Resensi

Resensi: Novel “Mata Yang Enak Dipandang” Ahmad Tohari: Belajar Dari Manusia Pinggiran

Judul : Mata Yang Enak Dipandang
Penulis: Ahmad Tohari
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: cetakan III, Januari 2019
Tebal: 216 halaman
ISBN: 978-602-03005-9-7

Belajar Dari Manusia Pinggiran
Oleh : Ahmad Sugeng Riady

biem.co — Manusia sebagai makhluk sempurna memang niscaya adanya. Namun manusia dari cerita yang beredar di masyarakat, tentu memiliki poin unik tersendiri untuk disimak, ditulis, dan dibaca lebih mendalam. Barangkali ada satu dua hikmah yang bisa diteladani untuk bekal hidup di masa mendatang.

Ya meskipun pelajaran yang diambil masih saja berkutat pada manusia-manusia hebat, kuat, dan sukses di masanya. Itu tidak jadi persoalan. Hanya saja rasanya kurang lengkap jika manusia yang dianggap pinggiran belum dilibatkan. Masa sih, petani, hansip, buruh, pemulung, bahkan pelacur sekalipun tidak memiliki cerita yang bisa diambil hikmahnya? Saya rasa masih tetap ada dan bisa. Dasarnya sederhana, Maha Pencipta tidak mungkin menciptakan makhluk yang tidak ada manfaatnya.

Cerita-cerita pendek yang ditulis oleh Ahmad Tohari misalnya, bisa digunakan sebagai representasi kehidupan pelik dari manusia pinggiran. Salah satunya terangkum dalam karya beliau dengan tajuk ‘Mata Yang Enak Dipandang’. Di dalam buku ini, cerita-cerita manusia pinggiran yang luput dari kejelian mata manusia ditampilkan dengan narasi sederhana. Terlepas dari nyata dan tidaknya cerita, misinya menyadarkan  pembaca bahwa hikmah juga bisa dipanen dari manusia pinggiran saya rasa berhasil.

Buku ini memuat lima belas cerita pendek. Tiga belas diantaranya memakai aktor utama manusia pinggiran dengan segala pernak-perniknya. Sedangkan dua judul lain, ‘Salam Penyangga Dari Langit’ dan ‘Bulan Kuning Sudah Tenggelam’ menggunakan aktor dengan status keluarga berada. Namun tetap saja, ceritanya dibalut dengan momen-momen nelangsa, mistis, dan juga sederhana.

Topik mengenai beban kemlaratan juga bisa ditemui di buku ini. ‘Mata Yang Enak Dipandang’, ‘Daruan’, ‘Sayur Bleketupuk’, ‘Dawir, Turah, dan Totol’, serta ‘Harta Gantungan’ merupakan judul tulisan yang memuat topik tersebut. Secara umum, kelima cerita ini mengulas asa dari manusia pinggiran yang belum dikabulkan. Tapi ikhtiar harus tetap ditunaikan sebagai wujud ejawantah manusia hidup di jagat raya.

Memang kemlaratan bukan satu-satunya penentu manusia bisa melanjutkan hidup atau tidak. Tapi harus diakui bahwa kesuksesan manusia hampir-hampir selalu diukur dari kepemilikan harta benda. Cerita pendek Daruan misalnya. Novelis baru yang ingin menjemput rezeki setelah karyanya berhasil diterbitkan oleh Muji, sahabatnya sejak SMA. Dimodali dari menjual cincin istrinya, Daruan berangkat untuk menagih honor sebagai penulis novel. Sesampainya di rumah Muji, Daruan hanya memperoleh harapan agar novelnya laku keras (hlm. 39-49). Cerita ini membangunkan manusia bahwa tiap rencana tidak melulu berjalan mulus. Namun ikhtiar tidak boleh ditinggalkan, perkara berhasil atau tidak, Maha Pemberi Rezeki yang akan menjawab.

Di halaman lain, pembaca akan menemukan cerita pendek tentang kehidupan perempuan sebagai pelacur. Judul ‘Bila Jebris Ada di Rumah Kami’ dan ‘Rusmi Ingin Pulang’ mewakili topik kepelacuran. Status yang kerap dipandang sebelah mata oleh manusia lainnya. Keberadaannya sering dianggap sebagai aib.

Topik yang sama juga ada di cerita pendek ‘Warung Penajem’. Mungkin sekarang masih ada beberapa pedagang yang menggunakan penglaris untuk mengundang lebih banyak pengunjung. Penglaris ini mengharuskan adanya pemenuhan syarat atau penajem. Salah satu syaratnya yakni tubuh pasiennya sendiri. Seperti yang dilakukan Jum, istri Kartawi. Meskipun dengan dalih perbaikan ekonomi dan tanpa ada rasa saling suka ketika bermain, tetap saja Kartawi sulit untuk menerima kenyataan (hlm. 51-61).

Keberadaan pelacur seringkali mendapat cemoohan, penggunjingan, pengucilan, sampai-sampai pengusiran seolah-olah halal dialamatkan pada seorang pelacur. Padahal siapa tahu, ada satu dua ibadah ringannya yang lebih berkesan kepada Tuhan. Kebanyakan manusia hanya pandai menilai luar. Kedalaman manusia dan amalnya, meski pelacur sekalipun, buktinya tetap memperoleh rezeki, kasih sayang, bahkan keselamatan dunia dan akhirat, dan itu sudah menjadi hak prerogatif Maha Penguasa.

Berbeda dengan cerita pendek ‘Akhirnya Karsim Menyeberang Jalan’, dan ‘Pemandangan Perut’. Kedua cerita pendek ini mengulas dunia yang sulit dijangkau manusia dengan panca inderanya, kecuali manusia yang memang diberi kelebihan melihat oleh-Nya. Seperti Sardupi yang tertawa tiap kali melihat perut manusia lain. Bagi Sardupi, perut manusia punya pandangan bermacam-macam. Namun perut dengan pemandangan terbaik hanya dimiliki anak-anak (hlm. 143-153).

Sebab anak-anak memandang apapun itu dengan tatapan kasih sayang. Buktinya bertengkar kemudian bermain tanpa menyisakan dendam. Begitu pun dengan apa yang dikonsumsi, kira-kira belum terkontaminasi kepentingan. Berbeda dengan manusia dewasa dengan carut marut kehidupan. Terlalu banyak nutrisi kurang baik yang dikonsumsi sehingga berdampak pada laku sehari-hari.

Seperti Paman Doblo, satpam pengusaha kilang pengolah kayu yang sikapnya berubah menjadi culas. Padahal sebelumnya, sikap Paman Doblo selalu disanjung oleh warga sekitar karena kesigapannya berbuat baik. Namun karena nutrisi berupa perintah yang kurang baik, akhirnya berdampak pada perubahan laku dan statusnya di kampung (hlm. 63-73). Cerita ini bisa disimak ditajuk ‘Paman Doblo Merobek Layang-Layang’.

Seperti Paman Doblo, manusia harusnya mau menginsyafi segala perbuatan buruk. Hanya saja manusia keseringan luput untuk mengoreksi dan mengkritik dirinya sendiri. Ketika ketahuan buruk, tidak jarang pembelaan sebagai alat pembenaran dilancarkan. Bahkan tidak tanggung-tanggung, menuduh yang lain sebelum dirinya tertuduh boleh dilakukan, yang penting bukan dirinya.

Oleh karena itu, cerita pendek ‘Penipu Yang Keempat’, dan ‘Kang Sarpin Minta Dikebiri’ bisa menjadi rujukan manusia yang hendak menginsyafi keluputan. Memang hampir tiap saat manusia dikelilingi oleh dosa, tapi ampunan dan rahmat tidak kalah seringnya turun lantas diperuntukkan kepada manusia, kapanpun dan dimanapun tanpa pandang bulu. Bahkan siapapun yang di ujung hidupnya sempat bercita-cita menjadi wong bener bisa disebut sebagai orang baik (hlm. 85), kira-kira demikian.

Walapun cerita pendek di buku ini memuat hikmah dari manusia pinggiran, namun tetap saja ada kekurangannya. Salah satunya konflik yang dimunculkan dari tiap cerita terkesan sederhana. Pembaca tidak sampai berlarut untuk membayangkan konflik yang dipaparkan. Meski begitu, bahasa yang digunakan tidak terlalu puitis. Sehingga mudah untuk dipahami orang awam yang baru mengenal cerita pendek sekalipun. Pesan dari tiap cerita juga mudah tersampaikan kepada para pembaca. Terakhir, teringat pesan guru saya bahwa manusia ada, karena kemauannya berbagi. Berbagi apa? Terserah, selama itu ada manfaatnya untuk manusia dan semesta. Sekian.


Biodata Penulis:


Ahmad Sugeng Riady, Mahasiswa Aktif Sosiologi Agama, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan pegiat literasi di MJS Press.
Alamat Domisili : Asrama Masjid Jendral Sudirman Yogyakarta, Jl. Rajawali No. 10, Komplek Kolombo, Demangan Baru, Depok, Sleman, Yogyakarta.
Akun Sosial Media    
Facebook: Ahmad Sugeng Riady
Instagram: as.riady
Nomor Aktif : 0857-8603-9331

Editor : Irwan Yusdiansyah

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar