KabarTerkini

Membedah Maraknya Berita Hoax Lewat Diskusi ‘Teatrikal Hoax Negeri Kita’

KOTA SERANG, biem.co — Berangkat dari kegelisahan dan gairah yang sama tentang kemandekan dan kemuraman dalam perkembangan literasi, diskusi, kajian dan maraknya hoax, Gacon.co menggelar Drinking for Thinking yang bertemakan ‘Teatrikal Hoax Negeri Kita’. Acara ini bertempat di Cafe Kopi 113, Brimob, Kota Serang, Minggu (21/10).

“Tujuan dari diskusi ini tak lain untuk membedah kemajuan teknologi informasi yang makin canggih namun tidak dibarengi dengan kecanggihan berpikir masyarakat Indonesia. Akhirnya hoax juga tumbuh subur dan tidak bisa dibendung,” ungkap Rizki Baidullah, crew Gacon.co sekaligus penyelenggara diskusi.

Hadir sebagai narasumber diskusi, yakni Jalaludin Ega (Pimred biem.co) dan Wahyu Arya (CEO bantennews.co.id). Hadir pula CEO biem.co, Irvan Hq, Pimpinan Redaksi titiknol.co.id, Edo Dwi Lestanto, Anggota Pusat Litbang dan Advokasi Dewan Kesenian Banten,  Muhammad Alfaris, para pegiat literasi, seniman dan mahasiswa.

Menurut Ega, dalam diskusi di manapun, meski terkuak dengan tegas jika sebagian orang dominan mengatakan bahwa peredaran hoax disebabkan karena rendahnya literasi, akan tetapi pada kasus ‘terdekat’ (red: kasus Ratna Sarumpaet) fakta berkata sebaliknya, dimana beberapa cendekia ikut-ikutan larut dalam penyebarannya.

“Itu berarti bahwa meski literasi dapat meningkatkan daya logis yang mampu menyaring fakta dan fiksi, namun logika sejatinya digerakkan oleh kehendak. Sementara algoritma untuk mengukur sebuah ‘kehendak’ adalah faktum atau kondisi faktualnya,” ungkapnya.

Ega mengatakan, hoax muncul sebagai bentuk distrust pada media mainstream. Namun dalam kasus politik, itu bisa tumbuh karena kekalahan politik formal. Sehingga, para penebar hoax mendapat celah dalam bentuk politik informal di media sosial.

Maka dari itu, untuk terhindar dari bahaya hoax, Ega memberikan tips sederhana yaitu dengan bersikap skeptis dan menganalisis kebenaran kabar yang beredar.

“Menurut saya, hoax bisa diantisipasi dengan bersikap skeptis, berperilaku etis, analisa yang logis, dan tentu saja budaya literasi yang dinamis,” jelasnya.

Hal senada juga disampaikan Wahyu Arya, CEO bantennews.co.id, masyarakat harus meningkatkan minat literasinya untuk bisa terhindar dari bahaya hoax dan harus menggali kebenaran berita yang beredar.

Check dan recheck kebenarannya, bijak-bijaklah mengonsumsi berita,” ungkap Wahyu.

Menurut Wahyu Arya, hoax akan lebih parah jika hadir pada momen politik.  “Seperti menurut riset Kementrian, dari 100% berita yang beredar, hanya 9% yang mengandung kebenaran, apalagi Jelang Pilpres 2019, berita hoax semakin meningkat tajam,” tukasnya.

Dikatakan CEO biem.coIrvan Hq, persoalan hoax kian mewabah lantaran arus informasi era sekarang bisa didapatkan dengan cepat setiap detiknya. Kita sebagai penerima informasi juga cenderung ‘kepo’ dan tidak memiliki keberanian untuk mengkonfirmasi setiap informasi yang diterima. Entah dibaca atau tidak, sekiranya informasi itu terasa baru, berpotensi viral, menimbulkan kecemasan dan kemarahan, kita malah langsung menyebarkannya karena ingin terlihat sebagai orang yang pertama tahu soal itu.

“Informasi yang masuk lewat Whatsapp misalnya, tulisannya begitu panjang, saya ngga yakin kita membacanya satu demi satu hingga selesai, paling judulnya saja kemudian selewat kit abaca dan langsung scroll ke bawah. Begitu ada ancaman dosa apabila tidak menyebarkannya, kita langsung forward ke teman-teman kita,” ujar Irvan memberikan ilustrasi.

Irvan Hq, CEO biem.co.

“Ketika koran begitu banyak yang terbit di setiap paginya, segmen berita hampir setiap waktu, bisa kita lihat di berbagai televisi dan tentu saja di ratusan media online, kualitas berita menjadi sangat menurun dan tidak terseleksi, dan hoax pun tumbuh bak jamur di musim hujan,” tandasnya.

“Tidak seperti dulu ketika belum ada internet, kalau mau baca berita itu harus nunggu dari loper koran setiap pagi. Ada Kompas, Pikiran Rakyat, dan lainnya. Ketemu berita lagi jam 9 malam di TVRI. Ada, sih, koran sore seperti Sinar Harapan, tapi rasanya terlalu mewah kalau sampai beli koran dua kali sehari. Keterbatasan arus informasi waktu itu paling tidak menjadi filter yang dapat menyeleksi kebenaran informasi yang disampaikan,” pungkasnya.

Dikatakan oleh Irvan Hq, satu-satunya jalan untuk menghentikan penyebaran Hoax ada pada diri kita sendiri. Jadilah filter yang baik dengan cara lebih banyak membaca dan mencari referensi untuk menganalisa setiap informasi yang masuk kepada kita, sehingga kita dapat memilah dan tidak ikut-ikutan menyebar berita hoax.  (IY/red)

Editor : Happy Hawra

Related Articles

Berikan Komentar