Resensi

Maskulinitas Tokoh Perempuan dalam Buku ‘Dilatasi Waktu’

Judul Buku   : Dilatasi Waktu
Jenis Buku    : Fiksi/Kumpulan Cerpen
Penulis          : Deby Rosselinni
Penerbit        : Gaksa Enterprise
Halaman       : 137 hlm
Tahun            : 2019
ISBN               : –

biem.co — Menulis memang bukan pekerjaan yang mudah, sekalipun menulis buruk. Akan tetapi, pertumbuhan penulis kian pesat seiring bertambahnya platform digital yang memang menyediakan ruang untuk memublikasikan karya kita, sehingga bisa diakses oleh banyak orang. Media sosial satu di antaranya.

Namun meski begitu, banyak penulis yang masih mau “bersusah-susah” menerbitkan karyanya dalam bentuk buku. Ibarat musisi, belum afdol rasanya bila belum merilis album fisik—sekalipun menjamurnya aplikasi streaming—barangkali begitu juga penulis; termasuk Deby Rosselinni, penulis muda potensial yang lahir dan besar di Banten.

Namun, ini bukanlah buku pertamanya. Ia menerbitkan buku sejak usianya masih belia hingga kini telah menjadi seorang istri yang juga mahasiswi. Artinya, ia tak sedang keren-kerenan atau ikut-ikutan tren. Ia menulis dan menerbitkan buku atas dasar kecintaannya pada dunia menulis, meskipun, seperti yang ia sampaikan di kata pengantar bukunya, bahwa ia pernah vakum menulis selama kurang lebih lima tahun. (Hlm. Viii)

Kumpulan cerpen Dilatasi Waktu ini semacam upayanya untuk merawat kembali benih-benih cintanya di dunia kepenulisan. Bisa pula dijadikan tonggak untuk melahirkan karya-karya berikutnya.

Cerpen pertama berjudul Sebab Aku Tuli, ditulis tahun 2015. Berkisah tentang seorang anak yang lahir dalam keluarga yang kurang harmonis. Orang tuanya gemar bertengkar dan meributkan apa pun, sehingga si anak menjadi korban. Gaya penulisan dalam cerpen ini terlalu dipuitis-puitiskan. Tentu saja itu bagus, tetapi menjadi kebalikan ketika penulis gagal dalam urusan menyusun kalimat.

Akhirnya, narasi menjadi nanggung dan tidak meraih respect pembaca, sebab ketika pembaca hendak masuk ke perasaan si tokoh, pembaca direpotkan dengan narasi dan susunan kalimat yang belum sempurna, sehingga sedikit terganggu.

Berbeda dengan cerpen pertama, cerpen Idiot justru seolah tak peduli dengan apa pun. Bahkan judul cerpennya itu sendiri. Penulis seolah hendak melawan segala kaidah dan aturan kepenulisan. Narasinya cepat, gesit, dan intensitasnya terus naik hingga bagian akhir cerita.

Pembaca akan dibuat ngos-ngosan sewaktu membacanya dan barangkali memang itu yang hendak penulis capai di cerpen keduanya ini. Karena memang berkisah tentang tokoh perempuan yang frustrasi dan merasa jengkel dengan buku diary berwarna hijau yang selalu dibawanya ke mana-mana itu, hingga akhirnya ia membakar buku tersebut.

Lega sekali. Aku telah menyelesaikan semua hal yang harus kulakukan. Aku sudah berhasil mengantarkan buku itu kepada nasib terburuknya.” (Hlm. 16)

Di cerpen Melati dan Lembaran Historis, saya malah curiga kalau ini esai, bukan cerpen. Sejak tiga lembar pertama, cerpen ini berisi argumen-argumen penulis yang bermonolog sendirian. Tapi di lembar berikutnya ternyata mulai memasukkan tokoh, percakapan, dialog, dan “cerita”. Hanya saja, cerpen ini bentuknya semacam kisah para bijak, yang tokoh-tokohnya adalah benda dan makhluk hidup selain manusia.

Deby banyak menghadirkan tokoh perempuan yang tidak cengeng, dalam arti tidak suka merengek ke orang lain selain pada dirinya sendiri. Pergulatan setiap tokoh dengan kediriannya begitu kuat dan selalu menghadapi masalah sendirian tanpa mengandalkan laki-laki, bahkan kebanyakan laki-laki diposisikan sebagai tokoh antagonis atau dibenci oleh si tokoh perempuan.

Simpulan itu bisa ditemukan dalam cerpen Dilatasi Waktu yang dijadikan judul utama buku ini. Dibanding cerpen yang lain, cerpen ini salah satu yang rapi secara alur. Deby menyusunnya dengan ketegangan paling dasar hingga memuncak di akhir cerita. Pembaca dibawa peduli dengan perasaan  Lani, tokoh perempuan, dan dibuat penasaran dengan situasi yang ia alami.

Kemuakkannya terhadap sosok laki-laki (dalam cerita ini ayahnya yang pergi meninggalkan keluarga di masa lalunya), dibuat semakin kuat dengan hadirnya tokoh kakek-kakek yang duduk di hadapannya, sewaktu dalam angkot. Kelakuan si kakek itu meyakinkan Lani kalau semua laki-laki adalah sumber bahaya dan sumber masalah. (Hlm. 42)

Nyaris dari 15 cerpen ini seperti bicara tentang keberdayaan perempuan dalam mengendalikan situasi dan peristiwa, yang ruang lingkupnya soal keluarga, pertemanan, dan hubungan percintaan antar siswa.

Cerpen Musim Rindu lebih baik dibanding semuanya. Ia lengkap secara struktur pembangun “cerpen” dan juga barangkali akan digemari pembaca kebanyakan. Hanya, lagi-lagi ditemukan upaya “menyimpulkan” si penulis dari setiap cerpen yang ditulisnya.

Tak masalah memang, itu pilihan, tapi alangkah baiknya semua ditulis seolah mengalir dan tak ada tendensi harus “memunculkan quote” dan seolah mesti ada “rangkuman” isi cerita yang kemudian terkesan dipaksakan. Baiknya, jangan kunci imajinasi pembaca dengan kalimat-kalimat petuah yang seringkali justru pembaca hindari.

Berlawanan dengan cerpen Musim Rindu, dalam cerpen Neshamah ada kesan yang begitu tipis antara fiksi dan realitas. Pembaca, atau saya seperti menemukan kehidupan penulisnya sendiri, bisa jadi karena saya mengenal penulisnya. Namun pada dasarnya, setiap karya, memang tak akan pernah lepas dan lahir dari kehidupan sesungguhnya si pengkarya, dalam hal ini penulis.

Entah berapa persen yang memengaruhi isi ceritanya. Deby seperti cuek saja, dan menulis sesuka hatinya, walau kemudian kisahnya ini beririsan dengan kehidupannya. Dan cerpen yang baik, salah satunya mampu membuat pembaca yakin kalau kisah itu memang benar adanya.

Dari banyaknya tokoh perempuan yang dijdikan sentral, akhirnya saya menemukan tokoh utama laki-laki dalam cerpen Banten dan Gadis Mistis. Judulnya cukup menggelitik, bisa jadi karena pengertian mistis antara saya dan penulis berbeda. Karena sebetulnya tokoh gadis yang saya temukan dalam cerpen ini bukan mistis, tetapi lebih ke aneh.

Saya berharap cukup besar pada tokoh laki-laki yang dihadirkan. Sebab, beberapa cerpen bernarator perempuan cukup maskulin. Kira-kira bila tokoh laki-laki yang menjadi juru cerita akankah berbeda dengan gaya tutur tokoh perempuan?

Tapi sayangnya, barangkali karena saya mengenal penulisnya, jadi sulit membedakan suara si narator. Narasi dan pilihan diksinya masih terasa kuat dan condong ke suara “perempuan”-nya. Riset asal-asalan saya berkata kalau penulis laki-laki lebih jago membuat tokoh perempuan, dibanding penulis perempuan yang menghadirkan tokoh laki-laki di karyanya.

 Lebih jago di sini merujuk pada seberapa meyakinkan penulis laki-laki/perempuan dalam menghadirkan sosok lawan jenisnya perempuan/laki-laki. Tentu ini tak sepenuhnya bisa dijadikan acuan, tapi boleh saja dijadikan stimulus dan tantangan tersendiri untuk Deby bila ingin menulis cerpen dengan narator laki-laki nantinya.

Dalam cerpen Cantik dan Ada Kupu-Kupu Hitam dalam Dadaku diceritakan dengan setting kiwari. Menggunakan pendekatan tokoh yang kekinian, aktual, dan memang banyak remaja generasi y (milenial) dan generasi z alami. Soal media sosial, pengakuan khalayak, eksistensi diri, penggila K-Pop, dan banyak lagi. Deby cukup lihai memotret peristiwa di sekelilingnya. Ia mampu menemukan apa yang menarik untuk kemudian dituliskan dalam bentuk cerpen.

Segala sesuatu memang membutuhkan proses. Dan proses pengkaryaan yang baik tak pernah bisa didapat dengan mudah. Dengan membaca buku karya Deby Rosselinni ini, pembaca akan merasakan proses penempaan dari setiap karya yang Deby tulis. Karena cerpen-cerpennya lahir tidak dalam satu waktu. Mulai dari rentang tahun 2015-2019. Yang jelas, saya ingin mengucapkan selamat atas terbit bukunya ini dan selamat datang kembali Deby di dunia kepenulisan yang makin absurd ini.[]

Cilegon, 27 Desember 2019


Ade Ubaidil, penulis dan pengelola Rumah Baca Garuda.

Editor : Happy Hawra

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *