Terkini

Cerpen Wahyu Rusnanto: Membasuh Hujan

biem.co — Ketika itu kau sedang berdiri di pinggir jalan memandang sebuah bangunan tua di antara deretan pertokoan di sebuah jalan di kota New York. Kau memakai kemeja hitam juga celana panjang dengan warna yang senada, sebuah mantel coklat tua yang cukup tebal menyelimuti tubuhmu yang kurus. Sementara tanganmu menggenggam sebuah payung karena sedari tadi hujan terus mengguyur bumi. Kau tidak tahu mengapa jalanan ini terasa sangat sepi, kau sempat beranggapan mungkin saja karena sekarang telah pukul dua pagi, tapi bukankah New York adalah kota yang selalu sibuk, tak peduli tengah hari atau tengah malam. Kau selalu membayangkan bahwa kota ini sangat ramai, dengan banyak lampu serta gedung-gedung tinggi, dan lelaki serta perempuan berlalu-lalang berbalut mantel dengan tangan meringkuk di saku, seperti yang kau lihat di film-film Hollywood. Kau pun beranggapan, mungkin karena hujan yang tak kunjung berhenti, orang-orang enggan keluar rumah dan memilih tidur dengan selimut menutupi badan.

Toko-toko yang berderet di sepanjang jalan ini seperti tidak bertuan, lampu-lampu dipadamkan dari luar. Dan di jendela toko-toko tersebut digantungkan sebuah papan yang bertuliskan ‘closed’. Hanyalah lampu-lampu jalan yang membuat jalanan ini menjadi terang, dan kau sedang berdiri di bawahnya dengan payung dalam genggaman. Tentu sebenarnya kau tidak tahu mengapa kau berada di jalanan itu. Sebelumnya kau turun dari pesawat di John F. Kennedy International Airport dengan berbekal kopor yang berisi beberapa pakaian. Kau datang kemari dengan bakat seni peran dan tentu saja satu dua kalimat dalam bahasa Inggris. Seorang pencari bakat bernama Alex mengatakan bahwa kelihaianmu bermain seni peran sudah mumpuni untuk bermain teater di Broadway. Itu setelah Alex melihat pertunjukanmu dengan sebuah komunitas teater di Jakarta.

Ucapan Alex tentu saja membuatmu terbuai. Dan setelah bercumbu dengannya di sebuah hotel berbintang di Jakarta kau mengucapkan setuju dan akan menemuinya kembali di New York. Alex memberikan nomor telepon dan juga kartu namanya yang berisi identitas dan alamatnya lalu meninggalkanmu dengan tubuh yang masih telanjang. Tenang kamar ini sudah aku pesan sampai besok pagi, ucapnya. Tapi, kedua orang tuamu tidak setuju dengan keputusanmu untuk pergi ke Amerika hanya untuk bekerja sebagai pemain teater. Bukan itu tujuan mereka membiayaimu kuliah jauh-jauh di ibu kota. Namun, kau tidak mengindahkan mereka. Seperti kebanyakan orang tua, mereka tidak pernah peduli dengan apa yang menjadi keinginan anaknya, pikirmu.

Kau pun mengambil semua tabungan yang kau punya, lalu kau gunakan untuk membuat paspor dan membeli sebuah tiket pesawat. Tentu dengan tanpa sepengetahuan kedua orang tuamu. Dan kini kau sedang berada di sebuah jalan di kota New York dengan payung digenggaman. Tentu saja kau membawa payung dari Jakarta, sebab sebelumnya Alex telah memberi tahu bahwa intensitas hujan di New York cukup tinggi. Entah apa yang membawamu ke jalanan ini, kau hanya berjalan mengikuti nalurimu dan arahan dari orang-orang yang kau temui di jalan. Sebab, Alex sama sekali tidak bisa dihubungi. Akhirnya, kau hanya bisa bertanya sambil menunjukkan kartu nama Alex dengan kemampuan bahasa Inggrismu yang terbatas.

Dan begitulah, akhirnya kau sampai di jalan yang sepi ini. Setelah sebelumnya kau naik-turun taksi dan berjalan di tengah hujan. Sebenarnya, kau tidak bermaksud untuk berhenti. Tapi, sebuah teriakan dan bunyi semacam piring pecah menghentikan langkahmu. Membuat wajahmu berpaling ke sebuah bangunan tua di samping kananmu. Kau berdiri di bawah lampu jalan, menatap bangunan itu dan bertanya-tanya apa yang terjadi di dalamnya. Hujan semakin deras disertai kilat saling menyambar. Genangan air berkecipak ditimpa rintik hujan, sesekali mobil taksi lewat dan menggilas genangan tersebut sehingga membuat air menyiram trotoar yang sedang kau pijak. Kau pun memekik lalu memaki dalam hati ketika pakaian yang kau kenakan basah dan si mobil tetap melaju tak mempedulikan apa pun.

Namun, tentu setelah itu kau kembali memandang bangunan itu. Yang kau pikir adalah sebuah apartemen tua berharga murah yang puluhan tahun tidak direnovasi, terselip di antara toko-toko penjual kue dan barang antik. Sebab, bunyi semacam piring pecah kian terdengar nyaring dan itu membuat telingamu risih. Ah, tentu itu membuatmu risih, sebab tak hanya kali ini kau mendengar suara-suara itu. Dulu sekali, sewaktu kau kecil, bapak-ibumu sering sekali bertengkar dan membuat telingamu sakit dan kepalamu pening. Ibumu akan menjerit sembari melempar dan memecahkan barang apa pun yang ada di depannya, sedangkan bapakmu terus saja berteriak memaki serta mengumpat. Bahkan, sesekali bapak menempeleng ibumu sehingga ibumu akan berlari ke kamar dan menangis sejadi-jadinya. Sementara, kau terdiam memerhatikan kejadian itu tanpa tahu harus berbuat apa. Tentu, kau akan menangis nantinya dan mengutuk betapa kejamnya bapak serta tololnya ibu yang selalu memancing amarah bapak.

***

Kau menyaksikan lampu kamar menyala, cahayanya tertahan sehelai tirai yang menggantung menutupi jendela. Kau dapat melihat siluet sebagian samping ranjang dan meja yang di atasnya terdapat lampu kamar. Di saat yang sama dua ekor kucing berlarian mengejar beberapa tikus yang keluar-masuk lubang selokan di bawah lampu jalan dan gerimis yang tak kunjung berhenti kini telah benar-benar membuatmu gelisah. Membuatmu berkali-kali melihat ke arloji yang sedikit basah. Memikirkan, bukankah sudah terlalu malam untuk melakukan sebuah pertengkaran? Tapi, suara jeritan dan piring pecah serta lampu kamar yang menyala tentu saja tidak akan mempedulikan tentang pukul berapa saat ini. Lalu, kaubaru saja teringat sekarang kau sedang berada di negeri orang yang membudayakan jangan mengurusi urusan orang lain.

Kucing-kucing terus berkecipak menginjak genangan hujan, ketika kau melihat siluet seorang lelaki bertubuh tegap berambut pendek muncul dari samping kanan jendela. Ia menghampiri meja dan menunduk dengan tangan bertumpu di atasnya, sesekali tangannya mengusap wajah seolah menghapus air mata. Tidak lama kemudian siluet perempuan menghampirinya lalu membenamkan wajah ke punggung lelaki itu sembari melingkarkan tangan, memeluk tubuh lelaki itu dengan erat.

Keinginanmu untuk pergi kembali tertahan. Ada hasrat dalam dirimu untuk mengetahui apa yang akan terjadi. Pandanganmu lekat mengawasi jendela itu. Dua kucing yang masih saja bermain di sebuah genangan sembari mengejar beberapa tikus tidak lagi kau pedulikan. Begitu juga, satu-dua mobil yang melintas dan menyebabkan mantelmu kembali basah. Ada sesuatu yang membuatmu tidak lagi mempedulikan apa pun. Ah, kau baru saja teringat dengan bapak dan ibumu kembali. Benar, walau sehebat apa pun mereka bertengkar, toh, keesokan harinya atau beberapa jam setelahnya. Ibumu akan kembali menghampiri bapak, memeluknya serta mengecup keningnya di hadapanmu dan mengucap berpuluh-puluh maaf serta penyesalan. Lalu, setelah mendengar permintaan maaf ibumu, bapak yang mempunyai perangai keras sekali pun akan melunak dan berkata bahwa ia sudah terlalu kasar dan menyesal atasnya. Lalu, mereka akan kembali bercengkerama sebelum terjadi pertengkaran di hari berikutnya.

Kau tersenyum. Beranggapan, kejadiannya akan sama dengan apa yang terjadi kepada orang tuamu. Betapa kasihannya orang-orang yang menjalani hidup dengan memutuskan untuk menjadi sepasang kekasih, pikirmu. Mereka selalu hidup dengan cara yang sama, saling mengekang dan melarang. Di mana nikmatnya hidup semacam itu? bukankah hidup yang sekarang sedang kau jalani lebih berwarna dan menantang dari mereka. Kau pergi ketika kau ingin pergi, kau baik ketika kau ingin baik, kau menjadi jahat ketika kau sedang ingin melakukannya dan kau bercinta ketika kau ingin bercinta. Tak peduli, yang kau ajak bercinta adalah teman, pacar sahabatmu atau lelaki yang baru saja kau temui. Sebab menurutmu, ikatan tidak menjamin kebahagian. Kau tahu bagaimana cara menciptakan kebahagianmu sendiri.

Namun, sepertinya hal semacam itu tidak berlaku kepada selain dirimu, begitu pula dengan sepasang kekasih yang sedang kau awasi. Perempuan itu sepertinya sedang menangis tersedu, kau mengetahuinya karena suaranya yang samar-samar terdengar dan bahunya yang naik-turun tidak beraturan. Apa yang membuatnya menangis, masih menjadi tanda tanya bagimu. Kau beranggapan, mungkin saja perempuan itu bercinta dengan orang lain dan si lelaki mengetahuinya atau sebaliknya. Sebab, begitulah biasanya alasan mengapa sepasang kekasih bertengkar. Maka, dengan tidak disangka olehmu kau menyunggingkan senyum. lalu,  berjanji pada dirimu sendiri bahwa kau tidak akan mengalami hal semacam itu.

Dan walau hal itu membuatmu muak. Namun, kau tidak pula beranjak dari tempatmu sedari tadi berdiri, kau masih memandang ke jendela tersebut. Menanti-menanti apa yang akan selanjutnya terjadi. Ditemani kesepian yang tak kunjung berkesudahan dan rintik hujan, kau tak lagi mengingat apa yang membuatmu datang ke negeri ini atau Alex. Perhatianmu sudah tercerabut oleh sepasang kekasih itu, yang kini masih saja terdiam dengan si perempuan memeluk lelaki itu dengan erat.

Gerimis yang sedari tadi mengguyur, kini menjadi deras dan menghantam payung yang sedang kau genggam tiada ampun. Lampu jalan tempat kau berdiri sesekali berkedip-kedip dan kau sama sekali tak tahu apa yang membuatnya begitu. Namun, selama beberapa saat sepasang kekasih yang tengah berpelukan tersebut tidak mempedulikan hal itu dan menikmati kehangatan yang mereka ciptakan. Lalu kau seolah mendengar di dalam telingamu, suara gesekan biola, lalu disambung dengan cello serta contre bass yang bersimponi menciptakan irama menyayat namun menenangkan. Kau menikmati irama yang tiba-tiba hadir itu, dan begitupun sepertinya dengan sepasang kekasih itu. Kau mengetahuinya, sebab mereka mulai melangkah ke kanan dan ke kiri seperti menikmati alunan musik yang entah mengapa tiba-tiba terdengar.

Kau memperhatikan mereka sembari tersenyum. Mungkin pelukan si perempuan membuat lelaki itu luluh dan tak lama lagi mereka akan kembali menjadi sepasang kekasih yang semestinya, pikirmu. Langkah mereka semakin teratur selagi alunan musik terdengar semakin menyayat, dan tiba-tiba kau yakin sepasang kekasih itu memejamkan mata dan menemukan kedamaian. Lalu kau pun tersadar, mengapa mereka tidak menyadari kehadiranmu yang telah lama berdiri di bawah lampu jalan ini. Ah, kini itu tak lagi menjadi persoalan, pikirmu.

Kau hendak beranjak, ketika kau dikejutkan dengan alunan musik yang tiba-tiba berhenti. Kau pun berhenti dan bertanya-tanya. Lalu, kau kembali melihat jendela itu. Kemudian alunan musik kembali kau dengar, namun bukan lagi sayatan biola dan cello serta contre bass yang kau dengar sebelumnya. Melainkan, tabuhan berat drum-bass serta gitar bass yang dipukul dan petik dengan tempo lambat serta tak terlalu kencang namun mampu membuat jantungmu berdebar.

Kini kau pun melihatnya, tubuh lelaki itu tak lagi dipeluk dengan erat dari belakang. Melainkan mereka saling berhadapan dan berpandangan mata. Lelaki itu menunjukkan kemuraman yang entah sangat terlihat di matamu. Dan mata keduanya, entah mengapa kau tahu bahwa kedua mata tersebut saling bertukar beban dan masing-masing tidak sanggup menanggung beban itu. Dengan perlahan, tangan lelaki itu bergerak dan menggenggam  bahu si perempuan dengan erat. Ah, kau merasakannya, genggaman lelaki itu seperti menjalar pula pada bahumu, keras dan panas. Sehingga membuatmu semakin berdebar dan bertanya, mengapa seketika suasana tampak menjadi menegangkan?

Lalu, hujan pun semakin deras. Diikuti deru angin bercampur air yang berembus kencang dari sebelah kiri tubuhmu sehingga membuat mantelmu basah. Payung ditanganmu semakin erat kau genggam, jika saja air tak membasahi telapak tanganmu kau pasti dapat merasakan keringat mengalir di sana. Dan petir serta guntur datang saling bersahutan, membuat lingkungan di sekitarmu menjadi terang untuk sesekali. Dentuman guntur yang menggelegar membuat suasana semakin mencekam, memperburuk suara-suara menegangkan yang terdengar sebelumnya. Kau melihat sekeliling dan menyadari bahwa kau seperti benar-benar sendirian. Tidak ada lagi dua kucing yang berlari menyeberangi genangan air dan mengejar-ngejar tikus, atau mobil taxi yang lewat dan menghadiahkanmu cipratan air. Ah, tiba-tiba saja kau merindukan itu semua.

Lelaki itu kini memeluk tubuh si perempuan. Kau kembali lekat melihat adegan di balik tirai tersebut. Lelaki itu tampak sangat erat memeluk tubuh kekasihnya, namun perempuan tersebut seperti enggan membalas pelukan darinya. Walau akhirnya perempuan itu membalas pelukannya pula dan membenamkan wajahnya di dada lelaki itu. Kau mengetahuinya sebab memperhatikan lengan perempuan tersebut yang tampak ragu untuk mengangkat dan ikut memeluk tubuh lelaki itu. Sementara seperti diiringi instrumen yang mengerikan, ditambah alunan sayatan angin dan guntur yang menggelegar. Lelaki itu, mendekatkan mulutnya ke telinga perempuan tersebut dan membisikan sesuatu. Kau tidak dapat mendengarnya karena suara-suara lain yang lebih keras dan berdentum-dentum.

Lampu jalan tempat kau berdiri di bawahnya tiba-tiba padam dan membuat sekililingmu sedikit gelap, ketika dengan perlahan sebelah lengan lelaki itu melepas pelukan dari tubuh si perempuan dan menjulur menggapai tuas laci pada meja yang ada di belakangnya. Jantungmu berdebar, menebak-nebak apa yang hendak diambilnya. Kau tidak lagi beranggapan bahwa kejadiannya akan sama dengan apa yang terjadi dengan orang tuamu. Ada sesuatu yang tersembunyi dari sepasang kekasih ini, pikirmu. Kau tidak tahu apa-apa, sebab semuanya begitu misteri, tak ada suara yang kau dengar dari dalam sana selain suara tangisan dan teriakan serta barang-barang pecah. Juga tak ada yang bisa kau lihat di jendela tersebut selain dua siluet yang bergerak saling mengisi.

Namun, tangan lelaki itu masih berada di dalam laci, setelah tadi kau melihatnya menarik laci tersebut dengan sangat perlahan. Tidak berapa lama tangan itu keluar dengan sebuah benda dalam genggamannya. Tentu kau mengetahui bahwa yang kini dalam genggaman tangan itu adalah sebuah pistol. Kau panik, tiba-tiba jantungmu berdetak kencang dan suara bass-drum serta gitar-bass yang sedari tadi kau dengar dalam telingamu menaikkan tempo dan semakin bendentum. Ingin rasanya kau berlari ke sana dan menghentikan apa pun yang akan terjadi. Namun, tentu saja lelaki itu tidak mempedulikan apa yang kini menjadi keresahan hatimu. Ia membawa pistol itu ke belakang punggung perempuan yang sedang ia peluk. Menempelkan besi pistol itu ke tubuhnya, seolah ingin mengakrabkan mereka.

Dan bagaimanapun kau tidak dapat menahan pekikanmu yang cukup keras ketika lelakiitu melepaskan pelukannya dan menatap mata si perempuan dengan dalam. Payung yang kau genggam jatuh ke tanah dan terbang ke ujung jalan ketika tadi kau memekik. Seketika tubuhmu basah dan rambutmu sedikit berkibar karena angin yang berembus terlalu kencang. Matamu masih lekat melihat lelaki itu yang kini sedang memutar tubuh si perempuan menghadap ke arah jendela. Dan kau tak mengerti mengapa perempuan itu tidak lari atau menjerit padahal ia sudah tahu bahwa lelaki di hadapannya menggenggam sebuah pistol, yang kau sangat yakini akan digunakan tidak lain untuk menghacurkan batok kepalanya. Tak mungkin, pikirmu. Bahwa perempuan itu telah hilang kewarasan dan berserah diri kepada kematian.

Dan kau pun menjerit, melolong, meminta tolong kepada siapapun yang ada di sana serta berteriak menyuruh si perempuan itu lari dan memaki tiada henti kepada lelaki itu. Ketika lelaki itu menempelkan moncong pistolnya ke arah kepala perempuan tersebut. Namun,  tidak ada yang mendengar semua lolonganmu. Mungkin, karena suara-suara yang kau dengar di dalam telingamu, yang kini bertambah ramai dengan suara biola dan cello yang membentuk sebuah irama menyayat-nyayat. Membuat dadamu naik-turun tak karuan.

Sejenak kau terkejut dan menahan napas ketika kau mendengar suara pecahan kaca yang keras dan seonggok tubuh melayang-layang dengan gaun putih berenda-renda berkibar melawan angin, hingga kemudian tubuh itu berdebum menghamtam aspal. Kau tak melewatkannya sedikitpun tadi, ketika lelaki itu mendorong tubuh perempuan itu dengan kuat ke arah jendela hingga pecah dan membuat tubuh perempuan itu terbang. Kau hanya diam dan entah mengapa tak bisa melakukan apa pun. Tubuh perempuan itu tengkurap dengan wajah menghadap ke arahmu, matanya yang terbuka lebar lekat menatap dirimu. Dan sejenak semua musik berhenti bersuara, ketika darah segar mengalir di bawah tubuhnya, luntur dihantam guyuran hujan.

Kau melihat mata itu dengan tatapan ngeri. Lalu, samar-samar kau mendengar ketukan sepatu dari tempat perempuan itu terjatuh. Kau mendongak dan melihat sehelai tirai berkibar-kibar di tiup angin dan sebuah siluet lelaki yang semakin besar. Lelaki itu rupanya mendekati jendela dan sesaat kemudian menyibakkan tirai itu. Kau begitu terkejut, ketika kau menyadari bahwa kau mengenal lelaki yang kini sedang berdiri di balik jendela itu.

“Alex?” ucapmu.

Alex sama sekali tidak melihat ke arahmu. Melainkan kepada perempuan yang kini rebah di bawahnya dengan darah bersimbah di sekelilingnya. Kemudian dengan tatapan dan ketenangan yang mengerikan dia menodongkan pistol dan menarik pelatuknya berulang-ulang hingga pelurunya habis. Membuat tubuh perempuan itu bergetar-getar dan naik-turun tak karuan. Kau tentu saja berteriak sejadi-jadinya dan mengutuk apa yang telah dilakukan oleh orang yang beberapa minggu lalu kau temui. Sementara kau melihat mata perempuan yang sedari tadi menatapmu itu kini kosong dan tak bernyawa, lalu Alex perlahan mundur dan kembali menghilang di balik tirai.

Musik yang menyayat-nyayat itu kembali terdengar, membuat suasana hatimu semakin haru. Kau tidak mengerti masalah sebesar apa yang menimpa mereka hingga harus berakhir dengan pertumpahan darah. Kau pun tidak lagi dapat menahan air matamu, air mata itu mengalir begitu saja di pipimu dan bercampur dengan air hujan. Kau melihat ke arah jendela itu lagi, tirai tetap menutup dan berkibar-kibar tanpa kau menemukan Alex di baliknya.

Tiba-tiba semua lampu padam dan kau tak dapat melihat apa pun. Namun entah mengapa kau mendengar suara tepuk tangan yang membahana di sekitarmu juga suara siulan yang sangat riuh, seolah kau sedang berada di tengah orang banyak. Ramai sekali di sini, pikirmu. Kau tidak mengerti apa yang terjadi, hingga sebuah cahaya tiba-tiba menyinari apartemen tua itu dan seorang lelaki keluar dari dalamnya, berjalan menghampirimu. Kau langsung tahu bahwa itu adalah Alex, sebab rambutnya yang semerah senja tidak bisa begitu saja kau abaikan. Kau menatapnya dengan lekat ketika ia telah berada tepat di hadapanmu, sejenak perasaan takut yang tak dapat dibayangkan menjalari tubuhmu, membuatmu ciut dihadapannya. Namun lelaki itu malah tersenyum dan ucapannya membuatmu semakin bergidik. “Bagaimana? Kau siap untuk bermain peran?”

011017


Wahyu RusnantoWahyu Rusnanto adalah seorang penulis kelahiran Cirebon, 10 Februari 1995. Saat ini penulis sedang menempuh pendidikan tinggi di Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia Untirta, Banten. Hobinya adalah melamun dan menonton pertunjukan teater. Ia bergiat di beberapa komunitas kepenulisan yang ada di dalam maupun di luar kampus, seperti Belistra (Bengkel Menulis dan Sastra), Kubah Budaya, Laboratorium Banten Girang, Pedas (Penulis dan sastra), dan Komunitas Penulis Ungaran. Pernah beberapa kali menjuarai perlombaan cerpen. Penulis bisa dihubungi di akun Instagramnya @wahyu_rusnanto.


Rubrik ini diasuh oleh Muhammad Rois Rinaldi.

Editor : Esih Yuliasari

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar