waktu 17 tahun ia meraih puluhan penghargaan di bidang sastra. Puisinya, Nun Serumpun, menjadi puisi terbaik dalam malam Anugerah Puisi Dunia yang diselenggarakan oleh Nusantara Melayu Raya di Badan Pustaka dan Bahasa Malaysia, ia menerima Anugerah Puisi Dunia 2014.  Bukunya Sastracyber: Makna dan Tanda menjadi buku terbaik di Malaysia dalam kurun 10 tahun dalam malam HesCom 2015. Selain itu, dua tahun berturut-turut ia memenangi lomba menulis puisi tiga negara yang diselenggarakan oleh PBKS, 2011 & 2012.  Ia juga  memecahkan rekor sebagai penyair Asean pertama yang tiga tahun berturut-turut menerima Anugerah Utama Penyair Asean (E-Sastera Malaysia 2014, 2015, dan 2016).  Pada HesCom 2013 di Bali,  ia dinobatkan sebagai tokoh Sastra Indonesia.

Presiden Lentera Internasional dan pendiri Rumah Baca Bintang Al-Ikhlas Banten ini dipercaya oleh Gabungan Komunitas Sastra Asean (Gaksa) sebagai CEO Gaksa. selain itu ia dipercaya sebagai Direktur Kajian dan Pengembangan Puisi517. Rois dapat dihubungi melalui email [email protected]

Editor : Muhammad Iqwa Mu'tashim Billah

Related Articles

Berikan Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *